fbpx
Pasang iklan

Razia Buku dan Sesatnya sebuah Ketakutan

Gema – Ternyata, kekuatiran kebangkitan PKI bukan hanya sekadar rumor. Setidaknya melihat reaksi aparat saat melakukan razia buku terlarang ‘kiri’, menunjukkan satu hal, ketakutan terhadap PKI adalah nyata, meski PKI masih tetap dalam wujud hantu. Aparat melakukan razia buku kiri di Kediri, Jawa Timur, pada Rabu (26/12/2018). Mereka mempertontonkan aksi absurd, yang diklaim sebagai melaksanakan tugas negara.

Buku-buku itu dirazia karena dianggap mempromosikan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku-buku yang disita diantaranya berjudul: Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan dan Sukarno, Orang Kiri, Revolusi, & G30S1965. Buku-buku itu adalah tulisan lama yang merupakan buah pemikiran dari penulis-penulis ternama.

Geoffrey Robinsin (2018), tampaknya menyadari hal itu. Buku yang ditulisnya, “Musim Menjagal; Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966” merupakan hasil riset yang mengungkap peristiwa pembantaian pasca drama G30S.

Geoffrey secara detail mengulas laporan tentang salah satu genosida paling brutal dunia dalam kurun abad ke-20. Letjen TNI (Purn) Agus Widojo, lalu ditunjuk untuk memberi kata pengantar dalam bukunya. Apakah ‘Musim Menjagal’ cukup kebal razia dengan memasang mantan pembesar tentara pada kata pengantarnya?

Takut   

Di sinilah letak tindakan absurd razia buku, melarang dan menindak buah pemikiran. Bahkan, jika mereka tetap bersikukuh untuk mengatasnamakan tugas negara, ada mekanisme yang seharusnya ditempuh sebelum sebuah buku-buku benar-benar dianggap ‘terlarang’. Sebagaimana tindakan kejahatan, pembuktiannya harus melewati forum persidangan yang sah dan obyektif. Tapi, takut kepada buku, tetaplah terdengar aneh.

Padahal, takut buku, takut PKI, atau takut dengan ideologi Marx, adalah tiga hal yang berbeda. Meskipun ketiganya, tetap tak masuk akal jika harus ditakuti. Takut buku, lalu merazianya, berarti merazia pemikiran. Apakah pemikiran benar-benar bisa dilarang? Pramoedya Ananta Toer di era kolonial, pernah dipenjara karena pemikirannya, namun yang terjadi, karya-karya spektakulernya justru lebih banyak lahir dipenjara.

Lalu takut PKI. Sebagai organisasi, PKI sudah dinyatakan bubar dan terlarang. Jadi, yang ditakutkan selama ini adalah gambar palu dan arit yang disablon dibaju atau selembar bendera. Mereka berpikir, PKI telah bangkit, makanya harus segera dirazia.

Caranya, temukan logo-logo terlarang itu lalu bakar. Seperti drama, demi membuat orang percaya PKI bangkit, tanpa perlu tahu, bendera PKI itu dari mana? Kantor PKI itu dimana? Atau coba cek daftar organisasi di Kesbangpol. Tapi, lagi-lagi, PKI telah jadi hantu, sehingga, ketakutan itu pun sudah menyasar ke matinya akal sehat.

Dan ketakutan pada Marxisme. Sebuah ideologi yang disebut sebagai biang keladi memanasnya perang dingin. Tapi, jika di kiri ada Marx, lalu dibenci dan kalah, mengapa Kapitalisme diberi ruang?       

Konspirasi

Sebenarnya, Gus Dur saat menjabat presiden 2000 lalu, pernah mewacanakan pencabutan Tap MPR, anti kiri itu. Menurutnya, Ketetapan MPR itu sungguh tidak manusiawi dan bertentangan dengan komitmen penegakan demokrasi.  

Tak bisa dipungkiri, penetapan Tap MPR Pembubaran PKI dan Larangan Penyebaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme, adalah reaksi terhadap peristiwa G30S. Tapi, bagaimana bangsa ini merespon aksi pembunuhan missal terhadap orang-orang yang merupakan anggota PKI atau hanya sekadar dikira sebagai anggota organisasi afiliasi kiri?

Mereka terbunuh bahkan untuk sesuatu yang tidak mereka pahami. Mereka dituduh memberontak, dan dibunuh tanpa melalui pengadilan. Gus Dur memandang pentingnya pencabutan pencabutan Tap anti Marx itu, bukan hanya tidak relevan, namun bangsa ini perlu menggagas rekonsiliasi nasional, terhadap keluarga dari jutaan korban yang telah jadi tumbal oleh konspirasi mengarah kudeta itu.     

Bulan September tahun lalu, Saiful Mujani Research Consulting (SMRC), merilis sebuah hasil riset tentang isu kebangkitan PKI dan menemukan data bahwa, isu kebangkitan PKI dimobilisasi oleh kekuatan politik tertentu. Hasil survei SMRC menunjukkan, mereka yang percaya isu kebangkitan PKI sebanyak 12,6 persen, adalah mereka yang tergolong intensif mengakses berbagai media, internet dan koran.

Mereka juga memaparkan hasil tabulasi silang dengan preferensi partai politik, yang menunjukkan, bahwa mereka yang percaya PKI ‘bangkit’ kebanyakan merupakan pemilih PKS (37 persen), Gerindra (20 persen), dan PAN (18 persen).

Tapi, ada yang lucu, menurut Direktur SMRC Sirojuddin, bahwa mereka yang percaya PKI ‘bangkit’ justru berusia di bawah 21 tahun. Temuan ini jelas mengonfirmasi bahwa isu kebangkitan PKI merupakan hasil mobilisasi opini kekuatan politik dengan menggunakan media sosial. (kompas.com, 29/9/2017)

Beberapa hari lagi, kita masuk tahun 2019. Konsentrasi politik tertuju pada Pilpres dan Pileg. Seperti biasa, gorengan isu bangkitnya PKI kian menggila. Politik ini makin tak rasional. Tentu akan ada presiden baru yang terpilih. Siapapun itu, tak akan berarti apa-apa bagi mereka yang takut dengan buku. Mereka terlalu takut buku, dan lupa dengan kebodohan yang justru menyesatkan.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)