fbpx
Pasang iklan

Tarif 80 Juta, Harga untuk ‘Jurnalis Lalat’

Gema – Saya masih kelas 3 atau 4 di Sekolah Dasar, setiap hari sudah membuka koran harian Pedoman Rakyat (PR) terbitan Makassar.  Saya senang membaca serial komik yang gambar-gambarnya tak lazim, diapit kolom-kolom iklan pasta gigi atau sabun mandi. Entah sejak kapan, ibu saya yang seorang guru SD rutin membeli PR.

Sebagai koran satu-satunya yang beredar di kampung saat itu, praktis PR menguasai pasar informasi. Setiap instansi, mulai tingkat lurah hingga Sekda, berlangganan PR. Pegawai kantoran yang tak seberapa dan terutama guru, umumnya membeli PR. Apalagi, karena mereka pulang kerja jam 1 siang, jadi punya banyak waktu untuk menghabiskan koran yang memberitakan peristiwa 2 atau 3 hari sebelumnya.

Dulu, di kampung, koran menjadi semacam identitas sosial yang mencitrakan seorang sebagai sosok terpelajar karena melek informasi dan juga dihormati karena itu. Di kampung, guru memiliki kelas sosial sendiri, mereka dihargai bukan hanya karena mereka mendidik anak-anak di kampung, tapi umumnya guru juga memiliki wawasan luas. Karenanya, guru kerap dimintai pendapat tentang semua hal. Mungkin itu menjadi salah satu alasan, guru-guru di kampung berlangganan koran.

Tampaknya mereka menyadari, informasi bukan hanya penting, ia menjadi kekayaan tak ternilai. Tapi itu dulu, sebelum banalitas informasi menyerang kewarasan, atas nama kebebasan, atau untuk sesuatu yang bernilai universal, uang dan uang. 

Menutup mata dan inisial

Satu lagi kolom yang juga menarik perhatian saya, yakni rubrik kriminal. Berita pencurian, pemerkosaan, perkelahian, pencopetan, dan kejahatan lainnya hampir selalu menampilkan wajah pelaku. Saya selalu iseng menerka inisial nama yang ditulis singkat itu. Atau mengamati wajah-wajah pendosa.

Tapi, wajah pelaku-pelaku kejahatan tidak ditampilkan secara penuh, bagian mata selalu ditutup dengan garis tebal hitam, itu cukup untuk menyamarkan identitas pelaku. Pedoman Rakyat bukan hanya punya komitmen ‘menutup mata’ pelaku, namun mereka juga menjaga narasi untuk tidak ikut menghakimi. Nama-nama pelaku hanya ditulis inisial, tak pernah ditulis dengan sebenarnya. Pelaku kejahatan tak pernah ditulis dengan nama lengkap.  

Menutup mata dan menuliskan inisial pelaku kejahatan, mungkin membuat pembaca penasaran. Tapi, cara itu membuat fakta-fakta yang tersaji tetap memiliki jarak dengan subyek pembaca, membuat mereka (pembaca) tak terpancing untuk ikut menghakimi ataupun terhakimi.

‘Jurnalisme lalat’  

Dulu, akses informasi sangat terbatas. Selain PR untuk koran, TVRI adalah satu-satunya siaran yang bisa disiarkan televisi-televisi di kampung. Informasi yang diberitakan memang kerap membosankan, namun tidak vulgar. Berita yang sampai di hadapan pembaca adalah hasil olahan jurnalistik yang sudah melewati meja redaksi, setelah didebat dan diuji, bukan hanya mengukur keakuratannya, namun juga tentang bagaimana dampaknya. Mereka menyebutnya etika jurnalistik.

Hari-hari ini kita menyaksikan media massa, terutama online, tumbuh melebihi kemampuan sebuah bangkai tikus mendatangkan ribuan lalat. Sayangnya, narasi-narasi yang ditelurkannya lebih banyak berisi ‘kotoran’ dan ‘bau busuk,’ alih-alih memberi pencerahan.

‘Jurnalis-jurnalis lalat’ itu seperti tak tahan untuk ikut melahap apapun yang berbau busuk, menjadikannya lebih busuk dan makin membusuk sampai ke hadapan hidung pembaca. Seperti tariff prostitusi 80 juta rupiah yang sedang diviralkan oleh ‘lalat-lalat jurnalis’, menulis nama para pelaku lengkap dengan wajah-wajah tanpa sensor. Mereka lupa, pelaku yang ditulis namanya itu juga manusia, punya keluarga, punya tetangga, dan yang pasti dalam hidupnya tentu punya sisi lain, sisi yang mungkin tak akan pernah dipahami oleh siapapun.

Jurnalis postmo, begitulah sapaan para akademisi untuk menyebut era, dimana citra (gaya) lebih ditonjolkan ketimbang makna atau manfaat. “Images dominate narrative”, kata Harvey (1989). Lalat-lalat memang sepertinya sudah membuang jauh etika dalam menuliskan peristiwa. Mereka menulis bangkai beserta bau busuknya.

‘Pers lalat’ adalah mereka yang tak segan mengeksploitasi orang yang sedang terlilit kasus. Pelaku dijadikan obyek untuk dihabisi dari berbagai sisi tanpa ampun. Entah, dengan cara apa kita bisa melepaskan diri dari ancaman ‘jurnalis lalat’ ini? 

Dalam bentuk lain, kita pernah mengenal istilah ‘pers plat merah’, untuk menyebut jurnalis yang pro-pemerintah, yang hanya sibuk menulis ‘parfum’, semua berita baik tentang pemerintah. Tak jauh beda dengan ‘pers lalat’, hanya peran mereka yang berbeda, dan juga faktor kuasa.

Kejahatan-kejahatan selalu ada di setiap zaman. Tapi para ‘jurnalis lalat’ membuatnya lebih dekat, lebih nyata, atau dengan sedikit drama, ia telah menarik kita jauh ke dalam, sebagai pelaku atau korban.

Kategori Opini

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)