fbpx
Pasang iklan

Razia Buku Kiri dan Tafsir Hijrah

Hanya selang sepekan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Probolinggo menyita buku dari kelompok pegiat literasi anak-anak muda komunitas Vespa, di Makassar, juga terjadi razia buku. Tak tanggung, yang di-sweeping adalah toko buku di sebuah mall. Razia itu dilakukan oleh sebuah Ormas bernama Brigade Muslim Indonesia (BMI) melafalkan kalimat tauhid ‘Allahu Akbar’ sebelum membawa pulang setumpuk buku bertajuk ‘kiri.’

Ini menggelikan juga mengharukan. Mungkin ada kata lain yang lebih tepat. Tapi, ini juga menjadi bukti, betapa tertinggalnya bangsa ini dalam mengakses ilmu pengetahuan. Kita didera oleh ketakutan yang tak beralasan.

Baca juga: Razia Buku dan Sesatnya sebuah Ketakutan

Jika di jaman kolonial, akses pendidikan hanya sebatas untuk kelas tertentu, mungkin razia buku ini bisa dimaklumi. Tapi, di era android kini, razia buku adalah sebuah tindakan konyol yang menunjukkan ketertinggalan, entah berapa jauh ke belakang.

Apaka ini skenario hijrah?

Entah apa yang mendorong sekelompok orang-orang itu nekat merazia buku? Apakah ini adalah kebencian akut terhadap komunis, yang juga berarti keberhasilan Orde Baru memasuki alam pikiran –membunuh komunis dan memuja militer– hingga ke generasi sekarang?

Apakah ini bagian dari tipikal Ormas (organisasi massa) yang sedang unjuk gigi demi merebut perhatian publik? Apakah tindakan itu cara mereka menafsir definisi hijrah?

Ataukah ini bagian dari scenario massifnya gerakan hijrah? Tapi, apakah hijrah harus seekstrim ini? Apakah hijrah harus diterjemahkan sebagai perlawanan total terhadap apapun yang dianggap sebagai dosa? Bahkan jika itu adalah produk pemikiran?

Jika hijrah dimaknai sebagai esensi, sebagai bentuk kesadaran untuk beralih dari bentuk pemikiran dan perilaku jahiliah menuju ke level islami yang rahmatan lil aalamin, tentu akan menjadi kabar gembira yang menyejukkan. Tapi, alih-alih jadi rahmat alam semesta, hijrah kerapkali diikuti oleh ajakan massif untuk merazia (dagangan) babi, menutup warung di bulan puasa, sweeping minuman bir, hingga demo menutup club malam.

Di Jakarta, club malam yang tak kuasa ditutup, akan diupayakan untuk menggelar ceramah. Mungkin dengan ceramah, orang-orang yang dugem akan segera melupakan puyeng-nya dan sesegera mungkin bertobat.

Jangan heran jika suatu malam minggu, seorang remaja pamit ke mamanya ijin dengar ceramah. Dan lewat tengah malam ia malah kedapatan mabuk di club malam. Hehe, dunia kok kebalik yah?

Mengapa kita begitu kebelet hijrah? Atau mengapa kita begitu ingin orang lain ikut hijrah? Apa yang salah dengan orang-orang di sekitar? Apakah daftar dosa sudah bocor dari langit, hingga klaim-klaim kepemilikan kunci surga sudah berada di tangan?

Hijrah yang massif adalah fenomena. Orang-orang yang beragama butuh memastikan tempat, di mana ia bisa menemukan surga. Bukankah semua tentang agama adalah tentang surga dan neraka. Jika akhirnya dosa bisa segera ditanggalkan, bukankah itu adalah jalan terbaik?  

Meneguhkan keyakinan menempuh jalan terbaik adalah istiqamah, adalah langkah kedua setelah memutuskan hijrah. Selanjutnya, hijrah dimassifkan melalui kampanye, penguatan symbol, penggunaan istilah arab, ceramah atau pengajian regular, hingga model pakaian.  

Model pakaian hijrah kenyataannya ikut menyukseskan dagangan hijab dan gamis. Bahkan, sebuah produsen fashion muslim, tak tanggung-tanggung mengeluarkan iklan yang justru mempertentangkan dua jenis ibadah, antara ibadah qurban dan hijab, lewat narasi: “Korban tu ga wajib, yg wajib tu berhijab.”

Tak cukup sampai di benturan narasi ibadah. Iklan itu bahkan menggunakan kepala kambing untuk dipasangi hijab. Tentu ini bisa bermakna lucu, atau mungkin sebuah strategi pasar, marketing gimmick. Tapi, entah bagaimana reaksi publik, jika kambing berjilbab itu dibuat oleh non-muslim?

Tersirat narasi iklan itu telah membenturkan praktek ibadah yang berorientasi sosial dengan kesalehan individual. Yang terakhir inilah yang saat ini sedang tren: ajakan hijrah yang massif, entah dalam wujud penggunaan bahasa, ceramah di grup-grup media sosial, hingga soal bentuk pakaian.

Razia buku, di mana negara?

Razia buku adalah bukti rendahnya tradisi literasi, sekaligus jadi tontonan praktek intoleransi yang menunjukkan lemahnya peran negara dalam meredam gejala persekusi. Jika ini dibiarkan, boleh jadi praktek kekerasan lainnya akan terus bermunculan, lebih massif lagi.    

Lalu, di mana negara ketika buku dirazia dan pegiat literasi justru dipersekusi? Akhir tahun lalu (26/12/2018), razia buku kiri juga dilakukan, oleh aparat militer di Kediri Jawa Timur. Dengan dalih yang sama: memberantas komunisme. Mereka mempertontonkan aksi persekusi, yang justru dilakukan dengan dalih sebagai tugas aparatus negara.

Sabtu lalu (27/7/2019), komintas pegiat literasi komunitas Vespa harus berurusan dengan aparat Polsek Kraksaan, Probolinggo, karena lapak buku yang bertema Aidit dan Komunis.

Begitulah yang terjadi. Sebagian aparat kita masih belum mampu berdialektika dengan hasil pemikiran. Mereka bisa membaca judul, teks, namun mereka abai dengan kontekstual.

Razia adalah cara kuno

Mengapa manusia menulis? Karena ia sadar ia adalah mahluk fana. Dan mengapa manusia berpikir? Karena ia sadar bahwa hanya dengan berpikir, ia mampu menyelamatkan diri dari sesatnya kebodohan. 

Razia buku adalah selemah-lemahnya iman, sefasis-fasisnya perilaku dan sekolot-kolotnya pemikiran (jika masih berpikir). Razia adalah tindakan bodoh karena mengira ia mampu menghukum pemikiran. Sweeping buku juga adalah sebuah kesesatan karena didera oleh ketakutan pada sesuatu yang dikiranya adalah musuh, yang justru timbul karena ketidaktahuan.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)