fbpx
Pasang iklan

Realitas Zakat Perusahaan Dalam Bingkai Metafora Amanah

Zakat adalah jembatan penghubung antara aktifitas duniawi dan ukhrowi dan sebagai pembebas manusia dari berbagai bentuk penindasan dan eksploitasi. Realitas zakat mengandung nilai Tauhid dan ketundukan pada Tuhan, serta merupakan realitas alternatif yang memilki suatu cara pandang yang sadar akan hakikat diri manusia dan tanggung jawab kelak dikemudian hari dihadapan Tuhan yang Maha Esa.

Zakat memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi dan membentuk perubahan organisasi.

Organisasi yang dimaksud adalah perusahaan. Perusahaan wajib mengeluarkan zakat, kerena perusahaan merupakan badan hukum atau yang dianggap orang. Oleh karena itu diantara individu itu kemudian timbul transaksi, menjual, berhubungan dengan pihak luar dan juga menjalin kerjasama. Segala kewajiban dan hasil akhirnya pun dinikmati secara bersama-sama, termasuk di dalamnya ada kewajiban kepada Allah SWT dalam bentuk zakat.

Dalam dunia nyata, konsep zakat perusahaan akan mendorong timbulnya perilaku egoistik secara berlebihan. Ulur gerak struktur organisasi zakat perusahaan berjalan melalui wewenang yang telah ditentukan. Namun dengan metafora, perusahaan akan fokus pada tujuan, struktur dan mampu menjalankan tugas dengan tepat.

Metafora yang digunakan untuk mendesain dan mengoperasikan perusahaan adalah amanah. Amanah adalah sesuatu yang akan dipercaya orang bersandar untuk digunakan sesuai dengan keinginan yang mengamanahkan.

Sungguh realitas zakat yang di metaforakan amanah akan secara sadar dipraktikkan dalam kegiatan sebuah perusahaan secara menyeluruh. Maka akan tercipta tanggungjawab dalam mengelola zakat yang bernilai.

Metafora amanah berada dalam 3 bagian penting yang harus diperhatikan, yaitu pemberi amanah, penerima amanah, dan amanah itu sendiri. Pemberi amanah dalam hal ini adalah Tuhan sang pencipta Alam semesta, dengan kekuasaan yang Maha Besar. Tuhan menciptakan manusia sebagai wakilnya di Bumi (Khalifah fil Ardh). Ini berarti bahwa penerima amanah melakukan segala sesuatu harus berdasarkan diri (kesadaran diri) bahwa ia sebenarnya khalifah Tuhan di bumi yang mempunyai konsekuensi bahwa semua aktivitasnya harus sesuai dengan keinginan Tuhan.

Perusahaan dengan metafora amanah ini tidak saja miliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia tapi juga terhadap kesejahteraan (kelestarian) alam yang dikelola secara yang adil serta perlunya menggunakan serta menggali potensi zakat yang ada pada perusahaan.

Operasional bentuk metafora amanah dalam realitas zakat perusahaan tidak akan mengarah pada informasi khusus pemangku kepentingan tapi akan melibatkan langsung masyarakat dengan perusahaan, sehingga mendapatkan efek yang baik bagi pengelolaan zakat perusahan tersebut.

Metafora amanah memliki karakter kemanusiaan yang seimbang antara karakter egoistik dan altruistik/sosial. Karakter egoistik menyimbolkan bahwa perusahaan tetap diperkenankan mencari laba (namun tetap dalam bingkai metafora amanah), dan kemudian sebagian laba yang diperoleh dialokasikan sebagai zakat.

Altruistic (sosial) milki arti bahwa perusahaan juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesejahteraan manusia dan alam lingkungan yang semuanya ada pada zakat itu sendiri.

Zakat yang menyebabkan adanya perubahan pada perusahaan akan menarik untuk dicermati. Tetapi proses menuju arah ini bukan suatu proses yang sederhana. Perlu adanya pengelolaan zakat perusahaan harus memiliki sistem untuk mengontrol pelaksanaan penyaluran agar zakat dapat terdistribusi pada sasaran yang tepat.

(Penulis Opini)

Nama: Asriana
Alamat : Jl. Rambutan Kec. Tanete Riattang Barat Kab. Bone Prov. Sul-Sel
No. Hp : 085397724294
E-mail : asriana.ana21@gmail.com
Konsentrasi : Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

(Isi dan konten opini di atas merupakan tanggungjawab penulis)

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)