fbpx
Pasang iklan

Pengucilan 14 Hari

Karantina 14 hari, di kota yang religious ini, dan warganya yang tak tahan sehari tanpa berkerumun ini mungkin tidak atau belum semengerikan pengucilan akibat sampar di Oran. Camus menggambarkan pengucilan di rumah membuat nestapa, memisahkan sepasang kekasih, yang bahkan tidak sempat berucap salam perpisahan, dan tanpa tahu sampai kapan gerbang kota itu ditutup.

Entah, apa hanya saya yang merasa, hari-hari masa inkubasi ini begitu panjang. “Teng-teng” bandul jam dinding itu terdengar jelas, berpacu dengan nadi. Setiap saat info suspect, jumlah yang meninggal, terdengar seperti jutaan misil menyerang kewarasan. Pesan-pesan kematian seakan tak bisa dilepaskan ketika isu Corona merebak.

Saya tahu, ibu di kampung sebelah sehat-sehat saja. Kawan-kawan di beberapa grup WA masih hidup dan terus bertukar informasi, diselingi joke garing yang dishare berulang-ulang. Di gawai, saya menekan playlist mode shuffle, membiarkan algoritma memilih “Sweet Child O’ Mind” versi Sheryl Crow, lalu berpindah ke “Angie” dari The Rolling Stones, kemudian diikuti “Dream On” by Aero Smith, lalu Whole Lotta Love” dan berlama-lama di “All off My Love” garapan Led Zeppelin.

Entah berapa kali memutar lagu klasik rock terakhir itu, rasanya ada kedamaian diselingi rasa haru dalam harmoni piano yang sesekali diset meniru suara saxophone oleh John Paul Jones, hentakan drum John Bonham, petikan melodi Jimmy Page, dan suara khas melengking Robert Plant. Saya hanya ingin menikmatinya, berlama-lama. Konon lagu itu, oleh Robert didedikasikan untuk anaknya Karac yang meninggal karena kecelakaan.    

Daftar lagu itu menjadi backsound untuk menekuri Novel Sampar, karya sang sastrawan fenomenal Albert Camus. Sampar adalah endemic yang pernah menyerang Kota Oran, diangkat dengan epic, dan detail. Karya termahsyur ini, saya pikir seharusnya bisa jadi referensi melihat perkembangan pandemic Covid-19 ini, sekaligus mengisi jam-jam melelahkan inkubasi.  

Dalam sebuah momen, kita dipertemukan dengan percakapan sang tokoh utama Dokter Rieux bersama Tuan Grand: 

“Dia harus diawasi malam ini. Apa ada keluarganya?”

“Saya tidak mengenal mereka. Tapi saya bisa mengawasinya sendiri.” Sambil menganggukkan kepala, Grand meneruskan, “Sebenarnya, saya juga tidak kenal dia. Tapi kita harus saling menolong, bukan?”

Grand menunjukkan keteguhan sikap kemanusiaan; menolong tanpa pamrih, dan siap berbuat yang terbaik dalam membantu kerja dokter, kerja kemanusiaan.

Lalu, Camus menuliskan detail bagaimana penyakit itu membunuh pasien dengan cepat.

Muka pasien kehijauan, bibirnya seperti lilin, pelapukannya keabu-abuan, napasnya pendek-pendek tidak teratur. Dia terbaring terkangkang oleh sakitnya kelenjar getah bening, terhenyak di brankar seolah-olah hendak menyatukan tempat tidur dengan dirinya. Atau seolah-olah sesuatu dari dalam tanah berusaha menariknya kuat-kuat. Napasnya sesak seperti tertekan oleh beban tanpa wujud. Istrinya menangis.

Narasi itu ditutup dengan dialog singkat yang miris, absurd.

“Apa tidak ada harapan lagi, dokter?”

“Dia sudah meninggal,” kata Rieux.

Kematian penjaga gedung, -tempat dimana Rieux berkantor, menandai dimulainya periode membingungkan, mengejutkan, tapi yang sebenarnya kian buruk. Sampar mulai memerangkap warga kota Oran. Sayangnya, tak ada yang menyadarinya, salah satunya karena gengsi. Prefek, pemerintah daerah setempat, butuh angka kematian 40 jiwa sebelum memutuskan menutup kota.  

Sebuah dialog absurd lainnya disuguhkan penulis. Ketika direktur hotel, mungkin satu-satunya hotel di Oran, tempat Tarrou –tokoh penulis menginap. Dia, sang direktur tersinggung, tidak pernah membayangkan menemukan tikus berdarah menebar bau busuk di dalam lift hotelnya:

“Semua orang mengalaminya.”

“Justru itulah!” sahutnya, “Kita sekarang sudah seperti semua orang!”

Sekarang, dari segala penjuru dunia, entah memeluk agama apa atau dibalut warna kulit apa, tak peduli berapa jumlah uang di rekeningnya, semua orang sama di hadapan Corona. Tentu saja, masalah terbesar kita adalah bagaimana menyebarluaskan kesadaran ini. Seperti yang dikeluhkan Rieux “Yang penting bukan cara berpikir yang baik, tetapi cara berpikir yang membuat orang merenungkan situasi ini.“

Membuat lebih banyak orang merenung bukan pekerjaan mudah. Tak semua orang akrab dengan perenungan. Tak banyak orang terbiasa dengan nalarnya. Kondisi itu pernah disimpulkan oleh filsuf Bertrand Russel, “Banyak orang memilih mati daripada berpikir, makanya banyak orang kini sudah mati.”

Padahal sampar dan perang selalu menyergap manusia tanpa persiapan. Dokter Rieux juga tidak bersiap-siap, seperti halnya penduduk kota kami… Kalau perang meletus, orang-orang berkata: “Tidak akan berlangsung lama, itu terlalu bodoh!” dan memang perang itu terlalu bodoh, namun itu tidak menghalangi berlangsung lama. Kecerobohan selalu gigih; itu dapat disadari seandainya kita tidak selalu hanya memikirkan diri sendiri.  

Tentu tidak apple to apple membandingkan pandemi dengan perang. Tapi, bagaimanapun keduanya menghadirkan situasi darurat. Memang ketakutan selalu terlihat mengancaman. Tapi, keadaan darurat yang menghadirkan sejumput ketakutan tak seharusnya membunuh kemanusiaan. Bukankah “awal dari kebijaksanaan adalah dengan menaklukkan rasa takut,” kata Bertrand Russel. Karenanya, mungkin satu-satunya cara efektif menghadapi situasi darurat adalah tidak panik dan tidak egois.

Akibat pengucilan, orang-orang Oran dipaksa hidup menanggalkan kenangan, juga masa depan tanpa impian. Pengucilan selalu bermakna; sendirian menghadapi takdir. Beruntung kota ini bukan kota Oran, yang disekat tembok dan hanya punya gerbang sebagai pintu keluar-masuk.   

Orang-orang tak peduli, mereka mungkin merasa sudah di level religious tertentu, sehingga Tuhan bisa membuat mereka sebagai pengecualian dari musibah. Bahkan di Makassar, fatwa ulama diabaikan, shalat Jumat memang ditiadakan tapi shalat Dhuhurnya tetap berjemaah di masjid. Kerumunan tetap tak terhindarkan.   

Seperti kebanyakan warga Oran, tak banyak orang yang memahami betul penyakit itu, dan tentu saja jauh dari kesiapan untuk menerima paparan virusnya. Yang terdengar jelas dari warga kota adalah terganggunya kebiasaan-kebiasaan dan terancamnya kepentingan-kepentingan.

Pengucilan memang mengungkung, tapi tidak dengan pikiran. Jika hanya dengan berdiam diri di rumah, adalah bagian dari sel pemutus rantai penyebaran Corona, mengapa kita terlalu angkuh untuk sekadar memberi empati kepada pemerintah, paramedic, aparat, dan relawan yang berjuang bertaruh nyawa?   

Belum sampai di pertengahan buku, saya memutuskan berhenti. Saya pikir, sepertiga halaman Sampar ini sudah memuat banyak pelajaran berharga. Rasanya, ingin segera membaginya…

Gambar: Punt de Partida

Beri tanggapan