fbpx
Pasang iklan

Manuver Tommy di Papua

Pada Pemilu lalu, Tommy memilih nyaleg dari Dapil Papua lewat Partai Berkarya. Ia gagal terpilih, karena tak mampu memenuhi ambang batas 4 persen. Dan Papua kini memanas dan terbakar, hanya karena ejekan di Surabaya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Apa urusannya Tommy mewakili Papua di parlemen? Rasanya tak ada rumus politik atau kalkulasi meyakinkan, selain ingatan yang tertuju pada Soeharto. Soeharto yang memberi izin untuk operasi Freeport di Papua tahun 1967. Tentu klan Cendana ini punya saham di sana. Entah kini nilainya berapa setelah kebijakan divestasi yang dilakukan pemerintah?

Dan mereka menyaksikan Pemerintahan Jokowi terus menekan Freeport hingga batas kepemilikan saham dominan 51 persen berhasil menjadi milik negara. Dalam rumus induktif, frase-frase di atas bisa menghadirkan frase lainnya yang berirama konklusi: Tommy-Cendana jelas punya kepentingan di Papua. Ketika kepentingan mereka dipreteli oleh pemerintah, maka wajar mereka bereaksi. Dan seharusnya tak sulit memahami maneuver Tommy di Papua.

Sepanjang tahun politik kemarin, Tommy pada beberapa kesempatan mengenang masa-masa kejayaan Orba. Lalu populerlah nyanyian ‘rindu Orba’ atau ‘penak jaman Harto’. Berkarya adalah metamorfosis untuk kebangkitan Orba.

Penak jaman Orba

Tapi, hasil Pemilu tak berpihak ke Partai Berkarya yang dipimpinnya. Tak memenuhi syarat ambang batas parlemen, syarat yang harus dipenuhi untuk mendudukkan wakilnya di DPR-RI. Ia kalah bersaing dengan para pemenang:

PDIP Perjuangan 15,59 %
Partai Golkar14,1 %
Gerindra11,14 %
Nasdem10,28 %
Demokrat8,28 %
PKB7,96 %
PKS7,32 %
PAN6,75 %
PPP4,19 %

Ternyata warga Papua tak rindu Orba. Meski tahun lalu di musim kampanye, Tommy menyerang pemerintah dalam kapasitasnya sebagai Ketum Partai Berkarya saat berkunjung di Wamena. Ia berbicara tentang ekonomi dan utang pemerintah yang makin membengkak. Katanya, pemerintah seharusnya merujuk apa yang dilakukan Orde Baru, demi membawa perubahan ekonomi.

“Saya melihat selama 20 tahun reformasi malah menurun di mana ketergantungan terhadap asing dan utang luar negeri yang semakin besar. Kegiatan ekonomi masyarakat kecil tidak berkembang”. (detik.com, 10/9/2018)

Tommy bernostalgia. Menurutnya, pemerintah seharusnya melanjutkan kebijakan Orde Baru bersama Trilogi pembangunannya. Trilogy yang dimaksud  adalah stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi tinggi, serta pemerataan pembangunan serta hasilnya. Terdengar begitu sempurna.

Bersama partai Berkarya, Tommy terang-terangan mengatakan bahwa hingga kini masih banyak yang percaya cara kepemimpinan Soeharto. Mereka membangun imaji, membayangkan Pak Harto bangkit dan berujar, “Penak jamanku toh…!”. Tommy lugas menyebut Berkarya mengusung nilai-nilai Orde Baru.

Selain trilogy, Tommy juga menyebut utang negara yang kian membengkak, dan hasilnya dinikmari oleh segelintir orang. Tak lupa ia menyinggung soal KKN yang makin menggila. Lebih dibanding apa yang pernah terjadi saat Soeharto berkuasa. Soal KKN itu juga diungkapkan di sebuah program TV Mata Najwa, yang membuatnya dihujat, mengingat justru KKN tumbuh subur di era Orde Baru. Hanya isu KKN yang mampu mengonsolidasikan kekuatan besar untuk menyudahi 32 tahun kekuasaan Soeharto.    

Tapi Tommy seharusnya tahu, kesenjangan antar daerah (Jawa-luar Jawa), keterpurukan ekonomi, utang negara yang tak terkendali, maraknya KKN, Pemilu yang tak pernah bisa Jurdil (jujurdan adil) dan dipaksa untuk Luber, adalah produk dari pemerintahan Soeharto.

Dan urusan Freeport tentu Tommy sangat paham. Di tahun 1989, Soeharto memberikan  izin perluasan wilayah tambang ke Freeport seluas 2,5 juta hectare, yang sebelumnya sudah cukup luas, 10 ribu hectare. (tirto.id, 21/2/2017)

Pada Mei 1999, NYTimes menulis laporan soal bagaimana Presiden Soeharto menumpuk harta kekayaannya. Setahun sebelumnya, muncul laporan adanya pergeseran sejumlah uang dalam jumlah yang fantastis dari bak Swiss ke bank lain di Austria. Tempat terakhir dianggap sebagai tempat paling aman untuk aktivitas menimbun uang dalam bentuk deposito gelap. Time menyebut sebanyak $ 9 milyar uang Soeharto ikut dipindahkan. Dan itu hanya sebagian dari hartanya.  

Jika kurs US$ 1 dihitung Rp 14.000,- kekayaan keluarga Cendana, mencakup yayasan ditaksir senilai 60 trilyun. Ini menurut Paul Hunt (dimuat di koran Guardian & Mail, Inggris) yang memperkirakan harta kelompok Cendana sebesar US$ 5  milyar. Namun pada tahun 1991, sebuah tesis Ph.D. oleh Jeffrey Winters mengutip data CIA (Central Intelligence Agency) lebih besar lagi, yakni mencapai US$ 15 billion (Vriens, 1995: 49).

Data lainnya bahkan lebih besar lagi. Jika dihitung kepemilikan saham di tambang Freeport, serta PT Astra Internasional, maka seluruh harta keluarga Soeharto diperkirakan mencapai US$ 40 milyar (Newsweek, 26/1/1998). Andai uang sebanyak itu milik negara, mungkin Indonesia tak perlu didera krisis moneter dan dijerat IMF.

Cendana belum selesai

Keluarga Cendana pasti muak dengan pemerintah yang dipimpin Jokowi. Terakhir, aset Supersemar yang senilai trilyunan rupiah diputuskan oleh MA (Mahkamah Agung) jadi milik negara.

Tapi Cendana dan Tommy belum selesai. Tommy sendiri masih berada di daftar orang-orang tajir di Indonesia. Kekayaannya tersebar di beberapa perusahaan, seperti Grup Humpuss, yang total memiliki 10 anak perusahaan. Perusahaan yang pernah membidani lahirnya mobil nasional bermerek Timor. Daftar kekayaannya juga bisa ditelusuri di Lor International Hotel Group (bertaraf internasional dan berbintang lima) serta sejumlah hotel berbintang empat, seperti Loji Hotel Solo, Amantis Demak, dan Noormans Hotel Semarang. (moneysmart.id)

Tommy memiliki peternakan senilai $4 juta di Selandia Baru, yang setengahnya adalah yacht senilai $4juta di laur Darwin. Ia juga punya saham dominan (75 %) di lapangan golf 18 lubang dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris.

Daftar itu belum selesai. Sebuah dokumen menyebutkan kalau Tommy punya saham di Lamborghini. Dari dokumen keuangan berskala internasional Paradise Paper, nama Tommy Soeharto juga dikutip. Tommy dikabarkan punya V-Power Corp, perusahaan yang memiliki saham Automobili Lamborghini.

Data itu belum termasuk apa yang dimiliki oleh putra dan putri Soeharto yang lainnya.  

Tommy belum menyerah. Meski ia pernah merasakan dinginnya bilik penjara. Ia divonis 10 tahun bui pada 2002 atas kasus pembunuhan Hakim Agung Syarifuddin Kartasasmita, setahun sebelumnya. Di tahun yang sama, Cendana bangkit lewat Tutut, sang kakak. Ia mendeklarasikan berdirinya Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Tommy sendiri di tahun 2014 sudah berhasil memulihkan diri dan kembali ke gelangggang politik melalui bendera Partai Nasional Republik.

Papua yang tak boleh menyerah

Pemilu April lalu, Tommy memutuskan nyaleg dari Dapil Papua. Sebelumnya, tak segan partai Berkarya mendaulat si bungsu sebagai kandidat presiden. Tommy yang mungkin memahami bagian-bagian terdalam Papua dan bagaimana mengeksploitasinya, dan berpikir bisa menggunakan suara Papua untuk duduk di Parlemen. Beruntung dia gagal terpilih.

Kenyataannya, Papua yang telah dikeruk emasnya, tak henti dipreteli sisi kemanusiaannya. Kesenjangan, harapan hidup, dan operasi militer. Mereka harus hidup di tengah konflik yang mencekam. Memang harus diakui, negara belum sepenuhnya hadir di Papua. Masih banyak daftar pelanggaran HAM terjadi di Papua yang belum diusut. Meski begitu, sengkarut Papua tak lantas membuat kita menyerah. Papua tak boleh menyerah hanya karena iming-iming ‘rindu Orba’. Kisruh Papua jelas tak masuk akal. Setidaknya, dengan logika sederhana, bagaimana mungkin ejekan ‘monyet’ di Surabaya bisa memicu pembakaran gedung di Papua?

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)