fbpx
Pasang iklan

Menjaga Jarak Fisik: Kebiasaan Baru yang Mampu Melindungi Kita dari COVID-19

Sejak ditemukan pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada bulan Desember 2019, COVID-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru) telah menyebabkan 18 ribu kematian dan setidaknya 400 ribu kasus positif di 197 negara dan teritori (per tanggal 25 Maret 2020).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020, seiring dengan terus bertambahnya kasus positif dan kematian di berbagai negara.

Virus Corona Baru di Indonesia Virus Corona Baru di Indonesia

Di Indonesia sendiri, 2 kasus positif COVID-19 pertama kali diindentifikasi pada tanggal 2 Maret 2020, dan dalam kurun waktu tiga pekan, jumlah kasus positif yang teridentifikasi sudah lebih dari 600 kasus dan lebih dari 50 orang meninggal dunia.

Melonjaknya jumlah kasus COVID-19 di Indonesia secara eksponensial menunjukkan bahwa ada banyak kasus COVID-19 yang tidak terdeteksi sejak dini sebelumnya. Apalagi ditemukan adanya kasus positif pada orang-orang yang tampaknya sehat dan tidak menunjukkan gejala apa pun atau hanya gejala ringan.

Jika pemerintah dan masyarakat tidak bekerja sama untuk memperlambat dan menghentikan penularan virus ini, pertumbuhan jumlah kasus positif akan terus terjadi.

Pemerintah Indonesia memilih untuk menerapkan tes COVID-19 massal dan menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan social distancing atau yang lebih tepat disebut dengan physical distancing alias jaga jarak. Cara ini dinilai mampu menekan laju pertambahan jumlah kasus positif COVID-19.

Social & Physical Distancing Social & Physical Distancing

Dengan berdiam diri di rumah dan menjaga jarak fisik setidaknya 1 meter, kita bisa terlindungi dan melindungi orang lain dari penularan COVID-19 yang disebabkan oleh adanya cipratan tetesan atau cairan dari seseorang yang bersin atau batuk di sekitar kita.

Tentunya ketika sedang bersin atau batuk, kita harus menutup mulut dan hidung menggunakan tisu, sapu tangan atau lipatan siku.

Imbauan untuk melakukan physical distancing tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan dalam penerapannya. Masyarakat Indonesia cenderung lebih suka bertatap muka secara langsung dalam melakukan berbagai kegiatan.

Bahkan, berbagi makanan di piring yang sama atau berbagi minuman dari gelas yang sama juga bukan hal yang asing bagi masyarakat kita. Ketika imbauan untuk menjaga jarak fisik dikeluarkan, sebagian masyarakat bukannya berdiam diri di rumah, namun menggunakannya untuk berlibur dan bersilaturahmi dengan keluarga.

Sebagian lain merasa perlu untuk tetap menjalani kegiatan keagamaan di rumah ibadah secara berkelompok. Siswa dan mahasiswa merasa tidak nyaman belajar jarak jauh. Pemilik modal dan pengusaha khawatir usahanya akan merugi jika menerapkan kebijakan yang memungkinkan pekerjanya dapat bekerja dari rumah.

Lompatan Kebiasaan Demi Hadapi Pandemi Lompatan Kebiasaan Demi Hadapi Pandemi

Menerapkan kebiasaan baru biasanya butuh proses dan waktu yang tidak sebentar. Namun, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena setiap hari kematian akibat COVID-19 terus bertambah. Kita perlu melakukan lompatan kebiasaan dan mengakselerasi kemampuan kita untuk beradaptasi di era digital dalam menghadapi pandemi ini.

Dunia usaha dan institusi pendidikan perlu segera mengubah cara kerja dan belajar dengan memanfaatkan teknologi internet. Terdapat begitu banyak platform, yang beberapa di antaranya gratis, yang memungkinkan kita tetap terhubung satu sama lain dari rumah masing-masing.

Bila kita terpaksa harus keluar rumah, pastikan mengambil jarak dengan orang lain dan menahan diri untuk tidak bersalaman, mencium tangan atau berpelukan. Begitu kembali ke rumah, segera mencuci tangan, mandi dan berganti baju.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika berada di rumah, misalnya membersihkan kamar dan seluruh bagian rumah.

Selama ini, kita mungkin telah abai terhadap kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan. Padahal sejak kecil, kita diajarkan bahwa kebersihan adalah pangkal dari kesehatan dan kebersihan merupakan sebagian dari iman. Melakukan kegiatan bersih-bersih, selain menjauhkan rumah kita dari debu, kotoran, bakteri dan virus yang tak kasat mata, juga ditengarai dapat mengurangi tingkat stres dan kegelisahan.

Pandemi Pengantar Redefinisi Sosial, Digitalisasi Kian Kuat

Berada di rumah juga bukan berarti kita menjadi anti sosial. Kita tetap dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sahabat atau saudara melalui telepon genggam. Kegiatan minum kopi bersama di kafe dapat diganti dengan minum kopi online di rumah masing-masing. Menjaga komunikasi dengan orang lain penting untuk terus dilakukan agar kita terhindar dari rasa kesepian.

Perasaan cemas sangat wajar muncul di tengah masifnya pemberitaan mengenai COVID-19 ditambah adanya pesan berantai yang terkesan menakut-nakuti. Tidak pergi ke rumah ibadah, bukan berarti kegiatan ibadah kita terhenti. Menjaga kedekatan dengan Tuhan sangat diperlukan di saat-saat seperti ini. Melakukan ibadah atau bermeditasi di rumah secara rutin dapat menjernihkan pikiran dan menjaga agar emosi kita tetap terkendali.

Kita pun menjadi lebih sadar terhadap berbagai hal yang kita lakukan, sehingga tidak bersikap reaktif. Ketika ada berita hoaks muncul di media sosial, misalnya, kita menjadi lebih mampu menahan diri untuk tidak membagikannya sebelum mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Berada di rumah juga bisa kita manfaatkan untuk mempelajari hal baru, ilmu baru atau bahasa baru melalui kelas-kelas online. Ada beberapa website yang menyediakan kursus online gratis seperti www.edx.org dan www.futurelearn.com.

Kursus online tersebut menyediakan ruang diskusi yang memungkinkan kita berinteraksi dengan pemelajar-pemelajar lainnya sehingga memungkinkan kita untuk memiliki teman baru. Jika kita aktif di media sosial, ikut menyebarkan pesan kesehatan juga menjadi kegiatan bermanfaat yang bisa kita lakukan di rumah.

Terus Sebar Pesan Baik, Indonesia Harus Kuat Terus Sebar Pesan Baik, Indonesia Harus Kuat

Baru-baru ini muncul kampanye #SatuKertasCegahCovid19 di media sosial. Untuk menjadi bagian dari kampanye ini, kita hanya perlu menuliskan pesan pencegahan penularan COVID-19 pada selembar kertas lalu membagikannya di media sosial.

Beberapa hari ke depan, kita masih akan terus melihat bertambahnya jumlah kasus positif COVID-19 dan mungkin juga peningkatan jumlah kasus kematian akibat COVID-19.

2020 bisa jadi merupakan tahun pertama tidak adanya mudik atau pulang kampung di negara kita. Tapi saat itu terjadi, kita telah menyadari bahwa fisik boleh terpisah namun solidaritas dan persaudaraan tetap terjaga. Kita bisa mengalahkan pandemi COVID-19 bersama.

14 pemikiran pada “Menjaga Jarak Fisik: Kebiasaan Baru yang Mampu Melindungi Kita dari COVID-19”

  1. semoga masyarakat bisa memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan dan bisa menerapkan sosial distancing untuk mencegah penyebaran covid-19 ini. lekas sembuh bumi kita bersama✨

    Balas
  2. So inspiring ka. Thank you for the suggestion, minum kopi online, hehe smart idea 🙂
    Keep writing, keep spreading the kindness.

    Balas
  3. Ketika kita di paksa untuk menerapkan hidup sehat dan kebiasaan hidup bebas tanpa aturan ( social freedoms) , itulah hikmah dibalik peristiwa ini , Good Campaigne pak , bravo

    Balas
  4. artikel yang sangat luar biasa baik dan educated.
    tentunya ini akan menjadi effort yang ekstra dengan melihat background budaya negara kita. sekali lagi, hal yang tidak mudah memang. tetapi usaha seperti campaign, himbauan melalui semua media dan atau usaha kecil lainnya seperti mengingatkan dalam lingkungan disekitar kita menjadi suatu nilai bahwa kita berespon baik dan tidak tinggal diam dalam situasi darurat ini.

    Mari teruskan pesan baik ini dan semoga kita semua dalam lindunganNya
    #stayathome #keephygiene #stayhealthy #savelife

    Balas

Beri tanggapan