fbpx
Pasang iklan

Perang Elit dan Drama Mahasiswa di Atas Panggung Identitas Absurd

Sebenarnya konflik kelompok itu tidak ada. Yang ada hanya perilaku menyimpang individu yang direspon berlebihan oleh beberapa orang yang mengatasnamakan kelompok.

Ada pertanyaan yang mengusik soal konflik di UMI (Universitas Muslim Indonesia): mengapa media-media lokal tak (berani) mencoba melakukan investigasi (in-depth) terhadap kasus penikaman yang berujung kematian AF, mahasiswa Fakultas Hukum UMI? Mengapa mereka sibuk dengan frame ‘konflik antar kelompok’?

Perang Elit

Kasus ini bukan yang pertama. Nyaris setiap tahun kita disuguhkan pertikaian di kampus, yang melibatkan (kelompok) mahasiswa.

Baca juga: Politik Buta dan Ilusi Huntington

Patut disayangkan, media-media lebih asyik menebar opini. Mereka secara tidak langsung ikut memanasi suasana. Konflik antar kelompok jadi trending topik: ‘Mahasiswa Bone berhadapan dengan Mapala UMI.’ Jelas frame itu telah menciptakan bola liar.

Seperti sebelum-sebelumnya, identitas primordial diteriakkan demi mengonsolidasikan mereka yang memiliki kesamaan dalam kelompok atau ‘diidentikkan’.

Padahal, pasca penyerangan yang menimbulkan korban jiwa itu, seharusnya harus segera ditindaki dengan menyisir pelaku, sekaligus mengantisipasi agar skalasi konflik tidak melebar menjadi ‘perang kelompok’. Pembakaran itu seharusnya bisa dicegah, jika pihak kampus segera meliburkan kampus (surat edaran libur dari pihak kampus baru keluar 8 hari setelah penikaman AF).

Pihak kampus, juga kepolisian, seharusnya bisa menelusuri rentetan kasus ini. Tak hanya berhenti pada korban dan pelaku. Apalagi, penyerangan itu, menurut pelaku yang telah diringkus oleh polisi, adalah balas dendam. Itu tentu bisa saja menimbulkan spekulasi.  

Drama Mahasiswa?

Sementara, beberapa elite, seperti tak tahan untuk merebut panggung. ‘Kita prihatin, kasus ini harus diusut tuntas…’ Mungkin terdengar normatif, sangat ideal dan menenangkan. Tapi siapa yang peduli dengan isi pesan? Massa terlanjur terbakar emosi, yang mungkin lebih banyak tak memahami persoalan yang sebenarnya. Kita gagal focus, persoalan kian rumit.

Baca juga: Perbaikan Reformasi; Kembalinya Watak Asli Mahasiswa

Seharusnya siapapun yang dibunuh kita patut menaruh empati. Tak peduli ia dilahirkan dimana atau berteman dengan siapa. Sama halnya, siapapun yang membunuh, ia harus dihukum sebagaimana hukum yang berlaku. Begitulah nilai keadilan. Atau setidaknya, begitulah seharusnya manusia bersikap.    

Sementara mahasiswa, sibuk menggalang konsolidasi, merilis kutukan, dan melakukan aksi massa, mendesak pihak berwajib mengusut tuntas kasus penikaman tersebut. Yang terjadi -mungkin sudah banyak yang memprediksi, sekretariat Mapala UMI dibakar oleh orang tak dikenal (OTK). 

Siapapun pelaku pembakaran sekretariat Mapala itu mungkin ingin menyampaikan pesan ‘deklarasi perang’. Tapi jika ini adalah ‘perang’, penyerangan di siang hari itu jelas terlalu beresiko, ataukah mungkin tanpa strategi. Kecuali OTK atau orang di balik penyerangan itu hanya ingin membuat ‘drama’.

Pihak rektorat telah mengeluarkan surat resmi membekukan Mapala pada 14 Nopember 2019. Mungkin tak tahan dengan konflik berkepanjangan itu. Beberapa kali bentrok menyeret nama organisasi pencinta alam itu. Langkah rektorat adalah wujud ketegasan.

Namun sayangnya, itu tak terlalu dalam menyentuh persoalan. Jika pelaku adalah oknum, mengapa organisasi yang selalu disalahkan? Kenyataannya itu tak cukup untuk mencegah aksi massa membakar di siang hari. Apakah selama ini Mapala secara –atas nama- organisasi melakukan penyerangan terhadap kelompok lain? Tentu membutuhkan ini membutuhkan penelusuran.

Sebagai organisasi resmi, tentu mereka punya asas, dasar dan tujuan berlembaga yang dituang di dalam AD/ART organisasi. Itu normatif, namun prinsip ini harusnya dijaga. Sebab, tentu yang terdaftar sebagai anggota adalah mahasiswa.

Mahasiswa yang setiap hari mengasah otak, juga aktif berorganisasi, tapi juga doyan tawuran. Mahasiswa absurd.

Identitas absurd

Mahasiswa absurd, juga identitas yang kadang dilekatkan padanya. Padahal, rumusan identitas itu pun kian tidak jelas. Terlebih kini di era serba terbuka. Identitas atas dasar apa? Nama? Jenis rambut? Warna kulit? Tempat tanggal lahir (TTL)? Atau kalau itu belum cukup, beralih ke plat nomor kendaraan?

Baca juga:

Identitas nama, sudaha lama penamaan Bugis-Makassar telah terpengaruh oleh ‘keminggris’ hingga ‘kearab-araban’. Nama-nama seperti La Baco, La Beddu, dan Sitti sudah jarang ditemukan di dalam daftar nama mahasiswa.  

Mungkin yang paling rawan adalah informasi TTL yang tertera di KTP. Tapi persoalan tidak sesederhana mengeja aksara. Orang-orang Bugis telah lama dikenal sebagai perantau. Di tanah rantau mereka melahirkan anak-anak yang tentu dalam akta kelahirannya tak lagi menyebut identitas tanah leluhur.

Lalu, suku atau bangsa lain, yang sudah lama bermukim. Berkat ikatan perkawinan, pun anak-anak mereka pun sudah dikawinkan dengan penduduk lokal. Identitas luar telah melebur dengan identitas lokal. Demikian bentuk akulturasi. Itu sudah berlangsung lama. Jauh sebelum anak-anak mahasiswa itu mengenal tawuran sambil membawa nama kampung masing-masing.

***

Konflik itu biasa. Setiap hari orang berdebat, berbeda pendapat dan bersitegang. Namun yang membuatnya memanas adalah reaksi, drama, dan adanya upaya peluasan medan konflik, menjadi konflik kelompok, sektarian, bahkan rasial.  

Hidup ini sederhana, biasa-biasa saja, yang membuatnya luar biasa hanya tafsirannya, demikian pesan Pramoedya Ananta Toer.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)