fbpx
Pasang iklan

Melawan Cebong-Kampret Di Musim Pilpres 2019

(Gema – Jakarta) Pada era Orde Baru, seluruh informasi dicorongkan melalui satu pintu yakni kementerian penerangan dan satu siaran televisi nasional yakni TVRI. Peran dari corong ini sangat ampuh menyampaikan kebijakan pemerintah dan juga ‘ikut’ melestarikan kepemimpinan orde baru pada masanya.

Tidak ada yang berubah dari peran media dan berita saat ini, hampir sama dengan era-era yang sebelumnya. Alih-alih dengan dalil ingin menyuarakan kebenaran, adil dan berimbang. Kecenderungan media saat ini lebih tertuju ke arah mesin politik terselebung. Tujuannya satu yakni ‘ikut’ melestarikan suara yang telah dicaplok sebelumnya dan mengajak orang lain untuk ‘ikut’ tercaplok suaranya.

Meskipun tidak berubah, tentu saja tetap ada perbedaan antara media di era beberapa dekade yang lalu dibandingkan dengan media yang ada satu dekade ini, terkhususnya saat internet menjadi kebutuhan primer dari setiap orang dan media sosial menjadi tempat rumpi yang paling ribut setiap menit-nya.

Jika di era bapak pembangunan, Jenderal Soeharto semua berita dipertanggungjawabkan oleh pemerintah secara langsung, terlepas dari benar atau tidaknya informasi yang digaungkan, masyarakat dan mahasiswa dimudahkan dalam melakukan kontrol sosial karena hanya dihadapkan oleh satu masalah dengan dua jawaban.

Apakah TVRI benar dalam menyampaikan berita? jawabannya tentu saja ‘ya’ dan ‘tidak’. Sisanya akan ada aksinya yang mendukung atau menolak berita tersebut.

Tidak semua berita di masa Soeharto adalah berita propaganda pemerintah untuk memilih kembali sang ‘juru selamat’ Indonesia pada era 1965, masa dimana PKI mencoba menghianati pancasila untuk yang kedua kalinya setelah gagal di Madiun tahun 1948, seperti yang banyak generasi millennial percaya.

Beberapa produk dari propaganda tersebut terbukti sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia. Sebagai contoh mungkin Swasembada Pangan yang sepertinya mustahil di negeri yang memiliki penduduk 80 juta jiwa dan swasembada Minyak. Hasilnya masih bisa kita nikmati hingga saat ini, coba tengok SD-SD Impres di seluruh negeri yang dibangun secepat kilat oleh pemerintah setelah minyak membludak.

Meskipun pembangunannya ala kadarnya, tanahnya sempit, bangunannya sedikit tapi kebijakan ini sangat sesuai dengan pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. SD-SD ini dibangun dibanyak titik padat penduduk yang jauh dari akses kendaraan umum agar daun-daun muda bangsa bisa tumbuh menjadi daun sehat dan hijau.

Setelah mendengar kabar dari Pemerintah melalui corong pemerintah, masyarakat Indonesia kompak mencari lokasi kecil di perkampungan mereka, meskipun tidak luas sesuai arahan, asal cukup dibangun sekolah dasar. Hasilnya tidak butuh waktu lama sampai akhirnya 6000 SD Impres berhasil di bangun pada tahap pertama dan ditutup dengan jumlah hampir mencapai 180.000 SD diseluruh Indonesia.

Corong inipun digunakan untuk menyampaikan kebijakan wajib belajar di seluruh Indonesia, sehingga saya sebagai salah satu alumni SD Impres yang sangat kecil sekali, mampu mengetikkan kalimat-kalimat ini.

Peran Media Saat ini.

Mari kita kembali ke media massa kini, mungkin saya terlalu berterima kasih dengan Presiden Soeharto atas jasanya mencerdaskan kehidupan anak-anak miskin di tempat saya tumbuh melalui SD Impres yang saat itu rasanya sangat sulit untuk mendapatkan Sekolah yang lebih layak jika SD impres tidak ada. Saya tumbuh besar di daerah marginal dekat sungai Tallo di Kota Makassar di pertengahan tahun 1990-an.

Saat ini ada beberapa perbedaan seperti yang telah saya tulisakan sebelumnya, jika dulu media hanya ada satu, sangat mudah untuk merespon instruksi dari satu arah. Saya sendiri sama sekali tidak mendukung sistem kepemimpinan otoriter bahkan menuju diktator, tapi untuk kasus mengatasi banyaknya jumlah penduduk, sistem informasi yang diberikan satu arah atau paling tidak, tidak ada perbedaan yang mencolok antara berita yang disampaikan oleh media berlogo merah atau media yang berlogo biru.

Dalam kasus Diversity berita bukan menjadi masalah, masalahnya menjadi simpangsiur untuk satu berita yang diframing dengan beberapa sudut. Multi tafsir pun tidak terhindarkan pada lapisan masyarakat. Fenomena sosialnya sederhana. Kelompok dengan interpretasi yang sama akan berkumpul satu sama lain.

Egosentris yang awalnya hanya dimiliki oleh individu, dalam kelompok homogen akan berubah menjadi satu ego yang diwakilkan dalam satu kelompok dan tentu saja akan menyerang kelompok dengan pandangan yang berbeda. Chaos pun sangat mudah disulut, tidak perlu pakai tabung gas 3 kg atau premium yang terkadang sangat langka ditemukan, cukup dengan percikan api dari gesekan kayu bisa berubah menjadi malapetaka.

Semoga ini tidak terjadi di negeri kita tercinta.

Hanya saja tetap ada kekhawatiran yang muncul dengan adanya kelompok-kelompok ini, terlebih menjelang Pilpres 2019. Pemilihan presiden yang akan diselenggarakan tahun 2019 membuat masyarakat di Indonesia seolah-olah terkutubkan oleh dua pilihan yakni Jokowi atau Prabowo.

Tidak ada yang salah dari memilih salah satunya, yang jadi masalah adalah ketika memilih salah satu dari kandidat tersebut bukan karena keunggulannya, melainkan karena kekurangannya. Aura negatif dari menjelekkan sesuatu tentu saja tidak akan lepas begitu saja. Akan terkumpul jadi satu dan siap meledak kapan saja.

Pernyataan ini tentu saja bukan generalisasi dari pemilih Jokowi dan Prabowo, hanya sebagian dari pendukung yang terasosiasi dengan kata Cebong dan Kampret karena hanya Cebong yang menjelekkan Kampret, begitu pula sebaliknya.

Tidak perlu susah-susah untuk membayangkan, kasus Viking dan Jack Mania mungkin hal yang representatif untuk menggambarkan masa depan dari Cebong dan Kampret.  Tapi apakah mereka benar-benar saling menudukan satu sama lain?

Sejarah Kampret dan Cebong tidak berasal dari dunia nyata, mereka berdua muncul dan bertebaran di media sosial, sungguhpun ada di dunia nyata mungkin tidak semassive di media Sosial. Penggunaan Istilah Cebong sebagaimana yang kita ketahui berasal dari kebisaan unik pak Presiden Jokowi yang memelihara Katak di kolam Istana, sehingga para pendukung Jokowi dianggap sebagai Cebong peliharaan oleh para kampret. Hal yang serupa terjadi pada Kampret, Para cebong menyebut pendukung Prabowo sebagai Kampret karena kebiasaan memutarkan balikkan keadaan dianalogikan sebagai kampret yang tidurnya terbalik sehingga otaknya terbalik.

Apakah sebutan ini berasal dari Jokowi dan Prabowo? Tidak ada rujukan yang jelas dan bisa membuktikan hal ini. Tentu saja masalah seperti sangat mudah di lacak di masa Orde Baru dimana pemilik media adalah orang nomor satu di Indonesia, sehingga pertanggung jawabannya cukup ke satu orang saja. Hal yang pasti dari sebutan ini berasal dari Sosial Media yang disebarkan oleh para Buzzer di media sosial.

Era Media Sosial dan Buzzer.

Jika anda pengguna aktif media sosial untuk Facebook dan Twitter mungkin Cebong dan Kampret sudah menjadi hal yang lumrah. Seberapun usaha anda sebagai pengguna media sosial untuk tidak terlibat dengan postingan yang berbau cebong dan kampret, selalu saja yang nyantol di time line kita mengenai dua hal ini.

Berita dari cebong dan kampret yang terbaca oleh pengguna media sosial tentu saja tidak serta merta dibenarkan dipikiran anda, namun sedikit banyaknya dua hal ini sudah mulai memiliki tempat di alam bawah sadar anda, kecuali bagi mereka yang benar-benar setuju dengan berita-berita Cebong-Kampret.

Sesekali membaca berita ini mungkin tidak akan berpengaruh pada pilihan dan keputusan, namun ada fenomena lain yang bisa saja terjadi yakni Atenuasi atau penguatan berita yang dicocokkan dengan fakta yang ada.

Sebagai contoh dengan melemahnya nilai tukar rupiah, Membuat beberapa kebutuhan elektronik jadi naik. Hasilnya rasa kesal tentu saja muncul. Rasa ini akan membuat ingatan yang tersimpan di alam bawah sadar. Ingatan ini naik pangkat menjadi Rasio dan menghubungkan fakta dengan berita buruknya pemerintahan Jokowi sehingga harga Dollar Naik. Pada akhirnya selamat anda sudah resmi menjadi Kampret baru.

Hal-hal ini tidak hanya berlaku bagi Kampret, Para Cebong baru juga akan mengalami hal yang sama ketika Ratna Sarumpaet ketahuan bohong menghasilkan banyak Cebong Baru bermunculan ibarat sarang katak di musim kawin.

Kalau begitu hampir semua Cebong dan Kampret memilih pilihan mereka bukan karena Visi dan Misi Jokowi dan Prabowo, tapi apakah karena kegagalan salah satu kandidat memenuhi harapan mereka? Tentu saja ini terlihat benar, namun jika ditilik lebih dalam lagi, penyebabnya adalah panggilan ingatan dari alam bawah sadar yang terdiri dari Berita Benar dan Berita Hoaks yang proporsinya lebih banyak berita Hoaks.

Penyebabnya tidak lain adalah para Buzzer yang bermain di media sosial yang seenaknya mengisi alam bawah sadar kita. Masalah ini menjadi runyam lebih runyam dimana buzer dari Stasiun televisi swasta yang sudah jelas kepemilikannya saja tidak bisa ditindaki oleh KPI, atau KPI memang sejatinya berat sebelah apalagi menindaki para Buzzer media sosial yang kebanyakan anonimous dan beridentitas palsu.

Jika hal ini terus dibiarkan saya khawatir Cebong-Kampret ini akan berubah menjadi Viking-Jackmania dengan skala Indonesia. Persekusi menjadi hal yang lumrah dan merusak tatanan kehidupan.

Satu-satunya peluang adalah adalah mencegah diri kita menjadi  Cebong-Kampret yang baru dengan melaporkan setiap akun yang menyebarkan berita yang provokasi serta berbentuk ujaran Kebencian. Memang lambat namun jika seluruh orang-orang yang membaca tulisan ini melakukan hal yang sama, kita akan menjadi kelompok baru diluar Cebong-Kampret yang melawan kebiasaan burung mereka menjelekkan orang lain.

Menjadi kelompok baru heterogen pendukung Prabowo atau Jokowi yang tidak menjelekkan salah satunya dan memilih karena kesesuaian Visi Misi serta melawan Kampret-Cebong dalam menyebarkan aura negatif di Pilpress 2019.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)