fbpx
Pasang iklan

Mustahik – 8 Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

...

Gema.IDZakat fitrah adalah kewajiban mengeluarkan harta berupa makanan pokok dengan takaran yang sudah ditentukan jumlahnya yakni sekitar 1 Sho atau 3 kg beras (sebagian ulama menyatakan 2,175 kg).

Zakat ini wajib dikeluarkan menjelang waktu Sholat Ied bagi siapa saja memenuhi syarat atau bukan Mustahiq atau golongan penerima zakat. Adapaun golongan mustahiq berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 sebagai berikut L

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’alaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah:60)

Sebagai penjelasan 8 golongan ini berikut ini panduannya

1. Fakir

Menurt ulama Syafi’iyah dan Malikiyah, Fakit adalah orang-orang yang tidak memiliki harta dan usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Paling tidak penghasilannya kurang dari setengah kebutuhan pokok dasarnya.

Misalnya seseorang yang memiliki kebutuhan untuk makan dalam sehari 30 ribu rupiah, namun pengashilan kurang dari 15.000 rupiah. Patokan kebutuhan dasar berbeda-beda namun dalam menentukan kebutuhan minimum bisa menggunakan bantuan perhitungan UMR atau penghasilan layak seseorang dalam suatu daerah.

Sebagai contoh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan gambaran perbedaan fakir dan miskin sebagai berikut :

“Kita asumsikan batasan dari gaji yang mereka terima dalam setahun, misalnya gajinya 5000 riyal (12,5 juta Rupiah) sedangkan kebutuhan minimal adalah 10.000 riyal (25 juta rupiah) maka ia masuk dalam kategori miskin karena ia masih mampu memunhi separuh dari kebutuhannya sedangkan jika penghasilannya kurang dari 5000 riyal maka ia masuk fakir,”

JIka analogi ini digunakan maka jika UMR suatu daerah 3juta rupiah lantas penghasilannya sebulan tepat 1,5 juta maka ia termasuk golongan miskin sedangkan jika kurang dari 1,5 juta dalam sebulan maka masuk dari golongan fakir.

2. Miskin

Sebagaimana yang analogi yang digunakan pada point satu, maka kategori miskin adalah mereka yang memiliki penghasilan kurang dari kebutuhan pokok yang mereka butuhkan, namun lebih besar dari setengah dari jumlah yang mereka butuhkan.

3. Amil

Amil merupakan orang perorangan atau sekelompok orang yang ditunjuk oleh pempimpin untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang memiliki kewajiban zakat. Biak dari penjaga zakat, pencatat zakat dan pengembala hewan jika ada yang memebri zakat dalam bentuk hewan.

Amil ini memiliki hal untuk mendapatkan zakat meskipun mereka adalah orang kaya, namun syaratnya adalah mereka tidak boleh meminta zakat tersebut (menentukan di awal besara upah mereka setelah menyelesaikan tugas) jika ini dilakukan maka upah mereka harus diambil diluar dari zakat yang dikumpulkan, seperti dari kas pemerintah yang menunjuk petugas zakat.

Dalam hal ini niat akan menjadi penentu apakah zakat yang didapatkan oleh para Amil ini hala atau haram, karena nilai dari ibadah terletak pada niatnya lalu kemudian pada syar’iat-nya.

4. Muallaf

Muaalfu qulubuhm adalah golongan orang memustukan untuk masuk islam karena mendapatkan hidayah sehingga kemungkinan imamnya lemah, mereka bisa diberikan zakat untuk menguatkan iman mereka, sekalipun mereka kaya.

Namun bagi mereka yang sudah masuk islam dalam kurung waktu lama dan tidak masuk golongan mustahiq maka mereka tidak boleh lagi menerima zakat.

5. Riqab – Pembebasan Budak

Zakat Fitrah bisa dikumpulkan sampai jumlahnya cukup digunakan untuk membebaskan hama sahaya yang masih di masa lampau, namun karena saat ini sudah tidak ada lagi praktik perbudakan.

6. Gharim – Terlilit Utang

Gharim adalah seorang muslim yang memiliki utang untuk memunuhi kebutuhan pokok bukan untuk tujuan kemewahan, misalnya terliliy utang untuk membeli mobil padahal mobil tersebut bukanlah kebutuhan pokok.

Gharim terbagi atas dua jenis yakni :

  1. Orang berutang untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga
  2. orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang banyak misalnya orang yang berhutang karena membantu mendamaikan orang yang bersengkata atau membebaskan lahan untuk kepentingan umum seperti pembangunan masjid, jalanan, irigasi dan sejenisnya.

Adapaun syarat utang yang sah untuk menerima zakat adalah

  1. Seorang muslim
  2. Utang bukan dilakukan bukan dalam rangka berbuat maksiat atau bermewah-mewahan
  3. Bukan ahlul bait (Keluarga Nabi)
  4. Bukan orang sengaja berutang agar mendapatkan zakat
  5. Utang tidak ditangguhkan karena si pengutang bisa melunasinya namun menangguhkan pelunasan karena khawatir masih membutuhkan uang dalam waktu dekat
  6. Bukan orang yang memiliki simpanan harta untuk melunasi utangnya, misalnya memiliki utang 60 juta rupiah namun ia memiliki mobil yang harganya lebih dari 60 juta rupaih.

7. Sibilillah

Sabilillah orang-orang yang berjalan atau sedang memperjuangkan kepentingan umat islam dan kaum muslimin. Dalah hal ini zakat bisa dikelompokkan ke dalam dua golongan yakni

  1. Sedang berperang di jalan Allah orang, jika masuk dalam kategori ini maka semua orang yang ikut berhak mendapatkan zakat sekalipun dia kaya raya.
  2. Untuk kemaslahatan perang yakni mengalokasikan dana zakat untuk kepentingan peran seperti membeli kendaraan perang, membuat benteng pertahanan dan kebutuhan perang lainnya.

8. Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan yang tujuannya bukan untuk maksiat dan hal-hal jahat. Ibnu sabil dikategorikan seperti pelajar yang sedang menuntut ilmu di kota lain, orang yang terpaksa meninggalkan kampungnya karena perang, wabah dan sejenisnya.

Adapaun syarat dari Ibnu Sabil ini adalah :

  1. Bukan Ahlul Bait atau keluarga Rasulullah
  2. Tidak memiliki uang di perantauan untuk kembali ke kampung halamannya, meskipun di kampungnya dia adalah orang kaya raya
  3. safar yang dilakukan bukan dalam rangka bermaksiat.

Beri tanggapan