fbpx
Pasang iklan

Panduan Lengkap Zakat Fitrah : Pengertian, Hukum, Takaran dan Waktu Membayar

...

Gema.ID – Pengertian zakat Fitrah umumnya adalah mengeluarkan makanan pokok untuk diberikan kepada penerima zakat dengan jumlah yang sudah ditentukan takarnnya.

Pengertian Zakat Fitrah

Secara terminologi, Zakat berarti Ash Sholah (Perbaikan), An Namaa’ (Tumbuh) dan Az Ziyadah (Bertambah). Tujuannya adalah membersihkan harta yang dimiliki oleh si penuainya.

Kata Fithri berasal dari kata fithroh atau naluri namun dalam bahasa lain juga disebutkan jika Fithri berasal dari kata ifthor yang artinya tidak berpuasa lagi. Iftor ini merujuk pada waktu yang ditentukan untuk membayar zakat yakni pada saat menjelang seseorang telah melakukan puasa. (Melewati Ramadhan) menuju sholat ‘Ied.

Menurut Imam An Nawawi mengatakan bahwa untuk pengertian fikik Zakat Fithtri menggunakan istilah fithroh sedangkan untuk istilah zakat fithri berkaitan dengan waktu pemberian yakni Ifthor (tidak berpuasa lagi) pada bulan Ramadhan.

Hikmah Zakat Fitrah

Zakat Fitrah memiliki hikmah berdasarkan syariat adalah :

  1. Saling berkasih sayang dengan fakir, miskin, papah dan mujahidin agar jangan sampai tidak merasakan kemenangan di hari kemenangan, hari lebaran.
  2. Menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan seperti perbuatan sia-sia atau dengan kata-kata kotor yang tidak sengaja, sedangkan yang disengaja harus dengan bertobat dan meminta maaf.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fitrah hukum wajib ditunaikan bagi setiap muslim yang saat waktu berpuasa selesai saat waktu menjelang sholat ‘ied. Hukum wajib ini bahkan sudah menjadi ijma’ ulama berdasarkan hadist Ibnu Umar

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa. Zakat tersebut diperintahkan dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.”

Namun ada pengecualian untuk shogir yakni anak kecil yang masih dalam janin, namun ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm juga mengatakan bawah janin sudah memiliki kewajiban berzakat, namun tidak diikuti mayoritas ulama karena shogir dalam bahasa Arab juga disebut ‘urd atau kebiasan yang ada.

Orang yang Wajib membayar Zakat Fitrah

Berdasarkan hadist di atas maka dapat disimpulkan maka orang yang wajib membayar Zakat Fitrah adalah semua muslim yang mampu mengeluarkan zakat.

Defenisi mayoritas ulama untuk golongan ‘orang-orang yang mampu mengeluarkan zakat’ adalah orang-orang yang memiliki kelebihan makanan yang bisa diber nafkah pada malam dan siang hari di hari ‘Ied. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai Ghoni (Bekecukupan)

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

“Barangsiapa meminta-minta, padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan bara api.” Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran mencukupi tersebut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seukuran makanan yang mengenyangkan untuk sehari-semalam.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa yang wajib mengeluarkan zakat adalah orang yang memberi nafkah dalam keluarga dan menanggung semua orang yang ada dalam anggota keluarganya.

Hal tersebut juag dijelaskan oleh Imam Malik, Ulama Syafi’iyah dan Mayoritas ulama bahwa suami yang bertanggung jawab atas zakat fitrah istri dan anaknya.

Kapan Waktu Bayar Zajat Fitrah

Wajib zakat dijatuhkan kepada seseorang saat terbenamanya matahari di malam hari raya Idul Fithri, jika masih mendapati waktu tersebut (Masih Hidup/Belum meninggal) maka wajib hukumnya atas dirinya membayar zakat fitrah.

Hal tersebut merupakan mendapat dari Imam Asy Syafi’i dengan dalil bahwa Zakat Fitrah berkiatan dengan hari fithri hari tidak lagi berpuasa, sehingga hukumnya disandarkan pada waktu tersebut.

Sebagai conoth kasus, seseorang yang meninggal satu menit sebelum matahari terbenam pada hari terkahir puasa maka hukumnya tidak wajib dikeluarkan zakat fithri, namun jika ia meninggal satu menit setelah matahari terbenam di hari terakhir puasa maka wajib atas dirinya untuk membayar zakat.

Hal serupa juga berlaku untuk bayi lahir setelah terbenam terbit matahari hukumnya tidak wajib membayar zakat dan bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari maka hukumnya wajib membayar zakat Fitrah. Meskipun bay yang lahir setelah terbenamnya matahari tidak wajib membayar zakat namun Utsman bin Affan pernah mencontohkan membayar zakat untuk bayinya yang lahir setelah terbenamnya matahari.

Bentuk Zakat Fitrah

Zata fitrah diberikan dalam bentuk makanan pokok seperti Gandum, kurnam, beras, kismis, keju dan sejenisnya tergantung dari makanan pokok yang dimakan oleh si pemberi zakat. Pendepat ini dianjurkan oleh ulama MAilikiyah, Syafi’iyah, san Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, namun pendepat ini diselisihi oleh ilama Hanabilah yang menyatakan bahwa zakat fitra hanya pada dalil Kurma dan Gandum.

Takaran wajib zakat fitra adalah satu Sho’ kurma atau gandum karena pada zaman itu makan pokok penduduk Madinah adalah Kurma, sebagaimana perintah membayar kaforah (denda bagi yang meninggalkan puasa)

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ

“Maka kafaroh (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (QS. Al Maidah: 89).

Zakat fitrah merupakan bagian dari Kaforah karena memiliki tujuan untuk membersihkan atau menutup kesalahan dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan kotor.

Takaran Zakat Fitrah

Jumhur ulama menyepakti takaran wajib Zakat Fitrah adalah satu Sho untuk semuah bentuk makanan kecuali Gandum dan Kismis dimana sebagai ulama membolehkan setengah sho’ saja. Dasar hukumnya dimabil dari hadist yang disampaikan oleh Ibnu Umar bahwa zakat fitria seukuran satu Sho Kurma atau Gandum.

Dalil yang digunakan sebagai takaran disampaikan oleh Abu Sa’id Al Khudri

كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

“Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menunaikan zakat fithri berupa 1 sho’ bahan makanan, 1 sho’ kurma, 1 sho’ gandum atau 1 sho’ kismis.”[18] Dalam riwayat lain disebutkan,

أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ

“Atau 1 sho’ keju.”

Sho merupakan takran yang lazim digunakan pad azaman Nabi Muhammad SAW. Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai ukuran ini. Pendepat tersebut dibagi atas dua ukuran yakni :

  1. Pendepat pertama yakni 3 kg
  2. Pendapat yang kedua yakni 2,157 kg.

Bolehkah mengganti beras dengan uang?

Menurut ulama Milikiyah, Hanabila dan Syafiiyah, zatak fitrah tidak bisa ditunaikan dengan membayar sejumlah uang nilai setara dengan satu sho makanan pokok karena tidak ada dalil yang memerintah, sedangkan hukum asal mula ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membenarkan.

Namun ulama Hanafiyah berpendapat bahwa zakat Fitrah bisa diganti dengan uang sebagaimana pendapat mayoritas ulama

Abu Daud mengatakan,

قِيلَ لِأَحْمَدَ وَأَنَا أَسْمَعُ : أُعْطِي دَرَاهِمَ – يَعْنِي فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ – قَالَ : أَخَافُ أَنْ لَا يُجْزِئَهُ خِلَافُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

“Imam Ahmad ditanya dan aku pun menyimaknya. Beliau ditanya oleh seseorang, “Bolehkah aku menyerahkan beberapa uang dirham untuk zakat fithri?” Jawaban Imam Ahmad, “Aku khawatir seperti itu tidak sah. Mengeluarkan zakat fithri dengan uang berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Abu Tholib berkata berkata bahwa Imam Ahmad berkata padanya,

لَا يُعْطِي قِيمَتَهُ

“Tidak boleh menyerahkan zakat fithri dengan uang seharga zakat tersebut.”

Dalam kisah lainnya masih dari Imam Ahmad,

قِيلَ لَهُ : قَوْمٌ يَقُولُونَ ، عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ كَانَ يَأْخُذُ بِالْقِيمَةِ ، قَالَ يَدَعُونَ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُونَ قَالَ فُلَانٌ ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ada yang berkata pada Imam Ahmad, “Suatu kaum mengatakan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membolehkan menunaikan zakat fithri dengan uang seharga zakat.” Jawaban Imam Ahmad, “Mereka meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka mengatakan bahwa si fulan telah mengatakan demikian?! Padahal Ibnu ‘Umar sendiri telah menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri (dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum …).” Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sungguh aneh, segolongan orang yang menolak ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Si fulan berkata demikian dan demikian”.

Menurut Syaik ‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yang pernha menjabat ketua Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhbts Al Ilmiyyah wal Ifta atau komosi fatwa Saudi Arabiah memberikan penjelasan bahwa pada saat hukum Zakat Fitrah dikeluarkan di zaman RAsulullah, kaum muslimin khusunya penduduk madian sudha mengenal mata uang yakni dinar dan dirham, namun Nabi Muhammad SAW tidak pernah memberikan perintah untuk membayar zakat fitrah dengan kedua mata uang ini.

Seandainya mata uang dianggap sah dalam hal membayar fitrah maka tentu beliaulah yang paling pertama mengeluarkan perintah untuk mengganti gandum dna kurma dengan uang.

Selain itu para sahabat yang hidup di masa Rasulullah juga tidak pernah mengeluarkan perintah mengganti makanan pokok dengan uang padalah mereka ada ahli sunnah yang jauh lebih baik dari umat belakangan.

Penerima Zakat Fitrah

Jumhur ulama menyebutkan bahwa terdapat 8 golongan orang yang masuk kategori penerima zakat sesuai dengan surah At Taubah ayat 60.

  1. Fakir – Orang yang memiliki harta namun sedikit seperti sangat sulit untuk makan sehari-hari seperti jika makan hari ini maka besok tidak makan.
  2. Miskin – Orang yang memiliki harta lebih banyak dari fakir namun hanya cukup atau kurang untuk memenuhi makanan sehari-hari.
  3. Muallaf – Orang yang masuk islam
  4. Membebaskan Budak / Riqab – Zaman dahulu orang kaya banyak membebaskan budak maka zakat bisa dikumpulkan untuk keperluan ini.
  5. Gharim – Orang yang menanggung utang karena kebutuhan pokok bukan untuk kepnetingan mewah seperti berutang karena membeli mobil atau motor.
  6. Ibnu Sabil – Seorang musafir yang berjalan dengan tujuan baik seperti perantau yang hidupnya susah atau pelajar yang menunut ilmu di luar kota
  7. Mujahid – Orang yang berjuang dijalan alla seperti pemilik panti asuhan, pembuat madrasah, pengembang pendidikan, orang yang sednag berjihad.
  8. Amil – Pengurus dan penyalur zakat

Sedangkan pendapat ulama Malikiyah, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa zakat hanya diperuntukkan untuk merka yang fakir dan miskin saja.

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Zakat fithri sebagai makanan untuk orang miskin.”

Alasan dari ulama uni adalah karena Rasulullah tidak pernah membagikan zakat fitrah ke delapan golongan ini sedangkan golongan tersebut sudah ada pada masanya. Sama seperti hukum membayar zakat dengan uang. Sehingga penerima zakat yang lebih utama adalah fakir dan miskin.

Waktu menunaikan Zakat Fitrah

Dalam maslah waktu penunaian zakat dibagi atas dua waktu yakni waktu yang Afdhol yakni waktu kala terbit matahari pada hari Idul Fitri hingga waktu pelaksanaan Shalat ‘Ied, sedangkan waktu yang dibolehkan adalah satu atau dua hari sebelum Sholat ‘Ied sebagaiman yang dilakukan oleh Ibnu Umar.

Yang menunjukkan waktu afdhol adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

“Barangsiapa yang menunaikan zakat fithri sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.”

Dalil yang membolehkan menunaikan zakat satu atau dua hari sebelum Sholat Ied/

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ – رضى الله عنهما – يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا ، وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.”

Sebagian ulama yang membolehkan membayar zakat fitrah tiga hari sebelum sholat Idul Fitri menggunakan dalil dari Nafi’

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ

“’Abdullah bin ‘Umar memberikan zakat fitrah atas apa yang menjadi tanggungannya dua atau tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri.”

Sebagain ulama lain membolehkan waktu membayar Zakat sejak awal Ramadhan dan adapula yang membolehkan membayar zakat satu atau dua tahun sebelumnya, namun tidak begitu karena zakat fitrah adalah sakat yang berkaitan dengan waktu Fithri jadi sebiaknya tidak boleh jauh-jauh dari hari Fithri.

Hukum Menunaikan Zakat Fitri setelah Salat Ied

Menurut ulama Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah menytakan bahwa mengeluarkan zakat setelah sholat ied tanpa ada udzur maka hukumnya adalah dosa bagi si pemberi zakat namun sebagia ulama lain menytakan bahwa kewajiban menuanikan zakat harus tetap digugurkan dengan cara membayar zakat.

Hal ini menjadi pertimbangan bagi siapa saja yang ingin menyerahkan zakat mereka ke lembaga zakat maka sebaiknya memperhatikan masalah penyaluran zakat ini, jika tidak maka sebaiknya tinggalkan lembaga tersebut kecuali ada udzur dimana sangat sulit untuk menemukan penerima zakat karena tempat tersebutsudah makmur.

Beri tanggapan