fbpx
Pasang iklan

Klepon dan Antinomi Konsep Religi

...

GEMA.ID – Konon, salah satu yang pernah membuat Belanda terheran-heran selama kedatangan mereka di Tanah Bugis, saat mendapatkan kue onde-onde, yang kalau di Jawa dinamai klepon. Bule itu kagum dengan kemampuan emak-emak kita, yang tanpa bantuan teknologi atau alat suntik, tapi bisa memasukkan potongan kecil gula merah ke dalam bulatan terigu dibalur parutan kelapa.

Klepon yang kini sedang “sesat karena viral” atau “viral karena sesat”, justru disegani di jaman Belanda, haha.

Segera Belanda menyadari, kalau onde-onde itu memang bukan penganan biasa. Onde-onde tak ditemukan di pasar. Mungkin karena onde-onde ini memang masuk kategori sakral, yang selalu melengkapi sesajen pada momen hajatan apapun.

Tapi, saya malah menduga, mungkin hanya karena emak-emak kewalahan menentukan berapa butir yang sepadan untuk ditukar dengan uang 5 sen. Ini yang membedakannya dengan Bandang-bandang, Apang, Cucuru, atau Bolu Cukke. Jenis penganan itu, mudah dihitung secara komposisi dan bentuk, termasuk Onde-onde Jawa, hehe.

Suci dan profan hanya persepsi

Saya kira, memang banyak hal perlu kembali dibicarakan, atau setidaknya direnungi, terutama tradisi-tradisi warisan leluhur, yang telah lama mengadaptasi ajaran-ajaran agama, yang oleh para sosiolog disebut sebagai akulturasi berbentuk sinkretisme.  

Di saat proses transformasi budaya-agama belum tuntas, kini muncul serangan digital. Dalam dunia digital, kita menyaksikan yang sakral dan profan, tercampur. Di dalam layar gaget semua sama, ayat-ayat suci bisa satu halaman dengan aplikasi-aplikasi judi online seperti poker dan domino.

Dalam ruang digital, tentu tak ada yang terlalu sakral untuk dibahas. GaDget bisa menampung ayat-ayat suci, ribuan hadist, juga tutorial memandikan jenazah. Penceramah pun dengan mudah mengisi kanal-kanal religius di aplikasi-aplikasi video streaming, laiknya artis-artis yang kini ramai meninggalkan stasiun televisi untuk hijrah ke Youtube, memburu atau diburu subscriber.

Pertanyaan kita adalah, bagaimana tradisi-tradisi leluhur itu, juga agama-agama, mampu beradaptasi dengan gelombang digital ini? Jika algoritma tak mampu membedakan yang sakral dan yang profan, lalu bagaimana warisan adat dan agama-agama, yang kaya dengan hal-hal mistis dapat tetap eksis?

Bahkan, lebih jauh lagi, jangan-jangan kita belum mampu untuk sekadar membedakan antara fakta, proposisi, dan persepsi. Fakta bahwa onde-onde adalah produk cemilan, ia diterima atau disangkal, tergantung struktur proposisi kalimatnya. Ia sesat atau suci tak lebih hanya lahir dari persepsi manusianya.

Aspek-aspek religius yang lekat dengan predikat suci, memang tak bisa lepas dari moralitas dan juga agama. Ini adalah soal kebajikan. Sebagai konsep, yang suci tak seharusnya dipertentangkan dengan yang profan. Tapi, justru konsep inilah yang seringkali membawa manusia terpecah, dan tanpa sadar menanggalkan rasionalitasnya.    

Ruang kosong

Immanuel Kant membantu kita membuat kategori untuk merumuskan, apa yang disebutnya sebagai akal budi murni dan akal budi praktis, sebagai realitas supersensibel, tentang Tuhan, kebebasan dan keabadian. Tiga konsep pengetahuan itu -Tuhan, kebebasan, keabadian- cenderung dogmatis dan bertentangan dengan konsep pengetahuan kita tentang alam semesta.    

Kant pasti sengaja menyisakan antinomi yang berwujud “ruang kosong”, sebagai sesuatu yang justru bisa diakses oleh siapapun. Tuhan dipercayai atau tidak itu tak akan mereduksi keber-Ada-annya. Sehingga, siapapun yang sedang dalam perjalanan menuju atau memiliki rumusan konsep tentang Tuhan, tak seharusnya terjebak dalam kepongahan.  

Kant juga mengemukakan kritiknya terhadap cara kita mempersepsikan moral atau kebajikan tertinggi, yang selama ini lebih diidentikkan sebagai, hanya produk agama. Konsep Kant tentang kategorischer imperative, bahwa moral datang dari manusia, sebagaimana muncul perasaan wajib untuk bertindak atau melakukan sesuatu, yang seolah-olah memerintah, namun sifatnya tidak memaksa.

Jadi, memang terlihat menggelikan, ketika agama terlalu jauh masuk menyoal onde-onde. Sama naifnya, mereka yang masih fobhia dengan simbol palu-arit atau mereka yang terpikir ingin melaporkan logo “we bare bears” yang dituduh menistakan agama karena sengaja menaruh lafaz allah di filter panda beruang.  

Pada titik ini, dengan apa yang setiap hari kita ributkan, mungkin dengan sendirinya menjelaskan bahwa masa transisi kita masih panjang. Masih jauh jarak yang harus ditempuh sebelum menjajaki era digital, ruang yang terbuka, serta didukung oleh teknologi mutakhir.

Padahal, perkembangan tekonologi yang kian mutakhir kini, seharusnya lebih meringankan beban manusia, mendorong manusia untuk lebih bijak, membantu memecahkan persoalan-persoalan baru, bukannya berkubang pada persoalan-persoalan lama. Singkatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah kereta yang akan membawa manusia untuk lebih sejahtera dan tentu saja tetap rasional.

Akhirnya, “klepon yang sesat” adalah gambaran situasi antinomi manusia dalam menerapkan standar moral dalam konsep religi. Mungkin juga bisa jadi bukti kalau sebagian besar kita memang belum beranjak jauh dari era kegelapan.

Gambar: gstatic

Beri tanggapan