fbpx
Pasang iklan

Tahun Politik, Tahunnya Para Bandit

GEMA – Semarak kontestasi politik telah mewarnai negara Indonesia yang diakui sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hukum secara de jure. Mayoritas penduduk yang dinilai telah matang untuk menilai baik buruknya segala sesuatu pun tak bisa dielakkan lagi, salah satu fakta yang bisa menjelaskan dengan gamblang bahwa negara Indonesia dengan rata-rata penduduk memiliki IQ berkisar 87, menurut laman iq.research.info.

Ketika berbicara kontestasi politik sama halnya berbicara strategi dan taktik yang orientasinya ialah memenangkan pertarungan. Layaknya dua orang yang bertarung tuk memenangkan sesuatu misalnya seorang pujaan hati. Dan jelasnya sesuatu yang ingin dimenangkan itu disertai dengan nilai-nilai moral dan etika agar tak menimbulkan kegaduhan apalagi permusuhan.

Memasuki tahun pertarungan politik praktis tentunya para kandidat pasangan calon telah menyiapkan berbagai amunisi tuk mencapai kemenangan. Basis pemenangan dalam struktur pemerintahan salah satunya menjadi contoh, hal tersebut telah menjadi rahasia umum dan pastinya telah banyak diketahui oleh khalayak ramai.

Selain basis tuk mempersiapkan kemenangan yang dibangun dalam struktur pemerintahan, adapula persiapan lain yang harus dipersiapkan oleh calon kandidat yaitu menyentuh akar rumput, mulai dari persiapan timses baik dalam tataran birokrasi paling bawah dalam pemerintahan maupun golongan-golongan yang tak terdeteksi dalam struktur pemerintahan.

Segala cara yang dilakukan itu merupakan upaya tuk membangun basis kemenangan guna memenangkan kompetisi politik praktis dan tentunya disertai oleh berbagai pertimbangan-pertimbangan yang matang, maksudnya ialah tak asal pilih untuk meminimalisir yang namanya kecolongan atau bahasa lainnya ialah ‘informasi strategi pemenangan yang telah disusun masif dan terstruktur tak bocor ke lawan politknya’.

Hal tersebut merupakan gambaran bahwa elit-elit politik hanya ingin mempertahankan kekuasaan dengan melakukan berbagai cara seperti yang dibicarakan oleh Machiavelli. Maka tak heran kongkalikong masif dan terstruktur masih marak terjadi belakangan ini, dan implikasi dari hal tersebut ialah perilaku-perilaku koruptif. Sebab yang dipilih untuk menjabat dalam struktur pemerintahan ialah orang-orang yang telah berjuang memenangkan salah satu kandidat pada pertarungan politik yang telah dilalui, atau kata lainnya ialah ‘bagi-bagi kue kekuasaan’.

Bukankah kita telah lama mencita-citakan negara yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme? Akankah cita-cita tersebut hanya akan berhenti pada cita-cita yang orientasinya jelas namun minim tuk teraktualisasikan dalam kehidupan bernegara.

Politisi atau negarawan?

Pernah suatu ketika dalam forum diskusi, ramai orang membicarakan mengenai perbedaan negarawan dan politisi, atau kebanyakan mana di negara ini ciri orang yang memang memiliki ketokohan sebagai negarawa atau politisi. Dan ditariklah benang merah dari pembicaraan tersebut yang akhirnya didapatkan suatu simpulan bahwa lebih banyak tokoh yang memiliki sifat politisi dibanding negarawan. Sebagai bukti bahwa orang-orang yang telah jelas tersandung kasus korupsi dan dibuktikan oleh putusan pengadilan tingkat pertama, masih enggan melepaskan jabatan politiknya dengan alasan proses hukum masih berjalan di pengadilan tingkat kedua maupun tingkat ketiga atau bahasa hukumnya upaya banding dan kasasi.

Hal tersebut merupakan gambaran bahwa elit-elit politik kita tak punya malu atau bahkan tak banyak belajar mengenai political ethics (etika politik) meski ia merupakan tokoh politik. Bukankah seorang pemimpin atau yang memiliki jabatan dalam struktural pemerintahan harusnya dapat memberi contoh tauladan bagi orang-orang yang dipimpinnya guna menciptakan keadaan baik yang mengandung nilai-nilai etis agar kesimpang-siuran dalam bernegara itu minim terjadi bahkan menghilang.

Ya benar, hanya ada beberapa tokoh-tokoh politik (oknum) yang demikian sifatnya. Kendati, masih ada juga tokoh elit politik yang rela melepas jabatan politiknya karena diduga telah melakukan tindakan yang jauh dari norma-norma moral dan etika yakni perilaku koruptif yang implikasinya menyebabkan kerugian negara dan menghambat kesejahteraan rakyat. Meski jumlahnya sedikit, tetapi ia dapat memberikan contoh bagi elit politik bahwa jabatan politik yang dipergunakan secara sembarangan atau sekedar ingin meraup keuntungan baiknya dilepaskan saja.

Adapula satu fenomena lain yang memberikan gambaran bahwa elit politik kita tak mampu mengaktualisasikan etika dalam berpolitik, yakni pencalonan kembali menjadi anggota dewan meski pernah tersandung kasus korupsi. Alibi mereka hampir semuanya sama yakni mengedapankan kata demokrasi, karena kita hidup dalam negara demokratik. Dan diperkuat pula oleh putusan lembaga hukum tertinggi dalam negara (Mahkamah Agung) yang memperbolehkan mantan narapidana korupsi untuk mencalonkan kembali menjadi anggota dewan.

Harapan kedepannya

Keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih merupakan suatu cita-cita yang jelas arahnya kemana, yakni untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, karena jika suatu pemerintahan telah menjalankan roda pemerintahan yang baik dan bersih maka akan menghadirkan pula kesejahteraan terhadap masyarakatnya.

Jelang pemilihan pemimpin negara dan anggota dewan (wakil rakyat) kita seharusnya mampu memilah kemudian memilih mana tokoh yang benar-benar ingin menghadirkan kesejahteraan terhadap rakyatnya, bukan sekedar tuk mempertahankan kekuasaannya. Olehnya itu, sebagai rakyat yang sadar dengan apa yang akan dirasakan selama masa kepemimpinan pemimpimpin atau wakil rakyat yang dipilihnya harus mampu memilih mana tokoh yang benar-benar ingin menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Pilah kemudian pilih, lalu rasakan implikasi terhadap tokoh yang telah terpilih atau termandatir untuk memimpin dan mewakili. Jangan sia-siakan tahun politik ini di kuasai oleh para bandit yang arah pikirannya hanya sekedar mempertahankan kekuasaan.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)