fbpx
Pasang iklan

Perbaikan Reformasi: Kembalinya Watak Asli Mahasiswa

Gema.id – Riuh demonstrasi mewarnai beberapa kota besar diberbagai penjuru tanah air. Bekal idealisme dan kekompakan mereka merupakan manifestasi protes terhadap kebijakan publik yang dibuat oleh kekuasaan legislatif.

Motif mereka sama yaitu penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang yang muatannya tak pro rakyat dan beberapa tuntutan lain yang diharapkan mampu memperbaiki keadaan Negara. Protes dan kecaman keras itu muncul dari anak bangsa kepada pihak yang mengatasnamakan diri mereka Wakil Rakyat di Parlemen.

Tujuh tuntutan yang ditujukan kepada para Dewan di Parlemen juga sebagai bentuk inisiasi yang ditujukan kepada Presiden ke-tujuh RI, Joko Widodo agar mengambil sikap tegas dari protes yang mereka bawa secara kolektif.

7 Tuntutan Masyarakat Indonesia kepada DPR dan Pemerintah.

Alat komunikasi seperti sosial media, televisi, surat kabar dan berita online sebagai representasi penggiring opini publik menjadi amunisi mereka. Mereka percaya bahwa alat penggiring opini itu mampu menjadi representasi dari kecemasan mereka sehingga apa yang diharapkan akan dapat terejewantah.

Alat itu kini bekerja dengan baik dikarenakan beberapa kota besar NKRI menampilkan bunga-bunga perbaikan reformasi seperti: semprotan water cannon; dentuman tembakan gas air mata; kepulan asap hasil pembakaran ban; dan hantaman keras aparatur negara kepada masyarakat sipil dapat disampaikan dengan baik. Sehingga publik yang menyaksikan dapat mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang menjadi penyebab kejadian itu.

Ditengah intrik pergolakan gelombang demonstrasi anak negeri, pastinya mereka mengharapkan perbaikan itu segera terlaksana dengan membawa bekal tujuh tuntutan yang harus segera direalisasi.

Mereka percaya bahwa gerakan itu murni untuk kepentingan rakyat sehingga bergerak secara kolektif sesuai tuntutan hati nurani. Kolektif dalam hal tak ada penokohan dalam gerakan mereka, karena hal itu diyakini akan mengulang sejarah gerakan tahun 1998 ketika usaha menumbangkan rezim otoriter Soeharto.

Teriakan-teriakan perbaikan reformasi muncul dikarenakan mereka menilai saat ini tubuh reformasi tengah dikorupsi, oleh mereka yang menjadi aktor-aktor reformasi di masa 1998.

Kendati, adapula beberapa massa aksi yang meneriakkan ‘revolusi total’ untuk gerakan kolektif senusantara ini. Hal itu justru keluar dari substansi gerakan dengan ketujuh tuntutan yang mereka bawa. Mungkin saja mereka lupa bahwa jika revolusi dilakukan dan menjadi buah dari gerakan, maka otomatis negara akan mengubah sistem seradikal mungkin, termasuk sistem kenegaraan. Dan jika hal itu terjadi maka ada beberapa opsi yang mereka harus terima, diantaranya: menjadi negara komunis; fasis; atau khilafah.

Tentunya founding person bangsa dalam kubur mereka akan sangat kecewa jika hal itu diaktualisasi dalam kehidupan berbangsa. Sebab founding person telah memperdebatkan sistem ketatanegaraan yang mana yang mampu menjadi watak ke-Indonesiaan, sehingga semua bersepakat Indonesia menjadi negara demokrasi yang berlandaskan hukum dan konstitusi.

Semoga akhir dari gerakan itu tak lebih sekedar memperbaiki apa yang semestinya diperbaiki, terutama memperbaiki beberapa regulasi yang dibentuk oleh Dewan di Parlemen sebagaimana beberapa muatan dari ke-tujuh tuntutan mereka.

Semoga saja apa yang mereka (mahasiswa) harapkan dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah dan dengan tegas mengambil sikap yang murni mendengarkan kecemasan publik, tak sekedar dalih yang justru membuat publik kurang percaya kepada pengelola negara mereka. Dan harapan besar jika gerakan kolektif ini tidak berujung pada penokohan beberapa orang saja. Karena ditakutkan akan ada oknum yang berupaya untuk mempolarisasi gerakan tersebut untuk kepentingannya sendiri dan berujung lahirnya oportunisme.

Semoga pula rakyat Indonesia mendukung gerakan kolektif mereka dengan menghilangkan konotasi negatif terhadapnya, seperti: sumber kemacetan jalan; sumber pengrusakan fasilitas umum; gerakan yang ditunggangi kepentingan pemodal; dan beberapa konotasi negatif lainnya. Sebab apa yang mereka protes hari ini akan berdampak baik ditengah kehidupan berbangsa masa depan.

Teruntuk mahasiswa tunjukkanlah bahwa pelekatan agen perubahan dan pengendali sosial itu mampu terejewantah, bukan hanya sekedar menjadi diperbincangan di ruang-ruang akamdemik. Tunjukkan kepada mereka bahwa inilah watak asli kalian, dan pelekatan itu benar-benar layak untuk dimiliki.

Akhir kata, sejarah yang baik ialah sejarah yang dimenangkan oleh protes kolektif berorientasi pada perbaikan Negara, tanpa penokohan.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)