fbpx
Pasang iklan

Kisah Buntung Untung Bin Samsuri – Perwirwa Berprestasi ABRI yang jadi Tukang Jagal PKI

...

Gema.ID – Nama Letnan Kolonel Untung Bin Samsuri menjadi salah satu nama yang kurang populer sebelum tahun 1965, paling tidak jika dikenal pun namanya hanya seputaran ABRI saja karena untung merupakan salah satu Perwira yang memiliki banyak prestasi di masanya, namun setelah 30 September 1965, nama Untung menjadi salah satu orang yang paling dicari oleh anggota TNI yang setia pada pancasila dan Masyarakat Indonesia.

Untung bin Samsuri lahir Desa Sruni, Kedung Bajul, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada tanggal 3 Juli 1926 silam. Lahir dengan nama Kusmindar namun teman sebayanya sering memanggilnya dengan nama Kusman. Kedua orang tua Kumindar bercerai saat ia masih berusia 10 tahun, lalu ia diasuh oleh adik bapaknya yang bernama Samsuri.

Oleh Samsuri, Untung dibawa bersekolah di Solo yang kala itu memiliki fasilitas pendidikan yang lebih maju dibandingkan denganKebumen atau bahkan sama sekali belum punya sekolah. Samsori memilih membesarkan untuk karena ia dan istrinya belum juga dikarunia anak. Samsuri pada nama Untung kelak diambil dari nama Paman yang ia sudah anggap sebagai Ayah.

Kariri Militer

Samsuri dan istrinya merupakan rakyat jelatan yang bekerja pada seorang Priyayi keturunan trah Kasunan, Wergoe Prajoko yang berkediaman di Keparen, Solo. Tahun 1943, pada zaman operasi militer Jepang di Asia Timur dan Tenggara, Untung mendaftar Organisasi militer Jepang, Heiho. Saat itu Kusmindar kira-kira berusia 18 tahun.

Heiho sendiri adalah pasukan bentukan Jepang yang terdiri dari warga pribumi yang tujuannya untuk membentuk pasukan cadangan Jepang guna menghadapi perang Pasifik. Selain Heiho, Jepang juga menginisiasi terbentuk PETA.

Bisa dikatakan dua organisasi ini adalah organisasi militer dengan pola pelatihan Modern kala itu dimana kebanyakan Militer Indonesia berasal dari masyarakat lapis bawah yang hanya memiliki keberanian untuk ikut bertempur. Kalaupun ada perwira tinggi mereka juga tetap bentukan Jepang atau Belanda yang diberi pendidikan militer modern.

Setelah Jepang mengakui kekalahan di Perang Dunia II, Tentara Jepang berangsur-angsur menarik diri dari Idonesia. Kusmindar alias Untung kemudian bergabung dengan Batalyon Sudigdo yang bermarkas di Wonogiri, Jawa tengah. Tahun 1947, Batalyon Sudigdo ini masuk dalam Divis Panembahan Senopati yang berhasil ditarik sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia.

Memang pada masa perjuangan, Komunis Indonesia memiliki andil besar dalam menentukan kekuatan politik dan militer Indonesia, terlebih dukungan dari Rusia dan China kala itu.

Menteri Pertahanan pada tahun 1947 kala itu dijabat oleh Amir Sjarifuddin yang merupakan salah satu tokoh PKI. Semua laskar-laskar yang memiliki afiliasi dengan komunis menjadi bagian yang diprioritaskan untuk mendapatkan fasilitas Senjata dan fasilitas militer, termasuk Batalyon Sudigdia yang dikepalai oleh Lerkol Suadi Suramiharjo.

Terafiliasi Batalyon Sudigdo dan anggita ABRI dengan paham komunias dari seorang elit PKI, Alimin membuat Panglima Besar ABRI, Jenderal Soedirman khawatir, maka diutuslah Letkol Soeharto untuk membujuk anggota Divisi Panembahan Senopati agar tidak ikut paham Komunis, namun gagal meskipun Soeharto sudah berhasil bertemu Muso dan Alimin, namun mereka tetap berpaham komunis.

Termasuk salah satunya adalah Untung bin Samsuri gagal dibujuk Soeharto. Tahun 1948, PKi Muso dan Alimin yang tidak sepaham dengan kebijakan nasional presiden Soekarno mengambil jalan pintas dengan melakukan pemberontakan Madiun. Muso membantai ratusan tokoh, kiayi, tokoh agama, prajurit TNI, bahkan sampai Bupati Madiun yang tidak sejalan dengan PKI.

Kejadian tersebut berhasil membuat nama pasukan Divisi Panembahan Senopati termasuk untung lolos dari keterlibatan Muso akibat peran Tan Malaka yang sudah memperingatkan lebih dulu langkah terjal Muso.

Letkol Soeharto kembali ditugaskan untuk menangkap semua tokoh yang terlibat dalam gerakan pemborantakan PKI di Madiun, namun karena kejadian tersebut bersamaan dengan Agresi Militer Belanda II, Fokus ABRI menjadi terpecah sehingga hanya menumpas tokoh yang langsung terlibat saja.

Prajurit Berprestasi ABRI

Kusmindar dan pasukan dari Divisi Panembahan Senopati akhirnya tidak menjadi target operasi penumpasan pemberontakan Madiun. Kusmindar kemudian masuk Akademi Militer di Semarang, nah dari momen ini Kusmindar mengganti namanya menjadi Untung bin Samsuri karena merasa beruntung lolos dari hukuman dari Pemberontakan PKI Madiun, meskipun tidak ada penjelasan resmi tentang alasan Kusmin Ganti nama setelah masuk peristiwa Madiun.

Nama Untung ternyata membawa banyak keberuntungan bagi dirinya, bagaimana tidak, Untung bin Samsuri ternyata menunjukkan proses pendidikan yang baik dan menjadi lulusan terbaik Akademik Militer. Hasilnya tahun 1965 Untung ditugaskan ke satuan pasukan elit, Batalyon 455 Kodam Diponegoro yang saat itu masih bernama Teritorium Diponegoro di bawah pimpinan Kolonel Soeharto.

Wisuda Kolonel Untung bin Samsuri Di Sekolah Militer Semarang
Untung bin Samsuri di Acara Penamatan Akdemi Militer di Semarang

Tahun 1958, Dibawah pimpinan Mayor Jenderal Ahmad Yani, Untung ditugaskan untuk ikut penumpas pemberontakan PRRI atau Permersta di Daerah Bukti Gombak, Batusangkat, Sumatra Barat. Tidak hanya tahun 14 Agutus 1962 Untung kembali ditugaskan pada Operasi Madalan untuk membebaskan Irian Barat dibawah pimpinan Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto.

Dalam Operasi Mandala, Untung menunjukkan kemampuannya yang handal dalam memimpin pasukan kecil di hutan Kaimana. Kemampuannya memimpin pasukan di hutan Kaimana bahkan disejajarkan dengan Benny Moerdani yang sama-sama mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno, setelah operasi dilaksanakan.

Prajurit TNI AU Para Operasi Mandala
Para Prajurit Penerjun yang Ditugaskan pada Operasi Mandala

Sebagai pembanding seberapa tinggi bintang ini, Panglima Kostrad yang dijabat oleh Soeharto hanya mendapatkan Bintang Dharma yang levelnya berada satu tingkat dibawah Bintang Sakti. Bintang ini diberikan sebagai tanda kehormatan bagi Prajurit TNI yang menunjukkan keberanian dan kepahlawanan yang lebih besar dari tugas yang diberikan ketika di medan perang.

Penghargaan ini juga bisa kepada Rakyat Sipil dengan catatan mereka iktu menjalankan operasi militer di Medan perang dan memenuhi kriteria yang sudah ditentukan.

Satu tahun pasca Operasi Mandala, Letnan Jenderal Ahmad Yani membentuk pasukan serba guna Batalyon 454 Banteng Raiders yang berada dibawah naungan Kodam Diponegoro, Untung dengan Bintang Sakti di dadanya ditunjuk sebagai Koamandan Batalyon tersebut.

Tahun 1964, atas perintah usulan dari Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto, Letkol Untung ditunjuk sebagai Komandan Grup I Batalyon Tjakrabirawa yang merupakan pasukan elit dari empat Angkatan Yakni Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Kepolisian. Batalyon Tjakrabirawa merupakan pasukan khusus pengawal Presiden.

Keberuntungan Habis dari Untung bin Samsuri

Tahun 1964 menjadi tahun terakhir “dewi fortuna” ada disisi Untung, 30 September 1965, pasca gerakan Gestapu atau G30S/PKI. Untung memimpin pasukan Banteng Raider dan pasukan Tjakrabirawa bersamanya dalam melakukan aksi penculikan 6 Jenderal Angkatan Darat dan Satu perwira Pertama Ajudan Jenderal AD akibat isu dewan Jenderal yang hendal melakukan Coup de Etat Presiden Soekarno.

Jumat, 1 Okotober 1965 nama Letnan Kolonel Untung mendadap terdengar di seluruh sudut kota Jakarta dan juga pelosok Indonesia melalui Radio Republik Indonesia. Setelah melakukan penculikan, Untung melakukan siaran di RRI secara paksa agar Dewan Revolusi Indonesia segera dibentuk dengan susunan. Dia sendiri menjadi Komandan yang dalam pimpinan Dewan tersebut.

Dewan ini dibentuk Untuk untuk menindaklanjuti operasi Gestapu yang memiliki target Operasi Dewan Jenderal yang akan dilakukan oleh Angkatan Darat untuk melakukan Kudeta terhadap Soekarno pada hari Angkatan bersenjata tanggal 5 Oktober 1965.

Nama-nama yang ada dalam Dewan Revolusi pada level Presidium dimasukkan untuk secara acak dengan posisi dibawah Untung, sedangkan masyarakat diminta membuat susunan serupa dari disetiap tingakat yakni Provinsi, Kota/Kabupaten, dan seterusnya.

Setelah operasi Gestapu digagalkan oleh Angkatan Darat dan tepatnya oleh atasan Untung Sendiri, Mayor Jenderal Soeharto, Untung melarikan diri. Keahliannya di ke Militeran membuat dirinya bisa bersembunyi sampai tanggal 11 Oktober. Untung yang hendak ke Semarang dengan menumpang sebuah bus kaget saat melihat dua orang anggota bersenjata di dalam bus yang ia tumpangi, karena kaget Untung melompat keluar bis yang sedang berjalan.

Dua tentara yang curiga lantas mengejar Pria tersebut dan tertangkap di Daerah Asem Tiga Karton, Tegal Jawa Tengah. Saat tertangkap dia tidak mengaku jika namanya Untung, lalu dia dibawa ke markas CPM Tegal. Setelah proses interogasi akhinya ia mengakui jati dirinya. Dua anggota Armed ini tidak percaya jika mereka ternyata menangkap sosok kunci pada pemberontakan G30S/PKI.

Pasca tertangkap Untung kemudian dihadapkan dengan sidang kilat Mahkama Militer Luar Biasa yang lebih dikenal dengan sebutan Mahmilub. Sidang 6 Maret 1966 tersebut menyatakan Untung bersalah atas tindakannya dan membuatnya dijatuhi hukuman Mati. Hukuman matipun dilakukan pada tahun yang sama dna menjadi tahun terakhir Algojo PKI ini menghirup udara.

Beri tanggapan