fbpx
Pasang iklan

Pedoman Lengkap MUI Tentang Pengurusan Jenazah yang Terinfeksi COVID-19

...

Gema.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Fatwa nomor 18 tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tahjiz Al-Jana ‘Iz) Muslim yang Terinfeksi COVID-19, pada Jumat (27/3/2020) lalu, dengan menimbang bahwa COVID-19 termasuk jenis penyakit berbahaya dan dapat menular kepada yang melakukan kontak dengan orang yang terpapar COVID-19 atau cara penularan lainnya.

Selain itu MUI juga mempertimbangkan bahwa ketika pasien COVID-19 meninggal, maka virusnya masih ada di tubuhnya dan berbahaya yang dapat menular kepada orang yang melakukan kontak dengan jenazah tersebut dalam proses pengurusannya.

Maka dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah dikaji, MUI memandang perlu untuk mengeluarkan fatwa tentang prosesi pengurusan dan pemakaman jenazah muslim yang terinfeksi virus berbahaya tersebut.

Dengan memperhatikan Penjelasan Prof. Dr. Budi Sampurno (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Prof. drh. Wiku Adisasmito (Ketua Tim Pakar Satgas COVID-19) pada tanggal 24 Maret 2020 yang diantaranya, bahwa pasien COVID-19 yang meninggal:

  • Langsung ditangani, dibersihkan kotorannya, ditutup lubang-lubang anggota tubuh dengan kapas, dikafani, dibungkus dengan plastik khusus supaya tidak bocor.
  • Jenazah kemudian diteruskan ke ruang jenazah untuk dimasukkan dalam peti. Dalam ruang pemulasaraan ini dibatasi sampai 4 jam, kemudian dimasukkan ke dalam mobil ambulan khusus untuk dibawa ke tempat makam.
  • Setelah dishalatkan jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman. Boleh dikubur di pemakaman umum, tetapi harus sesuai dengan protokol pengurusan jenazah (dikeluarkan oleh Kementerian Agama atau Pemerintah Daerah). Dalam protokol tersebut jarak liang kuburnya dengan sumber air minimal 50 meter dan jarak dengan pemukiman adalah 500 meter.
  • Semua aktifitas di atas dilakukan oleh petugas khusus dengan memakai alat pelindung diri (APD).
  •  Bagi anggota keluarga yang ingin melihat dan menyalatkan serta menguburkan harus memakai alat pelindung diri.

Tim medis memerlukan uraian tentang tata cara memandikan, mengafani, dan menyalati jenazah, atas perhatikan ini MUI mengeluarkan fatwa terkait.

Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

  • Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya
  • Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani;
  • Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayamumkan;
  • Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan;
  • Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh;
  • Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara:
    • 1) Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu.
    • 2) Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.
  • Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dlarurat syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.

Pedoman mengafani jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

  • Setelah jenazah dimandikan atau ditayamumkan, atau karena dlarurah syar’iyah tidak dimandikan atau ditayamumkan, maka jenazah dikafani dengan menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas.
  • Setelah pengafanan selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara dengan dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat.
  • Jika setelah dikafani masih ditemukan najis pada jenazah, maka petugas dapat mengabaikan najis tersebut.

Pedoman menyalatkan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

  • Disunnahkan menyegerakan shalat jenazah setelah dikafani.
  • Dilakukan di tempat yang aman dari penularan COVID-19.
  • Dilakukan oleh umat Islam secara langsung (hadhir) minimal satu orang. Jika tidak memungkinkan, boleh dishalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. Jika tidak dimungkinkan, maka boleh dishalatkan dari jauh (shalat ghaib).
  • Pihak yang menyalatkan wajib menjaga diri dari penularan COVID-19.

Pedoman menguburkan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut:

  • Dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis.
  • Dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.
  • Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al-dlarurah al-syar’iyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan Fatwa MUI nomor 34 tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana’iz) Dalam Keadaan Darurat.

Beri tanggapan