fbpx
Pasang iklan

Perang Iran dan Dunia yang Diam

Hingga hari berkabung usai, dunia tampaknya masih memilih diam terhadap kematian Komandan Pasukan Quds Iran, Qaseem Sulaimani. Beberapa pemimpin dunia, termasuk diantaranya Presiden Prancis Emmanuel Macron, Menteri Luar Negeri China Geng Shuang dan PM Malaysia Mahatir Mohammad, menyayangkan serangan itu, sebagai tindakan tak bermoral.

Tapi, belum ada yang secara terang, menunjuk Trump sebagai pihak yang mutlak disalahkan. Selain organisasi PBNU, Indonesia sendiri, hingga tulisan ini dibuat, belum mengeluarkan pernyataan resmi. Jokowi dan Menhan Prabowo disibukkan dengan perang klaim terhadap kawasan perairan Natuna berhadapan dengan China.

Padahal, pihak Pentagon bahkan merilis pernyataan, kalau serangan itu adalah arahan langsung dari presiden AS, yang beberapa pekan lalu telah dimakzulkan. Mengapa respon dunia terkesan tak begitu keras mengutuk pembunuhan petinggi negara Iran itu?

Mengapa dunia yang diam?

Padahal, dunia tahu fakta sejarah: di tahun 1980an, Iran-Irak pernah terlibat perang mengerikan selama 8 tahun. Mereka diadu dalam perang saudara berlabel Sunni versus Syiah, mengorbankan jutaan jiwa manusia. Namun yang tak terbantahkan adalah keterlibatan Amerika, yang membuat ekskalasi perang kian tak terperikan.

Saat Iran-Irak didera konflik sektarian, dunia pun tahu Amerika berada di balik perang saudara itu. Amerika tentu tak terima rezim bonekanya, Shah Reza Pahlevi harus berakhir setelah digulingkan oleh kekuatan revolusioner Imam Khomeini.

Perang usai, justru Iran dikucilkan dunia, berkat propaganda Amerika bersama Arab Spring. Tapi, spirit revolusioner-religius yang diwariskan oleh pemimpin agung Imam Khomeini, telah melahirkan kesadaran bersama. Iran membangun negaranya sendiri ketika Eropa-Amerika sudah mencapai tahapan mutakhir teknologi.

Iran tumbuh sebagai negara mandiri, sambil membangun jaringan politik melalui kelompok-kelompok yang terorganisir, berusaha bertahan di bawah dominasi dan tekanan Arab Spring. Iran mendukung dan membina milisi Hizbullah di Lebanon, Houti di Yaman, dan Hamas di Palestina, kelompok milisi yang menganggu kepentingan koalisi Amerika-Arab Spring.

Dunia juga tahu, berkat kontribusi Iran, Suriah berhasil menghalau kelompok pengacau, meski akhirnya harus menyaksikan kotanya porak-poranda. Dan saat dunia hanya sibuk mengecam kekejaman ISIS, Iran tampil sebagai negara yang paling terdepan melawan secara gigih.

Iran berhasil memukul telak sarang-sarang gerakan fundamentalis yang berlabel Islam. Hanya Iran yang secara terbuka mendeklarasikan penentangan system negara Islam Khilafah yang dipropagandakan ISIS. Meski di saat yang sama, Iran tak henti didera tuduhan sebagai negara kafir, syiah la’natullah.

Perang Iran

“Sebentar lagi kalian akan menyaksikan perang yang belum pernah ada sepanjang peradaban umat manusia.”

Kata Ali Khamenei, ulama, pemimpin spiritual Iran. (Iran Corner)

Iran sudah mengerek bendera merah simbol balas dendam. Bahkan beredar isu: bayaran $80 milyar untuk kepala Trump. Angka itu sesuai dengan jumlah populasi penduduk Iran, 80 juta jiwa. Jumlah yang sebenarnya tidak pernah sepadan bagi syahidnya tokoh penting dan sangat berpengaruh di kawasan Timur Tengah ini.  

Kini, Iran melancarkan misilnya, menyisir pangkalan-pangkalan militer Amerika di Irak, memenuhi janji untuk syahidnya komandan Garda revolusi. Iran merespon perang yang tombolnya sebelumnya telah ditekan oleh Amerika, lewat pembunuhan terencana terhadap orang penting nomor dua Iran.

Apakah Iran akan memenangkan perang? Iran, menurut Dina Sulaiman pengamat Timur Tengah, mengatakan dibanding Amerika kekuatan militer -hard power-nya masih jauh berada di level bawah.

Namun, ia menegaskan, bahwa Iran memiliki kekuatan soft power yang tumbuh berkat kukuhnya mereka membangun peradaban. Bahkan capaian spektakuler itu –termasuk pembangunan teknologi berbasis nuklir, diperoleh justru di saat mereka diisolir dan didiamkan dunia. Mereka kini tumbuh sebagai negara-bangsa yang mandiri, kuat secara ideologi, dan solid sebagai sebuah bangsa.

Mampukah Iran berperang sendirian melawan Paman Sam? Jawabannya tentu saja tidak hanya lahir dari kalkulasi kekuatan militer. Dalam perang, pengusaan peta dan strategi sangat menentukan. Iran tumbuh dalam pengucilan namun tak abai dengan sejumlah konflik yang terjadi di negara-negara kecil di kawasan teluk. Iran mengantongi titik-titik kelemahan negara Arab, Israel, yang merupakan sekutu utama Amerika.

Keberhasilan Yaman bertahan dari invasi Arab, adalah berkat dukungan Iran. Pengalaman perang dan semangat revolusioner warisan Imam Khomeini, adalah kekuatan utama Iran.

Memahami Serangan Balasan Iran

Ucapan Khamenei sepertinya sedang diejawantahkan. Dunia menyaksikan 90 rudal dan roket dilesakkan Iran, tanpa satu pun meleset dari sasaran. Setidaknya ada 8 titik vital asset militer Amerika di Irak hancur, disapu oleh jet-jet tempur Iran. Praktis dalam tempo 4 jam, Irak dalam kendali Iran. (Iran Corner).

Dibenarkan oleh Ismail Amin (Presiden Ikatan Pelajar Indonesia Iran), bahwa serangan tersebut telah menewaskan sekitar 85 tentara AS, melalui laman facebooknya (8/1/2020). Serangan balasan ini, menurut Ismail, menunjukkan empat hal:

  • Pertama, ancaman Iran akan membalas AS, bukan ancaman kosong.
  • Kedua, bahwa Iran memiliki teknologi persenjataan yang bisa menjangkau pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
  • Ketiga, serangan udara Iran ini telah mempertimbangkan dan telah dikalkulasi termasuk kemungkinan serangan balasan dari AS. Dan jika serangan AS terjadi, tentu itu tidak lagi berasal dari pangkalan terbesarnya yang ada di Irak, karena keberadaan militer mereka di Irak saat ini, menyusul izin menetapnya telah dicabut. Keputusan mengusir militer AS itu juga sudah ditetapkan oleh parlemen Irak.
  • Keempat, Iran tidak hanya mengultimatum AS, tapi meperingatkan negara-negara yang wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS. “Iran mengatakan, bahwa jika serangan militer AS berasal dari negara anda, maka negara anda siap untuk jadi target serangan kami juga,” kata Ismail.     

Dunia tak butuh perang

Kini dunia tak perlu menunggu pembuktian ucapan Khamenei. Sebagaimana dunia seharusnya tak membiarkan mulut irasional Trump terus mengoceh soal keadilan yang absurd. Tak ada nyawa manusia yang sepadan, yang bisa diganti dengan apapun.   

Dunia yang diam memang tak berarti pengabaian terhadap Iran atau ketakutan berlebihan terhadap Amerika di bawah kendali Trump yang brutal. Sebab, memang dunia tidak pernah membutuhkan perang. Hidup yang damai tak harus dibayar dengan saling tembak demi menghadirkan pemenang.

Perang, atau lebih tepat pemicu dan alasan-asalannya hanyalah mitos yang berusaha dihadirkan oleh pemimpin-pemimpin fasis. Mereka butuh meyakinkan orang banyak untuk membenarkan pembunuhan manusia lainnya.

Kita hanya berharap lembaga internasional PBB segera bersikap. Forum yang melibatkan pemimpin-pemimpin dunia harus segera menyelenggarakan pertemuan, menemukan solusi rasional dan adil. Sebab, kecelakaan terbesar kita adalah, membiarkan failure communicate yang kemudian menghasilkan tafsir secara sepihak oleh mereka yang berpikir bisa meraup untung dari perang.   

Sekali lagi, dunia tak butuh perang. Tak akan cukup dalih penegakan keadilan, jika itu dilakukan dengan cara-cara agresif. Dunia ini tak hitam-putih. Kita pun tidak hidup di atas logika non-kontradiski: karena perang tetap perang, dan damai adalah tanpa perang.

Beri tanggapan