fbpx
Pasang iklan

Putus Nyambung Sriwijaya Air-Garuda Indonesia yang Rumit Nyambung Lagi

Gema.id — Sriwijaya Air memilih mengakhiri hubungan kerja sama mereka dengan Garuda Indonesia, pada Kamis (7/11/2019). Dalam laporan tertulis yang diterima Gema.id, kerja sama tersebut berakhir dalam surat yang ditandatangani Direktur Teknik dan Layanan PT Garuda Indonesia Tbk (Persero), Iwan Joeniarto.


Tertuang dalam lessor (perusahaan persewaan) dinyatakan bahwa, hubungan keduanya kini hanya sebatas bussines to bussines, sehingga kini tanggung jawab Sriwijaya Air kepada lessor menjadi tanggung jawab Sriwijaya sendiri.


Kerja sama ini sudah terjalin lama sejak 9 November 2018. Dalam perjalanannya, putus-nyambung hubugan kerja sama terjadi. Keduanya sempat berpisah setelah meneken kerja sama, lalu kembali rujuk pada awal Oktober lalu, hingga Kamis (7/11) kemarin, keduanya berpisah lagi.

Pihak Sriwijaya Air merasa kerja sama diantara keduanya merugikan, mulai soal dominasi Garuda, hingga lilitan hutang yang kian membesar.

“Pihak Sriwijaya merasa dominasi Garuda terlalu jauh intervensinya kepada Sriwijaya sehingga, menurut persepsi Sriwijaya, maksud kerja sama ini sebenarnya untuk meningkatkan kapabilitas Sriwijaya utang kepada beberapa BUMN,” kata Pengacara dan shareholder Sriwijaya, Yusril Ihza Mahenendra, di lansir dari Kumparan.

Beda Hitungan Soal Hutang

Ketidaksesuain soal hutang menjadi polemik keduanya, sehingga salah satu dari keduanya memilih untuk mengakhiri hubungan kerja sama. Dan meminta pihak Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan audit.

“Sriwijaya mengatakan hutang membengkak. [Sementara] Garuda mengatakan berkurang 18 persen. Kami sepakat untuk pihak BKPN untuk audit, apakah betul terjadi pengurangab atau pembekakan,” kata Yuzril Ihsa Mahendra.

Hal ini nantinya akan menjadi rujukan, untuk menentukan kerja sama dilanjutkan atau tidak.

Hutang Sriwijaya Air Group kepada BUMN terhitung dari akhir Oktober 2018 mencapai angka Rp2,46 triliun.

Pemerintah Lakukan Mediasi

Pemerintah bertindak usai kabar akhir kerjasama Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air berhembus. Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan melakukan mediasi, menurutnya kerja sama antara keduanya masih berjalan hingga tiga bulan kedepan. Karena hal ini berdampak pada jadwal penerbangan yang banyak tertunda.

“Kita sudah tanda tangani [kerja sama] tiga bulan kedepan,” kata Luhut.

Usai pemerintah melakukan mediasi, mereka juga menunggu hasil audit dari BKPN untuk memastikan hububungan keduanya.

Kerja Sama Lagi Sulit

Di tengah polemik keduanya dan masa berakhirnya hubungan kerja sama serta pemerintah yang ingin keduanya rujuk, Sriwijaya Air justru mengangkat direksi baru, hal ini mengindikasikan kelanjutan kerja sama keduanya tidak akan berlanjut.

Pengangkata direksi baru Sriwijaya Air dilakukan Hendry Lie mengatasnamakan pemegang saham. Adapaun direksi baru yang ditunjuk Henry Lei mereka adalah Irwin Jauwena sebagai Direktur Utama sementara Direktur Teknik dijabat oleh Dwis Iswantoro serta Direktur Operasional, Didi Iswandy.

Sebelumnya pada September lalu Sriwijaya Air melakukan juga perombakan direksi lalu dipersoalkan oleh Garuda karena mereka masih terikat kerja sama manajemen.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)