fbpx
Pasang iklan

Sepakbola Kita Sedang Tidak Baik-baik Saja, Apa Harus Turun ke Jalan?

...

Gema.id –  Garuda menutup putaran pertama dengan hasil yang memalukan nan memilukan. Menjamu Vietnam di Stadion I wayan Djipta, Gianyar, Bali, Selasa (15/10/2019) waktu Indonesia. Garuda lagi dan lagi harus meraih hasil yang memekikkan gendang telinga pecinta dunia bola tanah air. Laga yang berakhir 3-1 atas kemenangan kesebelasan tamu sesama wakil Asia Tenggara yakni Vietnam melengkapi hasil minor rapor merah Simon McMenemy kala menunggani skuad Garuda.

Di bawah kendali Simon, Garuda seakan seperti segerombolan bocah ingusan yang sedak asyik memainkan si kulit bundar. Tak ada hal yang special yang ditawarkan kepelatihan Simon, pelatih asal Skotlandia ini hanya bisa terus mencuci tangan dan menyalahkan kondisi dunia bola tanah air saat ini. Kondisi fisik, dan kelelahan menjadi tameng uranium bagi Simon mengenai hasil buruk yang di raup Garuda.

Empat laga dengan rataan kebobolan tiga gol setiap laganya merupakan bukti sahih bahwa pertahanan Garuda memang sakit, Simon seakan tak punya solusi soal ini dan singkatnya secara keseluruhan Simon gagal mengajari Garuda terbang tinggi di atas hamparan rerumputan hijau.

Sebaiknya dunia bola tanah air menarik diri sejenak dari hiruk pikuk bisingnya pertandingan dunia bola berjadwal Romusha. Garuda lagi sakit dan butuh perhatian sang Ibu: PSSI. Tapi Sang Ibu malah berseteru dengan dapurnya tentang, Ibu mau masak apa hari ini.

PSSI lebih sibuk masak di dapurnya ketimbang memberikan perhatian lebih kepada Sang Anak yang tidak bukan lain adalah Timnas Garuda.  Semalan Sang Anak sibuk dan lelah mengerjakan PR-nya yang harus di kumpul esok pagi. Dia (anak) ingin Ibunya ada di sampingnya duduk bersama menemaninya mengerjakan PR yang kian memekakkan isi kepalanya.

Bocah itu sungguh malam, Ibu yang menjadi tumpuan dan harapannya kini seakan tak mempedulikannya dan lebih menyibukkan diri dengan dapurnya.

Apakah mungkin Timnas Garuda adalah anak haram dari PSSI yang tak layak mendapatkan penghidupan yang layak dari Sang Ibu?

PSSI setidaknya tidak banyak belajar dari Luis van Gaal mengenai sistem pendidikan De Meer-nya kala menunggangi Ajax Amsterdam.

PSSI harus mengatahui kultur sepakbola tanah air terlebih dahulu. Jika kita terus menerus gagal, mungkin kita tidak mempunyai kultur bola. Maka dari pada terus-menerus melakukan politik tambal-sulam, tampaknya kita perlu menentukan dari awal: “sistem permainan” apa yang paling cocok untuk para pemain kita, lalu dengan sabar dan teliti serta konsekuen menjalankan sistem itu. 

Sepertinya PSSI sebagai induk sepakbola tanah air tidak mengatahui kultur sepakbolanya sendiri, tidak mengherankan jika Garuda terus menelan kekalahan.

Bagi PSSI, sepakbola tak ubahnya ladang gambut yang di gundulu habis-habisan tanpa harus tau mau berbuat apa selanjutnya di ladang itu.

Sudah saatnya PSSI “Mandi Junub” untuk membersihkan diri dari segala hadas kecil dan hadas besar yang menggorogoti tubuh PSSI. Publik dunia bola tanah air sudah resah. Hastag #GeloraBungKarnoMemanggil kini berseweleran di dunia maya.

Apakah suporter dunia bola harus turun ke jalan dulu baru mau berbenah?

Beri tanggapan