fbpx
Pasang iklan

Kontroversi Politik Genderuwo-Sontoloyo Jokowi, JK Imbau Pemilih Lihat Visi-Misi Kandidat

GEMA, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai wajar jika kandidat capres-cawapres memberi pernyataan kontroversial, salah satunya pernyataan Joko Widodo (Jokowi) terkait ‘politik genderuwo’ hingga ‘politik sontoloyo’. Menurut JK, baiknya yang perlu dikomentari publik ialah visi-misi capres-cawapres yang akan dipaparkan saat debat Pilpres 2019.

“Ini kan masih 5 bulan lagi, biasanya itu nanti visi itu nanti pada debat-debat TV,” kata JK di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pada Selasa, 13 November 2018.

JK menanggapi pernyataan capres-cawapres akhir-akhir ini yang dinilai kurang substansial ke pemaparan visi-misi. Menurut JK, di setiap kontestasi pemilu atau pilpres selalu ada pernyataan kontroversial yang disampaikan kandidat. Dia pun menjelaskan 3 macam model kampanye.

“Ya di mana-mana begitu (ada pernyataan kontroversial). Itu ada namanya 3 macam kampanye, kampanye positif, kampanye negatif, kampanye hitam. Itu yang saling buka kampanye negatif namanya. You (kamu) salah kita ungkap, you punya kesalahan. Karena itu jangan berbuat salah lah, salah bicara, salah bertindak, salah apa, macam-macam,” imbuhnya.

Selain pernyataan kontroversial capres-cawapres, menurut JK, saat ini adalah momentum timses saling berdebat.

“Sekarang baru bicara kan umumnya orang lain. Yang berdebat di TV itu kan masih tim sukses belum calonnya sendiri. Calonnya nanti kan 2-3 bulan sebelumnya (Pilpres) baru. Nah itu baru bicara program di situ,” tuturnya.

Meskipun banyak saling sindir dan pernyataan kontroversial yang dikeluarkan 2 kubu, JK melihat kondisi masyarakat menghadapi Pilpres 2019 masih kondusif.

“Ada konflik nggak? Nggak ada kan? Ya kondusif artinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Narasi ‘politikus sontoloyo’ disampaikan Jokowi untuk pihak yang mengadu domba, menyebar fitnah, dan memecah belah demi merebut kekuasaan. Sedangkan istilah ‘politik genderuwo’ ditujukan kepada politikus yang kerap menyebarkan propaganda yang menakut-nakuti masyarakat.

Jokowi dinilai gerah dengan kubu oposisi yang terus-terusan mengritiknya. Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai, Jokowi jengkel karena kinerjanya seolah tidak diakui oposisi dalam hal ini kubu Prabowo-Sandi selama empat tahun memimpin. Padahal, kata Adi, tidak semua pencapaian Jokowi mendapat rapor merah.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)