fbpx
Pasang iklan

‘Tampang Boyolali’ dan Politik Demagog

Apakah Prabowo telah mengira sebutan ‘tampang Boyolali’ bakal menuai reaksi? Jika iya, artinya pidato itu telah berhasil menjalankan fungsi framing demi sesuatu tentang Prabowo dan Pilpres 2019. Namun, jika tidak, tentu saja kemungkinan pilihan kata itu adalah bentuk kemasan humor. Namun, analogi yang mungkin ingin diarahkan sebagai candaan itu justru terdengar sebagai sebuah narasi rasis.

Di sinilah arti pentingnya visi dalam mengemas narasi kampanye, demi tidak terjebak dalam polarisasi isu yang picik. Narasi yang terdengar dari ‘tampang Boyolali’, ‘orang miskin yang ditolak masuk ke hotel mewah’, bisa jadi masih dipengaruhi oleh perang terhadap kapitalis. Bahwa ada kesenjangan antara si miskin dengan si kaya, dan itu memang nyata. Tapi, kemasan narasi yang justru ingin membenturkan dua kelompok eknomi itu, yang mungkin ingin dikesankan sebagai pembela rakyat miskin, lebih terdengar sebagai ujaran kebencian, alih-alih berpihak.

Lalu, jika Prabowo bermaksud menyinggung ketimpangan pembangunan, lalu membandingkan Jakarta dengan luar ibukogta, atau Jawa dengan luar Jawa, sesungguhnya isu itu sudah lama. Dan jika itu adalah rekomendasi dari tim, mereka harusnya menyadari, kubu Jokowi sudah melakukannya selama periode jabatan pertamanya. Dengan pembangunan infrastruktur membentang dari Aceh ke Papua, isu ketimpangan bagi Jokowi bukan lagi pada taraf narasi.

Gagasan dalam kampanye

Narasi kampanye memang tidak hanya dibaca secara eksplisit dalam pidato dan leaflet. Kampanye adalah terjemahan dari gagasan yang telah dirumuskan oleh seorang calon pemimpin, atau bersama tim pemenangannya. Gagasan adalah buah pikir yang menunjukkan siapa dan apa yang akan dilakukannya. Kekuatan gagasan tidak lahir dari sekadar berbeda (antitesa). Gagasan besar harus melampaui zaman, dimana ia berdiri. 

Prabowo mungkin pula tidak menyadari, gagasan besar tak harus berkonotasi megah nan spektakuler. Gagasan adalah refleksi sekaligus visi yang merangkum kondisi kekinian dan harapan-harapan yang ingin dituju. Keduanya tak terpisah. Karenanya, meniru ‘Make America Great Again’ menjadi Make Indonesia Great Again’, mungkin terdengar luar biasa, tapi isinya kosong.

Reaksi berlebihan

Jika Prabowo telah salah memilih kalimat, anggaplah itu bagian dari kesalahannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya, yang gagal melakukan elaborasi wacana. Meski sesungguhnya, sangat nyata setiap hari, kita menyaksikan demagog yang dipraktekkan para elit politik.  

Namun, sayangnya reaksi terhadap pidato itu justru ditunjukkan dengan aksi massa turun ke jalan. Situasi ini jelas tidak menunjukkan indikasi positif bagi pertumbuhan demokrasi. Para demagog menyasar masyarakat rentan tersulut emosinya. Kerumunan massa seperti menemukan ruang efektif untuk menunjukkan diri, bahwa mereka perlu didengar, mereka ingin dihormati, bahkan dalam lingkaran kerumunan itu bisa saja tumbuh subur benih kebencian.  

Hitler, demagog ulung

Dalam sejarah, dunia pernah dibuat menderita oleh demagog ulung dari Jerman, Hitler, seorang yang mengaku keturunan ras Arya. Kekalahan pada Perang Dunia Pertama, membuat Jerman tersungkur dan dirugikan oleh Perjanjian Versailles 1919.

Hitler lalu muncul, menyebut dirinya sebagai Fuhrer, sang pemimpin. Ia menyulut api kemarahan dan menebar kebencian. Pada situasi kalah, Jerman seperti jatuh terhina. Hitler lalu mengkampanyekan tentang bagaimana seharusnya sebuah bangsa, untuk tak terhinakan harus merebut kekuasaan. Partai NAZI yang dipimpinnya dengan cepat berhasil mendapatkan dukungan dan meraih kekuasaan. Hasilnya, berjuta-juta nyawa manusia melayang, untuk sebuah alasan yang tak bisa dihindari, nama yang terdengar Yahudi atau warna kulit.

Begitulah riwayat para demagog, menghasut dan menebar kebencian demi sebuah kekusaan, menyisir  masyarakat yang rentan terprovokasi.

Kampanye kerumunan  

Tampaknya, para elit belum sepenuhnya memiliki komitmen untuk keluar dari kelamnya kampanye negatif, mengocok emosi para pemilih. Pertemuan-pertemuan yang melibatkan kerumunan massa masih menjadi formula yang efektif untuk menggiring massa, meneriakkan yel-yel dukungan. Kerumunan dalam kondisi panas dengan mudah mendefinisikan kelompoknya sebagai ‘kebenaran’ dan melemparkan ‘kesalahan’ kepada kelompok lain.

Mungkin karena kampanye di hadapan kerumunan dianggap masih efektif untuk mengukur elektabilitas, para elit berebut simpati massa. Mereka mengabaikan sesuatu yang prinspil: gagasan.      

Pertengahan Agustus lalu, Litbang Kompas merilis hasil survei tentang alasan pemilih menentukan pilihannya untuk Pilpres. Kompas menemukan bahwa alasan pemilih dalam menentukan pilihan lebih dominan ditentukan oleh rekam jejak sebanyak 37,3 persen. Tertinggi kedua bagi pemilih dalam menentukan pilihan adalah pertimbangan agama: 17,4 persen. Kemapanan ekonomi juga menjadi alasan bagi pemilih dengan jumlah 15,9 persen. Sementara penampilan fisik hanya sekitar 0,8 persen.

Terlihat rekam jejak menduduki peringkat tertinggi yang menjadi alasan pemilih dalam menentukan pilihannya. Sementara, indikator agama, kemapanan ekonomi, juga penampilan fisik, adalah variabel lain yang persentasenya cukup besar. Ketiganya, memang paling laris untuk dijual di depan kerumunan.

Satu pemikiran pada “‘Tampang Boyolali’ dan Politik Demagog”

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)