fbpx
Pasang iklan

Makna Pertemuan di dalam Gerbong

“Ada yang bertanya, kenapa Pak Prabowo belum mengucapkan selamat atas ditetapkannya Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia untuk 2019-2024. Saya katakan, saya ini bagaimanapun ada … eh… ewu pekewuh… ada toto kromo. Jadi kalau ucapan selamat maunya langsung, tatap muka. Jadi saya ucapkan selamat…” diiringi tepuk tangan dan teriakan, Prabowo menjabat tangan Jokowi disertai saling lempar senyum.   

Tak ada yang lebih menyita perhatian, selain pertemuan Jokowi – Prabowo di gebong kereta MRT Lebakbulus (13/7/2019).  Harus diakui, keduanya adalah reprensetasi gerbong politik Indonesia. Jika di Amerika ada Partai Republik dan Demokrat, di sini seteru panas melahirkan dua kubu saling berhadapan: ‘kampret’ versus ‘cebong’. Mereka adalah pendukung fanatic, militant. 

Orang-orang bisa berbicara dan mengeluh tentang politik yang kotor dan maraknya kampanye hitam. Tapi pada akhirnya, politik adalah proses pendewasaan dalam menemukan cara terbaik bernegara.

Tensi politik bisa lebih cepat turun dari perkiraan. Karenanya, meski dianggap telat, tapi pertemuan keduanya sangat berharga bagi terajutnya kembali kohesi social pasca-Pilpres. Setelah rusuh Mei yang menelan korban jiwa. Setelah hujatan dan makian kian berisik di media sosial.

Makna pertemuan di gerbong

Pertemuan di gerbong adalah kejutan. Setelah melewati episode buram, dimana etika dan moralitas seperti digilas begitu saja oleh sadisnya politik. Tak ada kata menyerah, sebelum lawan kalah. Setidaknya begitulah yang terdengar.

Yang menggembirakan tentu saja adalah prediksi bahwa Prabowo akan tetap menolak kalah, terbukti tidak benar. Agak sentimentil, tapi ini bukan kisah drama yang lakonnya sudah diatur-atur. Kalah dua kali bukan akhir dari segalanya bagi Prabowo. Pengabdian kepada bangsa dan Negara bisa dilakukan dalam kondisi apapun tanpa harus menjadi presiden.   

Yang perlu dan penting untuk diapresiasi adalah upaya keduanya untuk bertemu. Setelah banyak kalangan mendorong pertemuan, yang memang belum pernah dilakukan sejak Pilpres April lalu. Siapapun yang berperan, terima kasih untuk para inisiator yang berhasil meyakinkan keduanya untuk bertemu.

Ada pesan kuat, bahwa seharusnya sebutan ‘kampret’ dan sindiran ‘cebong’ sudah tidak digunakan lagi. Polarisasi pendukung yang lebih sering bersinggungan pada ranah etis ketimbang adu argument memang tak seharusnya diteruskan. Politik model begini lebih menguras emosi ketimbang menajamkan visi.

Kini, keduanya (Prabowo dan Jokowi) sudah memberi kode untuk gerbong masing-masing. Tak perlu menunggu Negara bubar untuk menyadari bahwa Pilpres bukan ajang sebar fitnah, bukan perang badar, juga bukan pertarungan benar-salah.  

Entropi

Dalam politik persepsi adalah segalanya. Inilah yang membuat pertemuan Prabowo-Jokowi di gerbong kereta menarik perhatian. Kita tahu, tak semudah itu menyudahi kemelut. Atau debat siapa yang terbaik. Bahkan, Pilpres ini sudah menelan korban, menggerus emosi, juga jiwa yang melayang -yang mungkin sama sekali tak paham bagaimana politik ini bekerja.

Plato menolak adagium suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi, lebih banyak orang Indonesia yang tak kenal Plato. Begitulah politik gerbong bekerja. Ia seumpama wagon untuk mengangkut barang atau apapun termasuk jenis-jenis manusia. Dan ketika Tuhan pun diajak berpolitik dan harus memihak kelompok tertentu, akhirnya banyak yang meradang menghadapi kenyataan.  

Lantas, apakah kata kunci dari pertemuan tersebut? Kalau ini disebut rekonsiliasi, itu lebih baik. Meski pada dasarnya, bukan sesuatu yang penting. Ketimbang merumuskan agenda-agenda pembangunan periode kedua.   

Tapi, jika melihat kembali momen-momen kampanye hingga digelarnya sidang MK, terlihat dengan jelas kekuatan-kekuatan yang mendorong entropi dan kekacauan. Semoga energy yang menyembul dari kekacauan –kekacauan itu segera menyebar dan diserap oleh alam.

Makna bagi Prabowo dan Jokowi

Lalu, apa pesan yang disampaikan oleh dua tokoh ini dengan memilih tempat pertemuan di dalam gerbong? Dalam prakteknya, gerbong adalah tempat sesak, kerumunan yang diisi orang-orang dengan mobilitas tinggi, lebih sering tercipta kekacauan.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari pertemuan gerbong kereta itu. Salah satu dan mungkin yang terpenting adalah kebesaran jiwa. Hanya kebesaran jiwa yang bisa menerima kenyataan bahwa yang lebih penting dari politik adalah persoalan menjaga keutuhan kebangsaan.

Dua kali Pilpres mempertemukan keduanya. Sebuah kontestasi tertinggi di negeri yang menganut asa multipartai ini. Keduanya berhasil menarik gerbong politik, menggabungkan partai-partai yang berlatar ideologi berbeda.

Bagi Prabowo, meski kalah dua kali, kini ia seharusnya memahami bahwa untuk menjadi negarawan, mengabdikan diri pada Ibu Pertiwi, ia sudah di sana dan tak harus jadi presiden. Dan Jokowi, untuk mengalahkan Prabowo tak cukup hanya dengan suara terbanyak.     

Jika Prabowo bertahan atau Jokowi berkeras, demokrasi politik ini akan terus mereproduksi apa yang dikuatirkan oleh Plato, yakni sesak dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, yang akhirnya akan melahirkan kekerasan-kekerasan. Pada akhirnya, semua perhatian mengarah ke dua tokoh sentral ini. Bahkan, tanpa caption-pun gambar mereka berdua di dalam gerbong sudah cukup untuk menjadi kampanye damai: sudahilah pertengkaran ini…!

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)