fbpx
Pasang iklan

Konteks Melampaui Kamus

...

Perang opini ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ tak terhindarkan. Usai Jokowi meladeni Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa terkait kebijakan PSBB yang tentu saja membatasi mobilitas warga. Meladeni di sini tentu tak berarti melayani tamu atau saling serang layaknya dua orang petinju. Meladeni di sini dipahami sebagai kesediaan untuk berdialog atau berbincang.

Pakar bahasa seketika ramai berkicau di jagat media sosial. Dan pihak haters sepertinya terlanjur mendapat amunisi segar setelah Jokowi menjelaskan tentang ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’. Orang-orang lalu merujuk kamus. Kemudian menyimpulkan bahwa ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ sebenarnya memiliki makna yang sama. Bahkan, perbedaan keduanya hanya mengandung unsur jumlah huruf pembentuk kata. Keduanya terlalu identik, bahkan tak bisa dikategorikan berbeda secara semantik. Benarkah?   

Kamus

Dan ketika kita membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kita akan melihat kedua kata itu ditempatkan sejajar, alias sinonim.

Padahal, makna kata tentu saja jauh lebih luas dari apa yang bisa dirangkum oleh sebuah buku kamus, termasuk kamus sinonim. Tapi, benarkah kedua kata itu benar-benar identik?

Sebelum menjawab, mari kita selami makna kata sebagai bahasa manusia, yang terikat konteks; waktu, tempat, juga peristiwa.

Kamus yang berisi deretan kata, praktis hanya memuat makna leksikal, makna dasar. Kamus lengkap biasanya disertai dengan contoh kalimat demi memandu pembaca dalam penggunaan kata. Meskipun sebenarnya, tanpa contoh kalimat pun, seorang penulis atau penutur bebas menggunakan kata sesuai kebutuhan atau tujuan.

Cinta. Ia akan memiliki makna berbeda tergantung penuturnya. Seorang ibu mengatakan cinta kepada anaknya, akan menghasilkan bukan hanya makna berbeda tapi juga getaran jiwa, jika itu diucapkan seorang kekasih kepada pujaan hatinya. 

Jadi, dalam prosesnya, sebuah kata akan menemukan tuannya sendiri. Saat kata dirangkum dalam sebuah kalimat, definisinya akan mengikut kepada bukan hanya kalimat pembentuknya, lebih jauh lagi adalah variabel penutur.  

Dengan begitu, kamus tentu tak cukup digunakan untuk dijadikan bahan debat.

Konteks

Begitulah sebuah kata, tak mungkin dimaknai tunggal. ‘Sebuah kata’ tak mungkin hanya diartikan diartikan sebagai ‘sesuatu’, tetapi ia bisa dan seharusnya dikaitkan dengan apa saja yang berhubungan dengannya.  

Kamus hanya referensi. Ia bisa dirujuk untuk memberi penekakan atau tepatnya demi meyakinkan penutur atau penulis. Memang, kamus bisa saja berisi perkembangan kata, selipan kata serapan, atau kata-kata baru yang terbentuk dari interaksi penutur. Tapi, tetap saja kata tidak dibentuk oleh kamus. Kata tumbuh dari tradisi, penutur, proses transformasi budaya, akulturasi, juga eksplorasi seni-sastra.

Belum lagi ketika kita melihat secara kontekstual, yang tentu saja tak mungkin membatasi sebuah kata untuk dipahami sama oleh orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, dan dari berbagai belahan dunia.  

Orang-orang tahu, Jokowi tidak sedang bermain kata. Sementara masih banyak warga yang seakan butuh kejelasan. Sebagian yang lainnya, memilih bermain pada makna semantik.

Lantas, apa perlunya Jokowi membuat pengertian berbeda untuk dua kata yang memiliki makna identik?

Jokowi mengartikan ‘mudik’ sekadar pulang ke kampung asal dan akan kembali lagi dalam waktu tertentu, sedangkan “pulang kampung” diartikannya sebagai pulang ke daerah asal karena di kota tak lagi punya pekerjaan, dan kemungkinan untuk menetap kembali di kampung. Sesederhana itu.     

Saya melihat justru Jokowi ingin menyederhanakan kebijakan PSBB, yang seharusnya segera dipatuhi oleh semua warga terdampak, tanpa perlu menunggu surat edaran pemerintah. Bukankah PSBB menghendaki warga menghindari kerumunan? Bukankah cara terbaik menghindari paparan virus Corona adalah dengan tetap berdiam diri di rumah?

Kalaupun dalam keadaan darurat, seorang harus keluar dari rumah, PSBB tentu harus (terpaksa) mengakomodir. Dengan konsekuensi, makin banyak pergerakan warga, makin rumit pengaturannya, makin berat beban untuk membendung penyebaran virus.  

Maksud inilah yang sepertinya menginspirasi Jokowi menggunakan dua kata ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’. 

Melampaui kata

Kembali ke konteks. Peristiwa atau rangkaian peristiwa, bagaimanapun akan melampaui setiap makna di dalam kamus. Ketika berhadapan dengan realitas, orang-orang akan tunduk pada konteks tinimbang apa yang tersurat di dalam kamus.

Presiden memberikan penjelasan tentang kondisi negeri. Bahwa dampak Covid-19 ini menghantam sendi perekonomian, yang salah satu efek turunannya adalah pengangguran. Kehidupan di kota tentu semakin berat. Daripada bertahan dalam kondisi yang tak menentu, dan tentu saja dengan tekanan makin berat, pilihan meninggalkan kota akhirnya dilakukan.

Jokowi tentu memahami kondisi dilematis itu. Tinggal di kota dan kian terpuruk, pulang ke kampung namun harus berurusan dengan protap Covid-19. Simalakama.

Bisa saja, presiden tak meladeni Mba Nana, dan ‘mudik’ vs ‘pulang kampung’ tak perlu menuai kontroversi. Larangan mudik sudah cukup untuk menahan siapapun demi menekan penyebaran Covid-19.  

“Tapi, tidak ada jaminan mereka yang pulang kampung tidak balik lagi…” kata seorang teman.

Memang. Seperti halnya tidak ada yang bisa menjamin, orang-orang akan tetap di rumah meski mereka tiap hari diimbau untuk tetap di rumah.  

Bahkan tak ada jaminan pemberlakuan PSBB cukup menghalangi seseorang untuk tetap berkerumun. Semuanya kembali ke kesadaran diri.         

Begitulah bahasa, yang bahkan bagi Roland Barthes adalah fasis. Bahasa tumbuh mengidentikkan diri bersama kelompok penuturnya. Ia yang bisa saja tanpa disadari, akan menjadi medium kekuasaan, menjadi alat penekan, atau untuk membenarkan tindakan.

Mungkin mereka lupa, kalau mudik’ punya istilah ‘arus balik mudik’, tapi tidak dengan ‘arus balik kampung’.

Ada yang bilang, “alaah, itu kan hanya istilah”. “Ya istilah, sayangnya Corona tak peduli istilah. Ia hanya tahu dengan kerumunan dan interaksi adalah makanan empuknya…”

Gambar: The Jakarta Post

Beri tanggapan