fbpx
Pasang iklan

Mendikbud Nadiem: Skor Rendah Indonesia di PISA Kita Jadikan Bahan Evaluasi

...

Gema.id – Beberapa waktu lalu Economic Co-operation and Development mengumumkan skor PISA (Programme for International Student Assessment) terkait kualitas pendidikan di negara-negara dunia.

PISA dilakukan setiap tiga tahun sekali di mulai sejak tahun 2000 lalu, artinya telah sebanyak tujuh kali hal tersebut dilaksanakan, Indonesia pun sejak awal ikut dalam penilaian PISA. Untuk mengevaluasi pendidikan dengan mengukur kinerja siswa di pendidikan menengah terutama pada  tiga bidang: matematika, sains dan literasi.

Berdasarkan skor yang dikeluarkan Indonesia mulai dari matematika, sains dan literasi kesemuanya itu mengalami penurunan dari tahun 2015 lalu. Di tahun 2015 matematika Indonesia mendaptkan skor 386 menurun angkanya di tahun 2018 yakni 376. Di bidang sains tiga tahun lalu skornya 403 menurun tiga tahun kemudian menjadi 396. Serta soal literasi dari 397 turun dengan skor 371.

Rataan skor Indonesia sangatlah tertinggal jauh dari negara-negara lainnya. PISA menempatkan China di urutan teratas soal kualitas pendidikan. China dalam bidang literasi memperoleh skor 555, sains dengan skor 590, dan matematika dengan skor 591.

Di bawah China bercokol negara Asia Tenggara yakni Singapura berada di urutan kedua. Indonesia juga kalah dari Malaysia, Thailand dan Brunei dalam peringkat PISA kali ini. Dari 79 negara yang Indonesia hanya mengalahkam  Philipina, Republik Dominican, Kosovo, Lebanon, dan Maroko.

Menanggapi hal tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta agar rilis data yang dikeluarkan oleh PISA lembaga menjadi landasan untuk terus melakukan kritik pada pendidikan kita sendiri dan tidak perlu mengemas menjadi berita positif.

Baca Juga: Apa yang Bisa Guru Harapkan dari Nadiem?

Dirinya meminta agar semua pemangku kepentingan mengubah paradigma mereka saat ini dari ‘asal bapak senang’ menjadi lebih terbuka dan berani melakukan perubahan guna mengejar ketertinggalan.

“Kita perlu paradigma baru di mana semua pemimpin mulai dari kementerian sampai kepala sekolah, kalau ada sesuatu yang buruk, kita harus jujur dan langsung meng-addres dan bergerak,” tagas Nadiem, dikutip dari Kompas (8/12/2019),

Dengan data yang dipaparkan menunjukkan Indonesia mengalami penurunan dan perlu mengejar ketertinggalan, Nadiem Makarim sadar pendidikan kita memang perlu evaluasi dengan adanya pijakan berdasarkan fakta yang terjadi kini.

“Kita tidak mungkin mengetahui apa yang harus kita perbaiki, apa yang perlu kita lanjutkan, kalau kita tidak mendapatkan persepektif dari luar, apakah itu dari luar sekolah kita, luar kelembagaan kita baik luar negara kita,” ujarnya.

Fokus penilaian PISA sendiri sebenarnya berubah dari tahun ke tahun, mengikuti perkembangan zaman. Misalnya pada tahun 2012 fokus PISA di problem-solving, di tahun 2015 fokus di collaborative problem-solving dan tahun 2015 PISA memperkenalkan konsep global competence.      

Beri tanggapan