fbpx
Pasang iklan

Siswa Tinggal Kelas Adalah Kegagalan Sekolah

Mamat (nama samaran), anak sekolah menengah pertama (SMP) yang juga atlet karate dari Polman Sulawesi Barat, jadi viral. Namun bukan aksi bela diri yang membuatnya terkenal. Berita tentang ia yang tinggal kelas, justru di saat ia sudah membawa nama kampungnya berlaga di turnamen nasional.

Netizen terbelah menanggapi nasib si Mamat, yang harus tinggal kelas karena tertinggal pelajaran sekolah, demi menekuni latihan untuk ikut lomba. Tanggapan yang kontra, menganggap pihak sekolah tidak memberi apresiasi terhadap prestasi anak didiknya. Namun, ada juga netizen yang membela sekolah, demi menegakkan aturan.

Pihak sekolah sepertinya terlalu kaku menjalankan peraturan, yang akhirnya harus mengorbankan prestasi anak didiknya sendiri. Padahal, implementasi kurikulum 2013, menghendaki pelajar untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Aktif dalam organisasi, tentu tidak hanya sekadar menjadi ajang penyaluran bakat dan minat. Lebih dari itu, sekolah seharusnya menyediakan ruang lebih besar lagi demi mendorong anak untuk menemukan jalan hidupnya sendiri.

Siswa ‘tidak naik kelas’ adalah kegagalan sekolah

Ada beberapa aspek yang menjadi prasayarat pihak sekolah dalam menentukan naik atau tidaknya seorang siswa. Yang  berlaku umum misalnya faktor kehadiran dan nilai ulangan yang sesuai standar minimal.

Aspek lain yang juga menjadi pertimbangan adalah sikap. Siswa yang sering berulah di sekolah, lalu dicap nakal, pada akhirnya akan menjadi topik pembicaraan dalam dewan guru saat rapat penentuan kenaikan kelas.   

Factor-faktor di atas kenyataannya telah menghadirkan banyak siswa yang harus menghadapi kenyataan untuk tidak naik kelas. Pilihan sulit bagi mereka kalau harus tetap bersekolah. Berada di kelas yang sama sementara teman sebaya sudah naik kelas atau lulus tentu menjadi benan psikologis yang harus ditanggungnya.   

Padahal mereka, anak-anak yang unik itu baru belajar. Mereka seharusnya tumbuh dalam iklim yang terus mendorong mereka untuk mengoptimalkan apa yang mereka ingin capai. Bahkan termasuk pengetahuan apa yang seharusnya mereka dalami untuk mencapai cita-citanya.

Anak yang punya obsesi jadi musisi, kemungkinan tidak terlalu senang belajar ilmu fisika. Mereka tak harus memahami rumus newton atau menghafal rumus-rumus kimia, yang relevansinya tak mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa bayangkan, saat ulangan semester tiba, mereka harus menjawab sejumlah soal rumit, yang tak mereka sukai, dengan tingkat probabilitas yang sangat kecil terkait materi-materi pelajaran yang sudah mereka baca dari buku teks atau modul yang diberikan pihak guru sekolah.

Contoh kasus soal-soal UNBK 2018 lalu, ‘agar-agar bertopping paku’  menuai banyak kritikan. Soal yang tidak relevan dan tak merepsentasikan apa yang mereka pelajari di ruang kelas.

Sekolah mengabaikan prinsip belajar  

Ada hal prinsipil yang mungkin kadang tidak disadari pihak sekolah: proses belajar. Prinsip belajar adalah proses menemukan kecenderungan, potensi diri dan orientasi peserta didik.

Tapi, sekolah seakan menjauh dari prinsip belajar. Ia menciptakan friksi, kesenjangan, kelas sosial, saat menetapkan rangking dan tidak naik kelas.

Anak-anak kita yang tak cakap mengafal, segera dicap sebagai bodoh dan tertinggal, lalu diberi perlakuan khusus. Jika tak mampu bersaing, akan diputuskan untuk tinggal kelas.

Anak-anak yang seharusnya sibuk dan mengerahkan energi untuk belajar, mereka sudah harus berhadapan dengan kenyataan kalau mereka gagal saat mereka tinggal kelas.

Lebih parah lagi, siswa yang tingal kelas akan dibully oleh temannya. Mereka dicap bodoh  dan tak berguna, dan sejumlah pretense negatif yang segera akan menggerus kepercayaan diri mereka. Padahal mereka sama seperti yang lainnya, statusnya masih belajar.

Tinggal kelas adalah kesenjangan

Dengan keputusan tinggal kelas, sekolah secara langsung telah menciptakan kesenjangan antar sekolah. Sudah jamak kita dengar, mereka yang tidak naik kelas, biasanya diarahkan untuk mencari sekolah lain.

Keputusan pindah sekolah bagi anak yang tinggal kelas akan menciptakan predikat sekolah buangan. Terjadilah kesenjangan, alih-alih mengklaim demi kualitas. Anak didik yang tak berhasil memperoleh nilai semester sesuai standar, segera dibuang.

Pihak sekolah mungkin tak sempat memikirkan, bahwa anak didik yang mereka ‘buang’ toh pada akhirnya akan belajar di sekolah, berhadapan dengan guru. Bagaimana dengan guru-guru yang ada di sekolah buangan itu menghadapi siswa yang sudah terlanjur ‘gagal’ diajar / gagal belajar di sekolah asal.

Berapa sekolah yang menyadari hal ini: aturan naik-tidak naik kelas telah menciptakan kesenjangan antar sekolah. Lalu, muncullah stigma sekolah top dan sekolah buangan.

Biarkan anak menemukan jalannya

Topik tinggal kelas sebenarnya  kritikan untuk pihak sekolah terkait kriteria kelas yang umumnya menggunakan standar nilai tertentu. Padahal nilai sangat subyektif, bahkan jika hanya mengukur dimensi kognitif anak.

Cara ini mengabaikan prinsip sekolah sebagai tempat belajar. Berharap menemukan potensi anak, sistem ini justru mereduksi bakat anak yang mungkin tak ada dalam kurikulum. Kenyataannya ini menunjukkan kurikulum terlalu jauh meninggalkan realitas sehari-hari anak-anak.

Yang sepatutnya kita renungkan bahwa nasib anak siapa yang tahu. Masa depan tak ada yang pasti. Anak-anak sekolah masih mencari. Guru dan sekolah seharusnya menjadi pembimbing yang baik. Bukannya bertindak sebagai hakim. Setiap anak seharusnya menemukan sendiri jalannya, menuju apa yang dicitakannya, mewujudkan mimpinya.

Gambar: Facebook Sam Krank Latimbang

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)