fbpx
Pasang iklan

Tidak hanya Social Distancing, Kita juga Perlu Menerapkan Technological Distancing

...

Jika seluruh dunia serentak menerapkan skema lockdown, praktis kita hanya butuh dua pekan untuk memenangkan perang tak kasat mata ini. Tapi, lockdown adalah pilihan dilematis, jika tidak absurd. Ibarat kata, “enak di elu ga enak di gue”.

Mengapa lockdown dunia jadi opsi yang nyaris mustahil? Karena dunia tidak bekerja di atas asas keadilan. Dunia ini menganut prinsip survival of the fittest. Mereka yang menimbun makanan tak perlu kuatir dengan lockdown. Kulkas penuh dengan apapun yang mereka ingin masak. Tapi, bagi lebih banyak orang, jangankan menimbun makanan, setiap hari adalah pertarungan mendapatkan sepiring makanan.

Faktanya, perang ini terlanjur kolosal, dimana prajurit-prajuri dilepas berdesakan, dengan peralatan tempur yang tak memadai. Sementara, para panglima perang masih mencari pola dan strategi yang efektif.

Dan Amerika. Meski terlihat kewalahan membendung serangan Corona, namun maneuver militernya di Timur Tengah menunjukkan bahwa dunia memang tak akan mampu membangun trust, saling percaya.  

Saat pemerintah Indonesia menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk menerjemahkan social distancing atau physical distancing, terlihat dengan jelas terjadinya miskoordinasi antar lini pemerintahan. Apakah PSBB efektif? Sepanjang dipatuhi tentu hasilnya sesuai harapan.

Padahal, seharusnya kita lebih beruntung, pandemi ini mewabah di saat perkembangan teknologi komunikasi mencapi level mutakhir. Semua orang tahu bahaya pandemi ini. Tiap hari orang-orang mengetahui berapa orang yang terpapar dan meregang nyawa. Tapi, masih banyak orang berkerumun, bebal.

Seharusnya kita lebih beruntung, era digital ini telah menghamparkan kepada kita bukti betapa rasionalitas adalah kunci hidup. Tapi, banyak orang yang tak begitu peduli. Mereka berpikir ritual-ritual agama bisa menyelamatkan mereka dari kejaran corona.  

Tentu saja, dalam perang ini, kita tidak ingin ada korban. Jika pun akhirnya harus ada nyawa yang melayang, mereka tidak boleh dimaknai sebagai ‘penebus manusia’. Yang mati tetap mati, dan tidak mewakili yang hidup. Kematian itu seharusnya meninggalkan pesan bagi yang hidup, tentang bagaimana cara agar tetap hidup menghadapi pandemi ini.

Jaga jarak adalah kunci utama untuk menghentikan laju pandemi ini. Dan seharusnya, tak perlu muncul kekuatiran berlebihan bahwa kita kehilangan kerumunan. Toh, selama ini kerumunan tak menjamin menjadi penguat ikatan sosial. Kerumunan dalam prakteknya justru rumah yang ramah bagi tumbuhnya tradisi barbarian. Kerumunan menyangkal eksistensi individu, sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.

Apakah ini jarak yang dicipta social distancing ini benar-benar memisahkan kita? Slavoj Zizek menyangkalnya. “Ketika saya harus menghindari mereka yang dekat dengan saya, justru saya merasakan lebih dekat lagi dengan mereka”, katanya.

‘Technological distancing’

Sayang sekali, untuk taat #stayathome warga kota masih harus menunggu surat edaran pemerintah bertandatangan disertai stempel basah. Dan kita tahu bersama, butuh berhari-hari surat resmi itu untuk sampai ke pihak RT, pemerintahan jenjang terbawah.

Nurdin Abdullah, Gubernur Sulsel, membuat perkiraan sekitar sepekan, waktu yang dibutuhkan untuk mensosialisasikan PSBB itu. Whaat…? Bukankah warga kota punya masing-masing tivi di rumah? Bukankah setiap rumah setidaknya punya satu unit handphone berotak android yang bisa digunakan untuk menangkap informasi dari aplikasi Whatsapp dan media sosial? Selebihnya, untuk mereka yang betul-betul masuk kategori kaum papa, biarkan itu menjadi tugas Satpol PP dan pasukan relawan untuk menyisir gang-gang dan kampung-kampung. 

Seharusnya, sejak Kota Makassar masuk kategori zona merah dan menempati urutan kelima nasional terdampak pandemi Corona, warga dengan segala informasi yang bisa diakses melalui smartphone bisa berinisiatif segera melakukan isolasi mandiri. Tapi, di hari-hari mawas itu, kedai kopi, mall dan jalanan masih dipadati kerumunan.

Di pekan pertama pemberlakuan PSBB, stasiun KRL Jakarta masih disesaki calon penumpang. Beberapa ruas jalan masih macet, dipadati kendaraan. Ada masjid yang jemaahnya masih ngotot melaksanakan shalat berjemaah. Seorang pria meregang nyawa saat shalat Jumat (17/4) di sebuah masjid di Bogor, membuat para Jemaah lainnya berhamburan meninggalkan masjid.

Said Iqbal, Ketua Konfederasi Sarekat Pekerja Indonesia (KSBI), bahkan tanpa rasa bersalah, mengajak buruh se-Indonesia untuk turun ke jalan, melakukan aksi demontrasi pada 30 April mendatang. Ia seharusnya menyadari, menciptakan kerumunan adalah memfasilitasi makanan empuk bagi penyebaran si virus.

Kita tidak hanya gagal menjalankan skema social distancing guna membendung penyebaran Covid-19. Perilaku bodoh kita juga menunjukkan sesuatu yang lebih parah; gagal mengambil manfaat dari teknologi yang seharusnya bisa membantu menyelamatkan nyawa dan memudahkan pekerjaan. Kita kehilangan kendali atas alat-alat canggih yang saban hari kita genggam.

Mungkin kita butuh ‘polisi India’ yang bawa pentungan agar tetap #dirumahsaja. Karena, kita masih lebih patuh pada suara-suara yang keluar dari TOA daripada informasi yang bisa diakses setiap saat di gawai-gawai yang harganya jutaan itu…

Gambar: The Jakarta Post

Beri tanggapan