fbpx
Pasang iklan

Ford v Ferrari; Balapan Tak Manusiawi dan Legenda Pembalap Urakan

Valentino Rossi di Motogp atau Michael Schumacher di F1, keduanya mewakili dunia balap motor dan mobil. Mereka adalah legenda hidup otomotif. Tapi, meski tenar, justru sesungguhnya, banyak orang yang tidak mengenalnya.

Lebih banyak keduanya dikenal karena merek kendaraan, rangkaian kemenangan yang mereka raih di atas podium. Tapi, hanya sedikit yang tahu siapa istri mereka, keluarga, dimana mereka menghabiskan malam saat penat, dan hal lain di luar sirkuit.

Sisi lain legenda

Kisah pembalap tak hanya soal lintasan jalanan. Apa yang terlihat oleh penonton di lintasan sirkuit hanya salah satu kepingan dari bagian hidup. Bertengkar dengan istri atau adu jotos dengan sahabat, adalah sisi kemanusiaan yang jarang terkespos dalam diri sang legenda.

Memenangkan Le Mans 1966, Ford finsih di urutan 1, 2, dan 3
Memenangkan Le Mans 1966, Ford finsih di urutan 1, 2, dan 3

Dan film Ford versus Ferrari ini cukup berimbang dalam menghadirkan kisah Ken Miles, seorang pembalap legenda yang disegani di Le Mans. Urakan mungkin tak cukup menggambarkan sosok Miles. Miles adalah perpaduan yang kontras antara sikap cuek namun sangat peduli detail.  

Perseteruan keduanya melibatkan Ken Miles (Christian Bale) dan Carrol Shelby (Mat Damon). Seorang pembalap yang idealis, yang memahami secara kaffah apa itu dunia balap. Ia pun memahami detail mesin dan menemukan kekurangannya.

Ken pembalap yang disegani, juga teknisi berbakat. Ia tahu batas kemampuan sebuah mesin. Anehnya, Ken seharusnya tak memacu kendaraannya menyentuh 7000 rpm. Mungkinkah Tuhan merancang Ken dengan tanpa rasa takut?  

Karena, balapan yang sesungguhnya tidak hanya tentang kecepatan. Apa yang terjadi di dalam kopkit dan bagaimana orang-orang di dalamnya bekerja. Membangun mobil dan mengujinya adalah kisah bagaimana manajer, teknisi dan pembalap bekerja keras. Pertarungan brand juga turut memanasi sirkuit.

Itu semua bisa didapatkan di film karya James Mangold. Film ini mampu menghadirkan sensasi menonton langsung di sirkuit.

Lebih dari itu, penonton juga berpeluang untuk menguji adrenalin dalam sensasi menikung dalam kecepatan tinggi, disertai gerakan cepat untuk mengoper persenelan, dan injakan terdalam pedal rem. Dengan film ini, anda berpeluang merasakan denyut kencang jantung dipacu kecepatan, tanpa harus ngebut di jalanan.

Ford melanggar aturan

Ada yang beranggapan, Ford dan Ferrari bertarung di sirkuit, pemenangnya akan mendorong citra brand, brand value. Tapi di sirkuit Le Mans, mobil-mobil dihargai bukan karena pabriknya yang besar, bukan karena kemampuan produksi. Di sirkuit, hanya mobil yang tercepat yang dapat sorakan dari penonton. Dan Ferrari merajai sirkuit selama 3 musim berturut-turut, di tahun 1960an.

Begitu juga dengan kenyataan, Ford lahir di Amerika dan Ferrari adalah Italia. Namun orang-orang tidak melihat rivalitas itu sebagai negara versus negara. Bahkan, AMA (The Automobile Manufacturers of America) membuat aturan larangan membuat mobil balap.

Aturan larangan memproduksi mobil balap dilanggar, justru oleh pewaris, CEO Ford Motor Company, Henry Ford II. Ia memutuskan untuk ikut balapan. Singkat cerita, ia merancang proposal untuk membujuk Ferrari.

Enzo Ferrari & Henry Ford ii (gambar: Ford Motor Company/Ford Performance via YouTube/Wiki Commons)

Berpengalaman menguasai penjualan mobil, Ford berharap Ferrari menukarnya dengan balapan Le Mans. Mungkin factor gengsi dan sikap kurang sopan dari Leo, Enzo menolak.

Situasi ini, membuka peluang bagi Shelby untuk masuk di jajaran manajemen Ford, menawarkan rancangan mobil tercepat, demi menantang Ferari. Sekaligus menghadirkan berkah bagi Ken yang didera frustrasi karena bengkelnya ditutup.

Antiklimaks, tidak manusiawi

Ken Miles akhirnya diboyong Ford ke Prancis. Demi misi menaklukkan balapan prestisius “24 Hours of Le Mans.” Dan film ini seperti sengaja menghadirkan antiklimaks. Ken, meski menyentuh garis finish secara sensasional, menunggu rekan lainnya dari Tim Ford.

Tapi, oleh penyelenggara, pemenangnya justru bukan Ken. Karena factor jarak, Ken dianggap menempuh jarak lebih pendek dibanding pemenang kedua, karena saat start, ia memulai balapan jauh dari belakang.

Shelby menggerutu. Seluruh kru kopkit mendongkol. Tapi, pemenang sudah diumumkan, dan dia berhak mengangkat trophy, mengocok botol champagne. Ken kaget, tapi tak lama. Ia sudah memenangkan balapan. Ia menaklukkan nama besar Le Mans. Dan itu sudah cukup untuk dirayakannnya bersama sahabatnya, Carrol Shelby.         

Film ini sangat inspiratif, bahwa sebuah capaian prestasi yang mutlak melewati proses. Di balik layar, ia merajai box office, adalah pembuktian sahih, film ini adalah recommended bagi siapapun yang butuh tontonan komplit. Tapi, mengetahui fakta “24 Hours of Le Mans” pada 1955 pernah merenggut nyawa puluhan pembalap dan ratusan penonton, seharusnya film inipun menitip pesan, “balapan 24 jam itu tak manusiawi.”

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)