fbpx
Pasang iklan

Sabuk Kemanusiaan untuk Khabib Nurmagomedov


Gema – Khabib Nurmagomedov menyudahi perlawanan si bengal, Conor McGrager dengan sempurna. Octagon arena, telah ditakdirkan sebagai tempat untuk menjadi saksi, duel yang sarat dengan nuansa emosional tinggi. Di akhir setelah Conor menyerah, kericuhan tak terhindarkan. Khabib menyerang penonton setelah cekikannya memaksa lawannya memberi isyarat tanda menyerah. Semua bersumber dari bacotan dan ulah tak terkendali yang kerap dipertontonkan Conor.

Di dunia tarung, terutama UFC, serangan-serangan verbal seringkali lebih dahulu melayang jauh sebelum kedua petarung beradu fisik di dalam ring. Conor merepresentasikan arogansi, ia menyerang lawan untuk sesuatu yang sma sekali tidak terkait dengan adu tinju-gulat. Selama ini, ia adalah wujud ucapan-ucapannya yang kasar. Tapi, yang paling mengernyitkan kening adalah serangan rasisnya yang membabi buta.

Ilusi Conor dan Trump

Conor menghakimi orang lain sebagai rendah. Bagi maniak, ini adalah saluran nyata untuk mengekpresikan diri, menjadi tak terkalahkan. Tapi, ia melangkahi Tuhan. Kesalahan terbesarnya saat menyudutkan sebuah agama, Islam.

Conor memang tidak sendiri. Di dalam gedung putih, Donald Trump, seorang yang terpilih sebagai Presiden Amerika, adalah definisi lain dari sikap rasis. Bahkan, ketakutannya terhadap identitas (Islam) yang sama sekali tak rasional itu, ia terjemahkan melalui larangan masuk bagi imigran ber-‘identitas’ muslim: Suriah, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman.

Di awal pemerintahannya, sebagaimana yang pernah ia teriakkan saat kampanye, Trump membuktikan ucapannya untuk mengisolasi Islam. Predikat teroris adalah asumsi yang dibangunnya untuk membenarkan perilaku rasisnya. Tapi, rasis Trump tidak berlaku bagi Arab Saudi. Negeri Raja Salman justru mendapat perlakuan istimewa. Sebaliknya, Arab Saudi tak segan menyebut Amerka sebagai sekutu yang bijak.

Jadi, perlakuan standar ganda yang diperankan oleh Trump terhadap negara-negara Islam, wajar kalau disebut sebagai sebuah strategi politik, alih-alih menyebutnya sebagai upaya meredam gerakan terorisme. Karena, untuk menghabisi teroris, Amerika tak perlu mensupport Arab yang menjajah Yaman. Apalagi berharap AS mampu bersikap tegas terhadap pendudukan Israel atas Palestina. Tapi, tak mungkin Trump seberani itu.

Conor menyerang identitas Islam, agama yang dianut oleh Khabib, sebagai teroris. Ia juga menghina ayah dan daerah asal Nurmagomedov, Degestan, Russia. Ungkapan-ungkapan tak senonoh itulah yang lalu menjangkiti penonton yang seakan tak percaya, sang arogan hampir kehilangan nyawa di tangan seorang yang tinggal jauh, Eropa Timur. Khabib bereaksi, melompat melewati ring, menyerang orang yang diduga sebagai tim official Conor. Octagon rusuh.

Khabib dan perlawanan terhadap rasis

Tentang rasis di dunia olahraga, para pecinta sepak bola tak akan melupakan “headbutt” Zidane yang menghunjam ke dada Materazzi. Peristiwa yang terjadi pada laga final Piala Dunia 2006, juga dipicu oleh sentiment rasis. Zidane bahkan menolak untuk menyesali perbuatannya menyundul Materazzi, meski ia mengakui reaksinya yang berlebihan. Provokasi Materazzi bukan hanya berlebihan, ia telah meyentuh sisi paling sensitif seorang manusia. Maka, meski harus keluar dari lapangan sebelum laga usai, Zidane tetap dikenang sebagai salah satu legenda pesepak bola yang tak segan menunjukkan perlawanan terhadap sentiment rasis.  

Di Octagon, serangan Khabib, bahkan setelah ia memenangkan pertandingan adalah reaksi terhadap teriakan-teriakan rasis. “Saya ingin meminta maaf pada komisi atletik, maaf pada Vegas,” ujar Habib, sebagaimana dilansir Independent.

“Ini bukan sisi baikku. Aku manusia dan aku tidak tahu bagaimana orang dapat berkata sekotor itu, saya tidak sadar, langsung keluar arena saja,” demikian pengakuannya.

Melawan rasis

Kekacauan Octagon mencoreng kemenangan Khabib. Sebuah insiden yang mungkin akan segera terlupakan. Tapi, serangan-serangan rasis yang dipertontonkan Conor dan Trump adalah ilusi yang telah merusak tatanan kemanusiaan.    

Namun, kericuhan itu menunjukkan satu hal: perlawanan terhadap rasis bisa dilakukan oleh siapapun. Khabib telah menunjukkannya, di atas panggung UFC, ia menyudahi kesombongan seorang McGregor, yang dikenal sering mengolok lawan.

Octagon rusuh. Pihak UFC tidak mengalungkan sabuk kemenangan kepada pemenang, Khabib. Mungkin kemenangan yang ternoda. Tapi, Khabib telah menunjukkan sebuah sikap, tentang bagaimana seharusnya berekasi terhadap orang yang berpikir sebagai manusia yang lebih unggul dari yang lain. Khabib ingin menyudahi perilaku rasis, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di atas arena olahraga. Khabib layak mendapatkan sabuk kemanusiaan.  

Dan Conor, pada waktunya pasti akan melupakan pukulan-pukulan dan cekikan Khabib. Hanya, mungkin yang tak akan pernah bisa dilupakannya adalah melihat dirinya tak berdaya, tersungkur oleh orang yang selama ini dilecehkannya, dianggapnya lebih rendah.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)