fbpx
Pasang iklan

Rakitic Tumbang Menjelang Duel Semifinal Piala Dunia 2018

(Gema – Moscow) Gelandang Timnas Kroasia, Ivan Rakitic sempat dalam kondisi yang kurang fit menjelang duel semifinal Piala Dunia 2018 kontra Inggris yang bakal digelar pada Kamis (12/7/2018). Ia berbaring di kamar hotel karena demam tinggi.

Untung saja penggawa asal Barcelona itu bisa sembuh berangsur-angsur dari sakitnya. Rakitic menjadi tumbang dianggap hal yang sangat wajar, akibat di lima dari enam laga Kroasia sejak fase grup ia tampil penuh. Tiga diantara laga tersebut bahkan berjalan hingga babak perpanjangan waktu.

Saat diturunkan menghadapi Inggris, Rakitic masih mampu memberikan penampilan permainan yang sangat baik. Tercatat pria 30 tahun itu bisa melepas 84 umpan dengan akurasi 81 persen, satu tekel sukses dan satu usaha tembakan ke gawang lawan.

“Malam sebelumnya aku mendapat demam dan suhu badanku mencapai 39 derajat. Aku hanya bisa terbaring di ranjang sambil berharap untuk bermain (di semifinal). Jika memang aku harus membayar dengan kedua kakiku untuk bisa ke final maka aku rela,” ungkap Rakitic pada El Partidazo de COPE.

Walaupun kiprahnya dianggap kalah dari Luka Modric, tetapi keberadaan gelandang Barcelona ini bagi Kroasia sangat penting. Eks FC Schalke 04 dan Sevilla bahkan menunjukkan kriteria sebagai gelandang yang berkompeten.

Hal itu sesuai yang dikatakan oleh mantan penggawa Kroasia yang saat ini berperan sebagai manajer, Slaven Bilic. Menurutnya, Ivan Rakitic menjadi salah satu kunci sukses Kroasia melenggang untuk pertama kalinya ke semifinal Piala Dunia 2018.

“Di awal karier Rakitic adalah ‘nomor 10’ namun saat pindah ke Barca posisi jadi lebih mundur. Itulah yang membuatnya jadi pemain tengah yang lebih lengkap. Performanya di fase grup melawan Argentina masih yang terbaik hingga kini namun di laga-laga selanjutnya ia cukup bagus,” kata Bilic untuk Evening Standard.

“Modric memang mendapatkan semua sorotan namun Rakitic rela berkorban demi tim. Ia tidak keberatan melakukan pekerjaan kotor. Kemampuan terbaiknya adalah saat memegang bola, menembak dan menghadapi tendangan bebas,”ujarnya.

“Saat Piala Eropa 2008 ia dan Modric sama-sama membuat Kroasia kalah dalam adu penalti melawan Turki. Tidak heran karena ia masih 19 tahun. Kini ia sudah lebih dewasa dan berkepala dingin. Tidak salah untuk memilihnya sebagai penendang kelima dalam penalti,” ungkap mantan bos West Ham United tersebut.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)