fbpx
Pasang iklan

Sarri-ball itu Tidak Hanya Mendewakan Penguasaan Bola

Gema.id – Pak Sarri tetap dengan gaya yang sama di mana pun Ia berada, tetap bersama kreteknya saat mendampingi tim nya berlaga. Sarri tetap sama, meski baru saja keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan setelah mengalami Pneumonia, Ia tetap pada gayanya di pinggir lapangan hijau. Dan Pak Sarri tetap sama, dengan filosofi permainannya, Sarri-ball.

Ahad, (8//10/2019) waktu Indonesia. Laju kencang Inter Milan di awal musim Serie A akhirnya dihentikan usai rentetan kemenangan diraihnya, untuk apa?  Untuk menjaga asa meraih scudetto yang sudah sangat dirindukan. Tapi tantangan berat datang, tidak hanya berat, mereka pun tertekan di laga yang di gelar Stadion Guiseppe Meazza kandang mereka sendiri.

Pasalnya, tamu yang datang adalah pasukan yang begitu kenal dengan hiruk-pikuk dalam petualangan  meraih gelar juara di tanah Italia, tak tanggung-tanggung mereka sudah tujuh kali meraihnya secara beruntun, mungkin sudah bosan namun rasa jumawa  dan aroma gengsi sebagai penguasa Italia harus tetap mereka jaga dan tak boleh dilepas begitu saja ke tangan sang rival. Termasuk Napoli, AS Roma, AC Milan dan semua klub Serie A lainnya.

Bersama Antonio Conte. Inter Milan banyak berbenah, tapi Juventus juga tidak ketinggalan soal urusan benah-membenahi. Gagal bersama Antonio Conte yang kini menyeberang pada sang rival, pula dengan Massimiliano Allegri untuk merebut panggung eropa, kini Juventus mempercayai Maurizio Sarri sebagai alenatore dengan nuansa yang berbeda.

Conte dan Allegri mengembalilkan wajah Juventus sama persis dengan wajah kejayaan sepakbola Italia yang efektif, efisien dan terpolarisasi meski minim peluang dan kurang menguasai bola, gol tidak pernah datang terlambat untuk memenangkan laga. Dari tampuk ke kepemimpinan Conte beralih ke Alllegri, gelar scudetto tidak pernah lepas dari kota Turin. Tapi dengan gaya itu Juventus belum sanggup lagi merasakan gelar Liga Champions.

Atas dasar kegalan-kegagalan setiap musim nya itu, Juventus dengan berani mencoba keluar dari arang tempurung dengan gaya permainan baru dengan umpan-umpan pendek, sirkulasi berjalan lancar dengan menguasai jalannya pertandingan, caranya adalah mendatangkan Maurizio Sarri, sosok pelatih yang dinilai berpegang teguh pada penguasaan bola, ball possession adalah segala-galanya bagi Sarri. Pahitnya tentu, adalah, meski sering menguasai namun tidak merasakan kemenangan. Begitulah Sarri-ball kerap kali bekerja.

Namun di laga versus Inter Milan, Sarri-ball mencoba menjelaskan pada khlayak penikmat pertandingan kalau gaya khas sepakbolanya bukan hanya mengusai bola semata, namun berbagai variasi juga  bermunculan di lapangan kala metode ini diterapkan. Dan semua itu tersaji saat Juventus berhasil memenangkan duel sengit  berkedudukan 1-2 berhadapan dengan Inter Milan di depan ribuan suporternya.

High-press Garis Tinggi

Apa yang membuat Inter Milan kesulitan mengembangkan permainan di laga ahad kemarin, tak terpungkiri adalah cara Maurizio Sarri menekan tinggi pemain Inter Milan hingga ke garis pertahan mereka sendiri, sebelum membangun serangan dari lini belakang, bulid-up.

Bahkan sosok Cristiano Ronaldo pun sudi melakukan hal demikian di bawah rezim Sarri, Ronaldo yang biasanya menunggu dan menunggu bola datang ke kakinya, dibuat ikut membantu melakukan high pressing, pada laga melawan Inter Milan, Ronaldo melakukan 66 kali sentuhan dalam rataan sentuhan terjadi bukan di area pertahanan Inter Milan.

Segala-galanya Harus di Mulai dari Centrale

Di Chelsea dan Napoli ada nama Jorginho untuk menjalankan Sarri-ball dengan sistem yang ciamik: mendikte dan mensirkulasikan serangan. Konon nama tersebut kerap di sebut-sebut sebagai anak emas dari Maurizio Sarri.

Sosok vital hadirnya sosok central di lini tengah tim kepunyaan Maurizio Sarri begitu penting, di Chelsea musim lalu Jorginho melakukan sentuhan terbanyak di Liga Inggris musim 2018/2019 dengan total sentuhan 3551 dengan akurasi umpan sebanyak 2782, statistik angka yang begitu mencegangkan.

Namun sayangnya kepergian Sarri ke Juventus tidak diikuti oleh Jorginho yang masih bertahan di London, tidak sama saat kala Ia meninggalkan Napoli, Sarri mengangkut Jorginho bergabung bersamanya.

Tapi ini Juventus, sederet nama pemain yang ada di skuad nya merupakan kelas wahid, tidak memiliki Jorginho  dirasa tidak begitu terlalu mengganggu jalannya sistem Sarri-ball, ada nama Miralem Pjanic yang kini menjadi sosok centrale guna melakukan sirkulasi.

Tugas Pjanic berjalan sukses kala berhadapan dengan Inter Milan, tidak hanya menjadi pekerja di tengah, Pjanic menjadi pemain yang melakukan sentuhan tertinggi di lapangan dengan 100 kali sentuahan berdasarkan catatan whoscored.

Umpan sukses Pjanic berhasil terkirim sebayak 86 kali kepada rekan setimnya yang juga merupakan tertinggi di laga itu.

Meski kali ini kalah dalam penguasaan bola yang tidak terlalu jauh sekali (Juventus 48,9% – Inter Milan 51,1%) hasil akhir yang berbicara bagaimana tentang Sarri-ball bekerja.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)