fbpx
Pasang iklan

Revolusi Pep Guardiola: Endgame?

Gema.id – Akhir sebuah era? Rasa ragu itu kembali kepermukaan kala Pep Guardiola tumbang dalam lawatannya ke Anfield markas Liverpool pekan kedua belas Liga Inggris musim 2019/2020. Kekalahan ketiga di musim ini, jarak pun terbentang jauh, kini selisih sembilan poin harus mereka kejar di sisa 26 pertandigan, mereka harus tancap gas di sisa laga, semua musim ini.

Pep Guardiola bukannya memuji penampilan Liverpool di malam itu, yang seyongyanya tampil luar biasa memanfaatkan lubang-lubang yang gagal ditutupi Guardiola pada laga panas di Anfield, Pep memilih untuk terus mengkritik kinerja wasit Michael Oliver yang menjadi pengadil lapangan pertandingan malam itu.

Pertandingan masih jauh dari kata usai, di tengah  jalannya laga Pep terus berteriak dan mempertontokan gestur tubuh tidak senang dengan berbagai keputusan yang dikeluarkan oleh Si Pemegang Peluit pertandingan.

Di ujung laga, Pep lagi-lagi tidak menyoroti penampilan anak asuhan Jurgen Klopp yang sukses mematahakan segala ekspektasinya untuk mendulang poin di Anfield, Pep lebih memilih untuk memuji filosofi sepak bolanya yang diterapkan, pada laga itu, walau hasilnya nihil.

Baca Juga: Pasca Kalahkan Man City, Jose Mourinho Yakin Liverpool Sulit Dibendung Musim Ini

Pep Guardiola memang dikenal sangat filosfis dalam menjalankan sisitem sepak bolanya, Tik-tak, umpan-umpan pendek mengalir dari kaki ke kaki, wajah sepak bola yang diperlihatkan Pep Guardiola adalah antitesis dari sepak bola yang bertumpu pada permainan umpan-umpan lambung. Dan di Inggris sana tim rata-rata mengandalkan sepak bola bermodalkan fisik, keras lalu mendistribusikan bola lewat umpang-umpang panjang, karena dari sononya sepak bola Kick and Rush lahir.

Banyak yang menerka-nerka kekalahan ini adalah sinyal berakhirnya Pep Guardiola Efect setelah dua tahun mendominasi dan sukses merajai liga domestik negeri Ratu Elizabeth, setelah musim lalu sukses menggondol semua gelar, mulai dari Piala Liga, FA Cup dan Liga Inggris semua digenggamannya, plus gelar Community Shield di bulan Agustus lalu.

Di musim pertama Pep memang gagal meraih gelar apapun, tapi Pep punya dalih: membangun sebuah tim. Pep menyusun perencanaan dengan mendatangkan pemain-pemain yan diinginkannya agar skema dalam lapangan sesuai dengan filosofi, lalu mengubah pola-pola manajemen klub supaya tidak menjadi sandungan, dengan gelontoran uang dari pemilik  klub asal Timur Tengah yang menumpahkan kekayaannya di Tanah Inggris, Pep bisa sepuasnya belanja, hanya financial fair play membuat hasratnya tertahan.

Revolusi tiba! Di Musim kedua, Manchester City-nya Pep Guardiola musim 2017/2018 menggila, mereka adalah tim pertama sepanjang sejarah Liga Premier yang mencatatkan 100 poin di akhir musim. Berlanjut di musim ketiganya, Pep makin lebih menggila dengan menyapu semua gelar domestik di Inggris, padahal di waktu bersamaan Liverpool pada musim 2018/2019 Jurgen Klopp keluar juara Liga Champions musim itu berada di fase kematangan, namun kejelian Guardiola menjadi pembeda, salah satunya dengan berhasil menumbangkan Liverpool di Etihad. Bukti sahih Pep masih di atas Klopp dalam urusan permutasi taktik di rumput hijau.

Baca Juga: Menyerahkan Dunia pada Jurgen Klopp

Di musim ini, sebenarnya masih terlalu dini mengatakan Liga Ingggris sudah kelar, masih jauh sekali. Bursa memprediksi Liverpool atau Manchester City, eh tau-taunya Leicester City yang melejit jadi juara. Liverpool memang selangkah, optimisme itu bukan tanpa dasar, mereka belum tersentuh kekalahan baik versus tim medioker maupun laga bertajuk big match, konsisten penampilan dipertontonkan.

Pep pernah berujar di musim lalu persaingannya dengan Liverpool di papan klasemen Liga Inggris adalah yang terberat Ia lalui, namun di akhir Pep lah yang tertawa di akhir musim. Meski merasakan tekanan, Pep jelas bukan Jose Mourniho 2:0 yang di musim kedua berjaya dan di musim ketiga hancur lebur, tengoklah jejak langkah pria Portugal itu saat menukangi Real Madrid, Chelsea dan Manchester United.

Berbeda dengan musim ini, armada Pep sudah tiga kali keok sebelum pertengahan musim tiba, jelas memberatkan langkahnya. Revolusi sepak bola yang dilakukan mulai tereksodus, terbaca oleh tim-tim lawan.

Dalam kolomnya di The Guardian, pundit Barney Ronay berujar revolusi yang dilakukan Pep Guardiola di Inggris telah memasuki akhir, Endgame. Fase pertamanya bersama City adalah awal-mula perkenalan, Pep masih meraba-raba rasa penasarannya tentang sepak bola Inggris. Di musim kedua setelah mengenal medan dan menutup lubang yang perlu, The Citizen tampil luar biasa.

Fase perkenalan dan pertumbuhan telah dilalui di dua musim sebelumnya, Pep Revolusi yang tumbuh lalu berkembang di musim ketiga, mencapai kematangan dan pada fase ini ujian berat benar-benar dirasakan, perburuan gelar bersaing dengan Liverpool harus ditentukan hingga laga terakhir di musim 2018/2019.

Dan nampaknya di musim keempat nya ini, sudah memasuki tahap akhir, belum bisa dikatakan selesai akan tetapi melihat alurnya Pep Guardiola Endgame mulai terlihat. Pep perlu pembaharuan untuk lebih menyelami kerasnya Liga Inggris jika lebih ingin berlama-lama lagi di liga yang orang-orang sebut terbaik di jagad sepak bola.

Thanos pernah berjaya lalu tumbang di Avengers: Endgame, cerita Pep Guardiola bukan selayaknya Thanos, tapi akhir sebuah kisah perjalanan niscaya adanya. Jika tidak ada sentuhan magis lagi, bersama City mungkin ini yang terakhir?

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)