fbpx
Pasang iklan

Mengapa Sepak Bola Sebelas Lawan Sebelas?

Gema.id — Umberto Uco pernah melayangkan kritik pedas pada sepak bola, menurutnya permainan ini merupakan keterasingan manusia akan eksistensi diri: ” a place of total ignorance” atau “the begginer of the dehumunisation of man.”

Terlebih pada pemuja sepak bola, Umberti Uco begitu sinis memandang hidup mereka dan pendar harapan yang tak jelas di kehidupan para pemuja permainan sepak bola. Menurut penulis buku The Name of Rose itu, mereka adalah orang-orang yang tak memiliki tujuan hidup.

Sinisme Uco semacam kritikan betapa menggilanya seseorang pada sepak bola yang kadang di luar nalar daya pengetahuan manusia. Bahkan tak ayal sepak bola kadang berdiri setara dengan agama hingga hal-hal ekstrinsik lainnya.

Bahkan, Billi Shankly pesohor kenamaan di dunia sepak bola mengungkapkan sepak bola lebih dari hidup kita sendiri: “Beberapa orang berpikir sepak bola adalah masalah hidup dan mati […] saya bisa meyakinkan mereka jauh lebih serius dari itu.”

Dan nyatanya, memang sepak bola sejauh ini menjadi olahraga tiada tara yang biasa menciptakan kegilaan pada ratusan, atau miliaran Sapiens di muka bumi. Semacam opium yang tak mengenal siapa, seperti sesuatu yang candu bisa menggerogoti muda dan tua. Sebentuk atas nama percaya saja.

Telah banyak gelombang emosi diciptakan sepak bola, menghipnotis tak pandang bulu. Umat manusia terkadang rela menukar apa saja demi menonton sepak bola. Bagi mereka sepak bola adalah satunya-satunya di bawah langit biru ini yang bisa mengubah perasaan mereka. Sepak bola menjadi jalan keluar atau semacam pelarian mungkin, dari penat seketika kuat, dari gundah-gulana seketika jadi tawa sumringah usai menonton sepak bola.

Apapun akan ditukar demi menyaksikan sebuah laga di lapangan hijau, sebelas orang melawan sebelas orang. Waktu, tenaga bahkan sampai-sampai harus merogoh kocek dalam-dalam demi melewati kegetiran hidup dengan menonton sepak bola.

Sepak bola sebenarnya sama dengan sejumlah dengan olahraga lainnya, tapi barangkali ada tangan tak terlihat sehingga olahraga ini menjadi paling populer di semesta raya ini.

Sebelum orang-orang menyebut sepak bola adalah sebuah permainan paling indah, paling memukau dan, tiada tara. Sejarah panjang sepak bola sebenarnya mendapat banyak kecaman untuk dimainkan. Sepak bola juga dianggap permainan nista untuk dipertandingkan. Bahkan, sebelum sepak bola seindah yang kita nikmati di teve-teve. Dulu, banyak darah yang tertumpah kala orang-orang bermain sepak bola.

Pernakah Anda mendengarkan sebuah lontaran dari mulut lakon pemuja sepak bola bahwa: “Football is Beutiful Game”. Ucapan itu sering didengar dari komentator sepak bola saat pertandingan seru tersaji. Dan, para penonton dengan seketika mengiyakan kalau memang sepak bola adalah permainan yang memiliki keindahan tak tepermanai.

Jauh sebelum itu, bukan sebuah kulit bundar entah itu di sponsori Nike, Adidas atau Mikasa, bola yang dimainkan di sepak dari kaki ke kaki, adalah kepala manusia.

Luciano Wernicke dalam Por que juegan once contra one?—diterjemahkan penerbit Marjin Kiri, Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? Dan Serba-serbi Sepak Bola Lainnya—bola perdana tersebut adalah kepala seorang tentara Romawi yang terbunuh dalam pertempuran. Usai pasukan Julianus Cesar mengusir tentara Romawi. Sepak bola bukan hanya di Inggris saja, jauh sebelum negara ini melucu dengan menyebut diri mereka adalah “pencipta sepak bola” permainan ini telah ditemukan pada abad ke-2 dan ke-3 SM.

Di masa Cina kuno, kegiatan sepak-meyepak ini disebut dengan Ts’uh Kuh atau Cuju. Sebelum serigid seperti saat ini, tujuan permainan ini adalah untuk memasukkan bola kulit penuh bulu dan rambut ke jaring kecil berdiameter 40 sentimeter yang dipasang di atas batang bambu setinggi 10 meter. Para pemain hanya bisa menyentuh bola dengan kaki, dada, punggung, dan bahu, tapi tidak dengan tangan atau lengan.

Belum ada yang dinamakan offiside, kartu kuning/merah apalagi teknologi garis gawang. Sementara para pemain yang jago bermain bola jangan harap mereka akan mendapatkan penghargaan prestius Ballon d’Or. Waktu itu sepak bola tanpa emblem-emblem semacam itu.

Masa berganti, sepak bola mulai dikenali secara luas meski lambat, orang-orang memperkenalkan permainan tersebut dengan berziarah dari ke pulau yang satu ke pulau lainnya. Penyebutan permain ini pun berbeda-berbeda di tiap-tiap wilayah, Italia menyebutnya Calcio, Jepang mengenalnya dengan Kemari sementara orang-orang Yunani mengenal Epislycros dan suku Aztec punya Tlachtli. Dan, generasi Indonesia hari ini menyebutnya Bal-balan.

Lalu mengapa sebelas lawan sebelas? Bukankah sepak bola bisa tetap dimainkan lebih dari itu, atau bisa kurang malah. Tidak ada yang salah, dulu di masa lampau segerombolan manusia yang jumlahnya lebih banyak dari aturan yang berlaku seperti saat ini bisa memainkan sepak bola, kadang satu kampung melawan seisi kampung lainnya bermain sepak bola baik di jalanan, taman maupun ladang yang memisahkan antara dua desa.

Namun celakanya kelebihan jumlah pemain dan terbatasnya ruang menjadi malapateka. Dengan tidak adanya aturan yang membatasi pemain membuat mereka brutal di lapangan untuk merebut bola dari lawan. Banyaknya pukulan dan tendangan cukup sering mengakibatkan kematian. Para pemain menghalalkan manuver apapun dengan segala cara untuk merebut bola.

Maka pada tahun 1314, walikota London mengharamkan sepak bola untuk dimainkan, bagi warga sipil yang terpantau bermain sepak bola akan dijebloskan ke penjara.

Sepak bola yang sudah semacam kriminalitas tak menghalagi beberapa orang untuk menemukan cara agar mereka bisa tetap bermain sepak bola bahkan menggelar turnamen besar. Jika dulu ada lembaga yang bebas dari sensor dan menjadi wadah menuangkan ekspresi maka lembaga itu bernama sekolah. Institusi pendidikan punya cara untuk memperpanjang nafas permainan sepak bola agar tetap dimainkan.

Sebuah pledoi menjadi tumpuan sekolah agar permainan ini terus diadakan, St. Paul’s School di London menyoroti nilai edukatif yang terkandung di dalam sepak bola “kesehatan dan kekuatan,” mereka beranggapan hidup tak cukup jika hanya mengandalkan kesehatan rohani, kesehatan jasmani pun harus terus dijaga.

Sekolah pun menjadi tempat diskusi untuk tetap merawat keberlangsungan hidup sepak bola, kelak sekolah pun menjadi pencetus beberpa aturan dalam bermain sepak bola, tentu yang pertama dan yang paling utama, adalah menentukan jumlah orang yang bertanding dalam sepak bola agar tak mengulangi kesalahan yang sama, sepak bola bukannya berujung tawa namun menimbulkan celaka.

Komposisi sebelas lawan sebelas pertama kali diterapkan pada kompetisi internal sekolah. Jumlah ini diambil dari jumlah anak laki-laki yang menempati kamar di asrama. Yang rata-rata di isi lebih dari sebelas hingga lima belas pemain. Maka tak ayal jumlah sebuah tim dulu bervariasi, ada yang berisi 15 pemain, ada pula yang berisi 25 pemain. Namun yang berada di lapangan malakoni pertandingan tetaplah sebelas lawan sebelas, sisanya mereka adalah cadangan tim.

Di samping pertandingan yang dilangsung oleh sekolah-sekolah, aturan sebelas lawan sebelas juga merujuk pada aturan permainan Kriket yang sudah dimainkan jauh sebelum sepak bola yakni dengan sebelas pemain berada di tim kawan berhadapan dengan sebelas pemain di kubu lawan.     

Setelah menemukan jumlah yang pas untuk dimainkan beberapa aturan selanjutnya terus diterapkan dalam permainan sepak bola, mulai dari menyoal ukuran lapangan, durasi permainan, hingga aturan kapan seorang kiper tidak boleh menyentuh bola dengan tangan.  

Di tambah ketika ada lembaga bernama FIFA yang menjadi induk sepak bola, permainan ini semakin banyak menciptakan aturan, sepak bola yang sudah terlembagakan membuat permainan ini semakin rigid dan terus berusaha meminimalisir kesalahan, untuk menutupi segala keterbatasan lakon manusia di dalamnya yang memang tak pernah luput dari kesalahan.

Dan seperti yang kita rasakan saat ini, kita telah tiba di babak baru sepak bola dengan drama VAR-nya. Yang menuai pro dan kontra tapi tetap digilai banyak orang.

Beri tanggapan