fbpx
Pasang iklan

Pemilu dan Politik Sontoloyo

...

GEMA – Hiruk-pikuk kontestasi demokrasi lima tahun sekali telah dipenuhi dengan gambaran fenomena unik. Salah satu contoh belakang ini ialah seorang kepala negara yang mengeluarkan statement ‘Politik Sontoloyo’ hingga mengundang banyak perhatian publik. Sampai-sampai salah satu anggota Parlemen di Senayan menciptakan sebuah puisi di akun sosial medianya untuk menanggapi statement dari kepala negara tersebut.

Padahal bukan politiknya yang sontoloyo tetapi manusia-manusia yang menjalankan roda politik itu sendiri, istilahnya: politikus. Bicara politik bicara kepentingan orang banyak, baik kepentingan dari segala lini kehidupan tuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Politik itu hal yang suci, karena tujuan politik itu sendiri seperti hal yang dikemukakan diatas.

Adapula satu fenomena unik lain ketika salah satu sayap organisasi keislaman yang melakukan pembakaran terhadap simbol tauhid sebuah bendera yang diduga merupakan bendera salah satu ormas terlarang yang dilarang oleh negara melalui regulasinya. Hal tersebut kemudian mengundang polemik dalam ruang-ruang publik.

Lucu, unik, dan membuat publik terhibur pastinya. Pikirkan saja, isu agama tadi mampu menutupi isu yang sebelumnya marak dibicarakan oleh publik, contohnya isu perihal Meikarta, buku merah, 31 data pemilih fiktif, anjloknya nilai rupiah terhadap dollar, maupun bencana yang menimpa Sulawesi-Tengah belakangan ini. Karena benar apa yang diwacanakan oleh salah seorang tokoh bahwa isu agama menjadi jualan paling laku di ruang publik karena mampu menutupi isu-isu lain yang sedang hangat.

Entah hal tersebut dilakukan untuk memanipulasi paradigma publik atau apapun istilah sejenisnya. Mungkin itu merupakan bagian dari bumbu-bumbu demokrasi. Sebagai warga negara yang baik harusnya kita mampu menyikapi dengan bijak apa yang dimainkan oleh para elit-elit politik kita, toh kita yang memilih mereka, hehe.

Pemilu 2019

Pemilu sebagai salah satu bagian integral penting dalam negara demokrasi dimana warga negara secara politis legal formal memiliki hak untuk memilih siapa yang hendak memimpin mereka dalam wilayah teritorial tertentu: Desa, Kelurahan, Kabupaten, Provinsi, bahkan Negara.

Pesta demokrasi lima tahunan ini selain sebagai bagian dari ruh demokrasi, ia juga mampu memanipulasi paradigma pemilih yang dilakukan oleh calon pemimpinnya baik melalui variable timses, jubir, influencer dan sebagainya. Jargon tagline maupun visi-misi manis yang karapkali digelorakan oleh peserta pemilu ialah jualan yang telah mainstream jelang pesta lima tahunan itu.

Apa salahnya? Tak ada yang salah, toh itu bagian dari dinamika berdemokrasi. Yang salah ialah ketika peserta pemilu yang kerapkali menyuarakan janji-janji manis sebelum ia terpilih nantinya menjadi pemimpin, karena apa yang di ucapkan tak sesuai dengan apa yang dilakukan.

Pertanyaan yang kerapkali muncul pula ialah, mengapa orang-orang di jaman sekarang berlomba-lomba tuk menjadi seorang pemimpin? Padahal mengemban amanah tuk memimpin orang banyak tak mudah tuk dilakukan.

Satu contoh penggambaran dari hal tersebut ialah saat pasca meninggalnya nabi Muhammad, para sahabat tak sanggup tuk melanjutkan kepemimpinan nabi di jaman itu hingga akhirnya sahabat berunding dan memilih seorang sahabat diantaranya, sahabat yang terpilih tadi menolak dan diancam menggunakan todongan pedang oleh sahabat lainnya, hingga akhirnya memilih tuk menyanggupi tuk menjadi khalifah di jaman itu, tanpa mekanisme pemilu di jaman sekarang.

Gambaran fenomena tadi sangat berlawanan dengan konteks sekarang. Sekarang orang berlomba tuk jadi pemimpin, padahal apasih yang membuat orang tertarik demikian? Apakah karena adanya anggaran dari negara yang dialokasikan untuk para pemimpin terpilih melalui mekanisme pemilu? Entah.

Percayalah, menjadi pemimpin itu berat, lebih berat dari rindunya Dilan yang kerapkali diucapkan oleh sahabat millenial yang aktif bersosial media. Sebagai catatan, pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mampu mengemban amanah dan integritasnya, bukan yang saling berbalas puisi di sosial media.

Beri tanggapan