fbpx
Pasang iklan

Politik Buta dan Ilusi Huntington

Gema – Amartya Sen (2016) melancarkan kritikan pedas kepada teori benturan antar-peradaban yang pernah dipopulerkan Samuel Huntington. Menurut Sen, cara pandang ‘peradaban’ dalam memahami konflik-konflik kontemporer cenderung reduksionis, entah dalam lingkup sempit maupun luas.

Tesis Huntington menurutnya justru telah menjadi penghalang terbesar bagi penguatan intelektual. Dengan sudut pandang ‘peradaban’, persoalan politik kekinian menjadi kabur. Pada level tertentu, analisis yang yang menunjuk ‘Islam’ berhadapan dengan ‘Dunia Barat’, bahkan telah ikut mendorong kekerasan dan konflik-konflik rasial kian meluas dan membunuh nilai-nilai kemanusiaan.

Persoalan utama, bukan tentang bagaimana memberi argumen terhadap konflik, tapi ‘kotak-kotak’ peradaban itu telah mereduksi nilai-nilai universal yang ada di dalam setiap manusia di belahan manapun.     

Tak ada satupun generalisasi yang pas dan tak terbantahkan yang bisa mewakili kelompok manusia manapun, yang dapat berdiri di atas predikat ‘lebih mulia’ dibanding kelompok atau manusia lainnya. Lihatlah, apa yang dahulu kita pahami sebagai modern dan kuno. Siapa yang modern dan siapa yang kuno, kini?

Bahkan, jika ukurannya adalah efisiensi dan efektivitas, orang-orang Papua yang tinggal di pedalaman, lebih membutuhkan udara segar dan seeokor hewan buruan, dibanding kehadiran mesin pendingin atau pakaian tebal-tebal. Untuk urusan distribusi, bahkan mungkin mereka tak terlalu peduli dengan akses pasar, toh yang mereka makan semua tersedia di depan mata.

Dan sebuah koteka tak perlu dibandingkan dengan satu set pakaian lux yang menjadi ukuran kemewahan warga kota. Tapi, definisi peradaban inilah yang selama ini menyesatkan kita, sehingga stereotype kepada mereka yang tak ‘seperti kita’ adalah tertinggal dan kuno.

Saya tidak melihat urgensi debat pada program pembangunan pemerintah yang giat membangun jalan tol lintas Papua. Kebijakan infrastruktur ini, ada dalam frame negara kesatuan, buka soal peradaban modern atau terbelakang. Bahwa jalana dibutuhkan, iya, tapi warga Papua lebih butuh untuk hidup damai dan ‘apa adanya’, adalah fakta lain.

Kembali ke soal benturan antar-peradaban dan politik kontemporer. Apa yang kita saksikan kini sungguh merupakan buah dari stigma adanya klasifikasi manusia. Padahal, benturan peradaban itu adalah ilusi. Sama sekali, konflik antar agama tak mewakili atau tak menggambarkan apapun, selain adanya kekuatan-kekuatan yang bekerja dibalik konflik itu.

Kekuatan yang bekerja di balik konflik membuat konflik tidak berjalan alamiah. Coba bayangkan, orang-orang digiring untuk saling membenci  karena beda keyakinan? Apa yang mendorong sekelompok orang yang begitu gagah membawa gergaji dan memotong sebuah nisan salib?

Kegilaan-kegilaan serupa makin menggelikan dengan munculnya klaim kebenaran dan di sisi lain menuduh yang lain sebagai pendosa. Seorang alim berceramah di depan kamera, dengan latar pemukiman yang porak-poranda, lalu dengan nada lantang, berteriak “gempa dan tsunami adalah murka Tuhan untuk para pendosa…” Apakah itu sabda nabi atau benar-benar murka Tuhan? Jika iya, pasti Tuhan bermain-main dengan ciptaan-Nya.

Tapi, klasifikasi umat manusia ini bukan hanya persoalan kontemporer, dan orang-orang yang ingin menungganginya pun sudah terjadi sejak abad-abad sebelum perhitungan Masehi dimulai. Untuk menggambarkan kekeliruan –ilusi kekuasaan- ini, Sen mengutip kisah Iskandar Agung, yang menjelajah India pada 325 SM yang menegur seorang filsuf, ‘mengapa ia tak menaruh hormat padanya –yang Agung? Kekecewaan Iskandar, lalu dijawab oleh sang filsuf:

Baginda raja Iskandar, setiap orang hanya bisa memiliki apa yang tersedia di muka bumi tempat kita berpijak ini. Baginda tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kami, kecuali bahwa Baginda selau sibuk dan hasilnya percuma, berkelana begitu jauh dari tempat tinggal Baginda, menyusahkan bagi Baginda sendiri dan orang-orang lain!… tidak lama lagi Baginda akan wafat, dan saat itu yang tinggal hanya tanah secukupnya yang dibutuhkan untuk mengubur tubuh Baginda. (Peter Green dalam Sen, 2016)     

Sekarang, mungkin kita terlalu jauh untuk membincang tentang politik dan kekuasaan yang menyertainya. Tapi, sama sekali yang terlihat bukanlah kenyataan. Bahwa politik itu benar nyata, namun di sisi lain, kekuasaan yang diperebutkannya justru adalah ilusi yang nyata. Di sini, kita mungkin akan membenarkan kata para idealis yang begitu mengagungkan sebuah ‘proses’ ketimbang (orientasi) hasil.

Orientasi hasil inilah yang melahirkan politik buta, yang meyasar orang-orang yang buta politik. Adalah mereka yang tak mampu memilah apa yang sebenarnya mereka pertentangkan dan apa yang mereka hendak menangkan.

Pemilu 2019 kurang empat bulan lagi. Selama itu pula kita akan terus menyaksikan bagaimana pola politik buta bekerja mengikuti ilusi dakwah benturan antar-peradabannya Huntington. Kalaupun esok terjadi gempa dahsyat dan angin taupan yang menyapu negeri, dan dunia benar-benar kiamat, percayalah…! itu sama sekali tak ada kaitannya dengan pilihan presiden.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)