fbpx
Pasang iklan

Sebutlah Nama Jose Mourinho atas Kecemerlangan Frank Lampard

...

Gema.id – Frank Lampard dan Jose Mourinho pernah mengukir kisah indah bersama, keduanya bahu-membahu membawa nama Chelsea mendobrak dominasi Liga Inggris yang dikuasai oleh Arsenal dan Manchester United.

Tepatnya pada musim 2004/2005, kilau Liga Inggris yang selalunya dikhiasi warna merah dengan sekejap berubah menjadi biru membahana. Ya, pada musim itu Chelsea berhasil menjadi juara setelah 50 tahun penantian nan panjang. Dibeli taipan asal Rusia, Roman Abrhamovich, Chelsea menjadi kekuatan baru di Tanah Britania.

Kekuatan itu diisi dengan sejumlah pemain dengan banderol selangit. Jose Mourinho yang dipinang dari FC Porto setelah menuai sukses, melakukan perombakan besar-besaran. Membeli sejumlah pemain bintang dan memadukan potensi pemain muda berbakat seperti John Terry dan Frank Lampard.

Hasilnya, Chelsea tampil melejit di Liga Inggris, dengan formula pemain tepat di posisi yang pas. Chelsea tampil dominan, mereka berhasil mencapai poin tertinggi sebagai juara dengan 95 poin, sebelum dilampaui rekor 100 poin Manchester City. Tercatat pula Chelsea menjadi tim yang hanya kebobolan 15 gol dari 38 pertandingan. Rekor ini pun bertahan hingga kini.

Tak hanya sekali, di musim berikutnya, musim 2005/2006 Chelsea lagi-lagi menjuarai Liga Inggris. Mourinho sadar ingin membangun dinasti kejayaan, bukan hanya sekali dengan efek kejut, plus ditimpa banyak keberuntungan untuk meraih keberhasilan.  

Ada satu nama yang paling moncer setelah Chelsea ditunggangi Jose Mourinho, bak kisah insipiratif seorang guru membawa muridnya juara cerdas cermat. Ia adalah Frank Lampard. Di bawah asuhan pelatih bertangan dingin asal Portugal itu, Frank Lampard  sebagai gelandang; tak sekadar menjadi penghubung antar-lini, mengirim umpan-umpan ciamik namun, potensi Lampard sebagai pencetak gol handal mencuat.

Doyan mengirim umpan, subur di depan gawang itulah Frank Lampard semenjak di tangani Mourinho. Ia pun ditasbihkan menjadi pemain terbaik Liga Inggris pada awal kepelatihan Mourinho di Chelsea, bahkan nyaris menggondol Ballon d’Or  jika seandinya tidak kalah voting hanya dari Ronaldinho pada tahun 2004.

Romantisme itu terus terjalin walau mereka berpisah, narasi kisah kesuksesan keduanya tidak berdiri sendiri, ada narasi kesuksesan orang lain yang berdiri menopang. Tanpa ada sentuhan Jose Mourinho, sinar cemerlang Frank Lampard bisa jadi tidak mengkilap.

Setelah memenangkan Liga Inggris pada musim 2004, Mou memeluk erat Frank Lampard. Dalam buku  The Mou Way ditulis Gheeto TW, Mou bilang seperti ini: “Apa yang Anda lihat itu lebih daripada sekadar pelukan. Itu rasa percaya,” jujur Mourinho.

Usai Mourinho cabut dari Chelsea, kemampuan Lampard tidak mengendur sama sekali hingga meraih semua gelar berseragam Biru London, selama 13 tahun menekuni karir. Ukiran sejarah pun tertorehkan, Lampard yang subur; resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Chelsea.

Bagaimana dengan Mourinho? narasi tentang kesuksesan masih terus ditulisnya meski tak bersama Chelsea dan Si Anak Kesanyangan, Frank Lampard. Ia Melanjutkan karir kepelatihan di Inter Milan kemudian pergi ke Real Madrid, Mourinho tak henti-hentinya membikin catatan impresif.

Bersama Inter Milan, Ia meraih segala-galanya, treble winner 2010 adalah bukti sahih. Sementara di Real Madrid dirinya memutus dominasi Barcelona-nya Pep Guardiola yang kelewat jago.

Pada tahun 2013, Mourinho dan Lampard kembali bersua sekali lagi, era kedua Mourinho di Chelsea pun dimulai. Namun waktu itu Lampard sudah di usia senja karir sebagai pemain sepak bola, Ia tidak bisa lagi tampil pada level tertinggi dengan rutin.

Lampard kemudian memutuskan pergi ke Liga Amerika untuk menghabiskan sisa karir. Hanya semusim bekerjasama dengan sang pelatih. Sementara Mourinho, di periode keduanya Ia sukses lagi menjuarai Liga Inggris di musim 2014/2015.

Hanya lebih dari dua musim di sana, dirinya pun pergi mencari pelabuhan baru dan, memilih melatih sang rival Manchester United usai cabut dari Chelsea.  Sementara Frank Lampard sama dengan pemain kebanyakan setelah menghabiskan waktu berada di atas rumput hijau, dirinya memilih untuk berada di sisi lapangan dengan mengambil lisensi kepelatihan.

Setelah lisensi didapati, Derby County menjadi klub profesional pertama yang ditangani Frank Lampard. Buah dari hasil kerja sama dengan banyak pelatih saat masih menjadi pesepakbola salah satunya dengan Jose Mourinho, potensinya mulai terlihat. Di tangannya klub Divisi Championship (kasta kedua Liga Inggris), Lampard dengan skuad ala kadarnya nyaris meloloskan klub itu ke Liga Premier Inggris.

Berkat skill manajerialnya menunggangi sebuah klub, membuat Chelsea klub yang banyak berjasa dalam karirnya kepincut untuk memberikan kesempatan mengisi kursi kepelatihan yang kosong. 

Sejauh ini meski masih terlalu dini menilai, penampilan Lampard menunggangi Chelsea dengan syarat tak boleh membeli pemain karena terkena embargo, boleh dikatakan tidak buruk-buruk amat, mengingat posisi empat besar Chelsea di Liga Inggris masih berada pada jalurnya. Sementara di Liga Champions dirinya menjadi pemain sekaligus pelatih asal Inggris pertama yang lolos ke babak 16 besar.

Bagaimana dengan Mourinho? Jejak kepelatihannya masih ditapaki, silih berganti menangani klub papan atas. Kini angin membawanya ke Tottenham Hotspur, klub asal London Timur yang notabene adalah seteru abadi Chelsea di kota London. Tentu dirinya tak ingin tersaingi dengan klub manapun di Inggris untuk menjadi yang terbaik termasuk Chelsea dan Frank Lampard sekalipun.

Begitu pula dengan Frank Lampard, sehabis berguru dengan banyak pelatih, mungkin yang paling berhasil adalah Jose Mourinho sewaktu masih bekerjasama. Kini merintis karir kepelatihannya sendiri, dan berhak membuktikan bahwa orang-orang yang bersamanya dulu tidak dapat disangkal banyak membantu.

“Kami sama-sama profesional, kami terdorong, dan kadang-kadang ketika Anda bertemu seseorang yang [pernah] bekerjasama dengan Anda atau klub yang pernah Anda dilatih, itu mendorong Anda sedikit lebih baik dengan cara terbaik,” ungkap Lampard jelang pertemuannya dengan Jose Mourinho di Liga Inggris pekan ke-18, dikutip dari BBC,  Sabtu (21/12/2019).

Berdiri sebagai pemain Lampard berhak banyak berbicara, namun sebagai pelatih dirinya masih banyak perlu membuktikan diri untuk menepis semua keraguan. Lampard yang dulunya mungkin bukan siapa-siapa kini menjelma menjadi komoditas riuh dibicarakan.

“Siapa itu [Frank] Lampard, [John] Terry, dan [Didier] Drogba. Mereka bukannlah bintang dunia. Dan di waktu sekarang, siapakah mereka,” teriak Mourinho 15 tahun silam.

Beri tanggapan