fbpx
Pasang iklan

Mengapa banyak orang terlalu pintar untuk tampil bodoh?

...

Apakah kita masih butuh Toa demi membangunkan orang-orang yang merem, tak memahami situasi genting ini? Padahal mereka punya gadget, yang terhubung dengan informasi-informasi. Apa sesungguhnya yang menghalangi kita untuk bekerja lebih efisien dan efektif, yang dengannya kita tak perlu kehilangan banyak hal, materi, waktu, ruang, juga jiwa?

Jared Diamond dalam Collapse (2018), juga mengungkapkan kekesalannya, melihat warisan kebodohan akut dari peradaban-peradaban silam. Menurutnya, seharusnya masyarakat modern kini, yang lebih kompleks dan tersentralisasi, didukung aliran informasi yang tinggi, saluran-saluran perintah formal. Tapi anehnya, dengan semua itu, mereka masih kerap menghasilkan kebijakan-kebijakan bodoh.

Apa yang membatasi kita untuk bersikap proporsional, professional, dan memberi ruang yang lebih kepada para pakar, juga pengambil kebijakan? Sehingga dalam situasi darurat, langkah-langkah penanganannya bisa terukur dan berjalan dengan baik.

Kebodohan adalah gengsi

Mengapa masih saja, ada pihak yang getol meneriakkan ‘lockdown’ bahkan di saat beberapa negara menyadari keputusan mereka yang tergesa-gesa? Mengapa pula masih ada pihak yang berpikir bisa mengatur keuangan negara, sesimpel mengatur kas celengan masjid? Mengapa kebanyakan orang terlalu pintar untuk tampil bodoh?

Jauh hari, Yuval Harari sudah mengingatkan kita, “Jangan pernah meremehkan kebodohan manusia”. Tapi masalah terbesar kita adalah bukan hanya soal ‘meremehkan’, bahkan untuk mengidentifikasi ‘kebodohan manusia’ itu kadang justru lahir dari sejumlah asumsi-asumsi keliru. Alasan lain dan dominan adalah gengsi.

Bahkan, tindakan-tindakan kita jauh lebih kacau, tak terarah dan membingungkan, saling curiga, dibanding manusia-manusia yang baru saja keluar dari goa purba ratusan ribu tahun silam. Mereka tahu, apa yang tak seharusnya mereka makan, dan memahami dengan baik kapan waktu terbaik mendekam di dalam goa.

Saat menghadapi situasi genting, Presiden Jokowi mengumumkan paket stimulus bagi Kelompok Usaha Kecil Menengah, demi menjaga iklim usaha tetap hidup, demi menghindari kepanikan, demi menyambung hidup. Bahkan, itu ditambah lagi dengan penundaan pembiayaan angsuran, serta gratis biaya listrik untuk kategori 450va dan diskon 50 persen bagi pelanggan kategori 900va.  

Dan dengarlah keluhan generasi milenial itu: “Ah, kemarin saya ke pihak leasing, dan saya masih diminta tagihan bulan ini. Padahal tadi pagi Pak Jokowi berpidato soal penundaan angsuran kredir”. Mungkin dia pikir, pihak leasing itu sudah dapat telepon langsung dari istana.

Seorang polisi berpangkat Kompol akhirnya harus rela dimutasi dari jabatan Kapolsek Kembangan Jakarta Barat, setelah melanggar aturan disiplin, ngotot tetap menggelar keramaian untuk pesta pernikahannya di tengah pandemic Corona. Ia menantang maklumat Kapolri terkait pertimbangan menghadapi Covid-19.

Mengapa kesalahan-kesalahan ini terlalu massif dan berulang-ulang? Celakanya, itu juga terjadi di level elit global.    

Kebodohan-kebodohan dunia

Kita punya dokter Siti Supari, mantan Menteri Kesehatan, tapi kini ia masih diterungku. Saat menjabat menteri, ia pernah menggugat otoritas WHO, yang sebagai lembaga kesehatan dunia, dinilainya hanya sebagai organisasi pemulus kepentingan Amerika cs. “Mengapa sampel seed (benih) virus H5N1, Flu Burung itu harus dikirim ke WHO, sementara di Indonesia pun punya laboratorium sendiri?” Dan mengapa WHO tak berhenti merengek untuk mengejar hak paten penangkal virus itu, untuk diserahkan ke perusahaan vaksin? Mengapa mereka terlalu bodoh mengabaikan keselamatan jutaan nyawa demi mengejar uang?  

WHO ingin menunjukkan bahwa beginilah dunia bekerja. Tapi, dr. Siti justru menantang, dunia bisa lebih baik tanpa intervensi Amerika cs. Dunia bisa lebih sehat, tanpa kepentingan bisnis di balik persoalan pandemic itu. “Saatnya dunia berubah”, buku yang ditulisnya, detail membahas tentang kisah perjuangannya melawan kejahatan terstruktur, sebuah kelompok ‘ring 1’ yang mengendalikan PBB, perusahaan transnasional, IMF dan Word Bank.

Tapi mengapa dokter Siti seperti ditelan bumi? Padahal, dari tulisan beliau lah, kita mendengar, bahwa di atas tanah ini, pernah ada gedung Lab Militer milik Amerika yang bernama NAMRU, namun konon kini telah berganti nama.

Kalau betul kita sedang berperang untuk menyelamatkan manusia, mengapa Ibu dokter tidak diberi grasi demi menambah skuat menghadapi covid-19? Apakah ia harus disingkirkan karena tak sehaluan dengan kebijakan politik penguasa? Jika demikian, jelas sekali kebodohan telah memerangkap kita dari berbagai penjuru mata angin.

Mungkin garis besar dari semua kebingungan ini adalah manusia memang pelupa, tapi justru senang tampil bodoh. Bahkan dengan pengalaman, manusia lebih sering lupa memetik pelajaran. Sebab, jika dunia memang belajar, perang dunia kedua tak seharusnya terjadi, menyusul jutaan nyawa yang melayang pada perang dunia pertama. Jika warga Amerika benar-benar rasional, tak seharusnya Trump jadi presiden. Bahkan untuk alasan demokrasi sekalipun.

Kekonyolan lainnya, saat inggris memilih menetapkan mekanisme referendum untuk menentukan masa depan mereka di kelompok Uni Eropa. Ini tentu bukan soal keputusan yang akhirnya membawa Inggris ‘berpisah dengan Eropa’, tapi memberikan hak suara yang setara kepada buruh harian, mahasiswa, pekerja kantoran, sama dengan ahli ekonomi dan pakar geopolitik, jelas sebuah kekeliruan fatal.

Pandemic kebodohan?

Banyak politisi kita memiliki stok narasi bodoh untuk diumbar ke publik, demi simpatik, demi agar berbeda dengan pemerintah. Seorang politisi anggota DPR dari PKS, mengatakan; “Tak ada satupun negara yang terapkan darurat sipil untuk covid-19”. Padahal, pidato terakhir Jokowi tidak atau belum menyebut darurat sipil.

Kita juga menyaksikan drama Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Tarik ulur penganganan Corona, dan beberapa kali menunjukkan sikap bertentangannya dengan pemerintah pusat. Tentu saja, saat ini kita lebih butuh tindakan real, dibanding konferensi pers hanya untuk mengumumkan jumlah data korban Corona, yang bahkan datanya belum terklarifikasi.  

Jelas ada upaya menunggangi Corona untuk elektabilitas sekaligun menyerang otoritas. Sungguh ini menggelikan dan tentu saja membuat kesal, mendengar narasi-narasi provokatif di tengah upaya kita mengonsolidasikan segenap kekuatan demi menyelamatkan negeri.

Pilpres masih jauh, musuh pandemic ini seharusnya bisa menyatukan para politisi itu. Atau jangan-jangan, kebodohan ini telah menjadi pandemic?

Gambar: musicfeeds.com

Beri tanggapan