fbpx
Pasang iklan

Kerugian Indonesia Pasca G30S

...

Gema – Pada sebuah wawancara bersama Left Book Review, John Roosa berkata tidak habis pikir, mengapa tragedi di ujung September 1965 lalu, tidak dibuka, tidak dilakukan investigasi yang lebih mendalam. Roosa juga menyayangkan reformasi 1998 tidak menempatkan Orde Baru sebagai sebuah paket dengan peristiwa 1965. Sepanjang 32 tahun Orde Baru, selama itu pula terjadi misseducation terhadap sejarah kelam yang mengantar Soeharto berkuasa.

Roosa menemukan keganjilan, perisitwa G30S adalah konspirasi tingkat elite yang menempatkan PKI sebagai satu-satunya pihak yang bersalah. Padahal, menurutnya, bahkan secara kelembagaan tak ditemukan bukti yang kuat mengenai keterlibatan partai yang masuk ke dalam tiga besar pada pemilu 1955.

Kesimpulan Roosa untuk tidak melekatkan ‘PKI’ dalam ‘G30S’ memang penting untuk dikaji. Dengan kekuatan di parlemen dan struktur organisasi yang kuat dan jaringan kelembagaan yang luas (buruh-tani), hanya mereka yang kurang waras berpikir PKI punya alasan untuk melakukan kudeta.

Menurut Roosa, G30S itu operasi rahasia. Badan-badan partai, seperti Central Committee (CC) atau Committee Daerah Besar (CDB) tingkat provinsi, tidak pernah membicarakan G30S. Kecuali manuver yang dilakukan oleh Untung cs perwakilan perwira progresif, namun tetap saja tidak bisa mewakili secara kelembagaan PKI. Ada dualisme dalam tubuh PKI, sebagaimana yang terjadi di dalam tubuh tentara.  

Kenyataan adanya friksi di dalam tubuh tentara, terutama dalam angkatan udara. Dalam logika sederhana, bagaimana PKI yang hanya merupakan partai sipil, mampu menggerakkan pasukan bersenjata lengkap dan membunuhi jenderal aktif?  

Tanpa mengabaikan fakta bahwa PKI berhasil merekrut tentara menjadi anggota, menembak jenderal aktif adalah sebuah tindakan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh seorang tentara. Kecuali, jika kita berani menyimpulkan bahwa konspirasi kudeta terhadap Soekarno, dilakukan oleh orang-orang berseragam loreng dan bersenjata lengkap, yang selanjutnya memunculkan seorang pahlawan bernama Soeharto.  

Membuang Bung Karno

Orde Baru menyadari pentingnya PKI dijadikan alat propaganda untuk menguatkan citra pemberontak. Rezim ini setidaknya butuh musuh sebagai supplement bagi penguatan nasionalisme. Begitulah kisah perang ideologi dimunculkan. Pertarungan komunisme melawan kapitalisme-liberalisme menghadirkan pancasila sebagai pemenang. Lalu, Orde Baru dengan bangga menetapkan 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila.

Drama G30S kemudian dilanjutkan dengan sekuel Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966. Beberapa analisis meragukan keabsahan surat sakti itu. Tapi, bagaimanapun wujudnya, surat sakti itulah yang memberikan ‘legitimasi’ kepada Soeharto untuk selanjutnya berkuasa selama 32 tahun.

Tanpa hambatan berarti, Soeharto berhasil mengambil-alih pemerintahan dari tangan Soekarno, seorang pendiri bangsa yang kemudian oleh Orde Baru turut dicap sebagai sekutu PKI. Bahkan, di akhir hayatnya, segala informasi Bung Karno seperti menguap.

Generasi yang hilang

Kerugian besar yang diderita Indonesia adalah generasi yang hilang. Pasca G30S, jutaan orang mati dibunuh dengan dalih menghancurkan PKI. Orang Indonesia membunuhi sesama Indonesia. Mereka yang tergabung dalam organisasi sayap, embel-embel PKI, serta simpatisan, seperti tak berdaya menerima takdir, keanggotaannya dalam sebuah partai membuatnya menemui ajal lebih cepat.

Jutaan orang dibunuh untuk membalas aksi di malam Tiga Puluh September, dari segi kuantitas tentu tidak sebanding. Roosa bahkan mengabadikan sebuah buku dengan judul “Dalih Pembunuhan Massal”, demi membuka cakrawal berpikir dan memberi perspektif baru, bahwa G30S memang terjadi, namun rangkaian peristiwa setelahnya menjadi kenyataan pahit terjadinya genosida.

Putra-putra terbaik bangsa dibunuh karena mereka adalah anggota dari partai progresif. Pengadilan jalanan oleh massa tak terkendali, sudah cukup menghadirkan kengerian. Sulit untuk membenarkan, gerakan semassif itu, melakukan tindakan kejahatan luar biasa, demi membalaskan dendam? atau demi membunuh sebuah ideologi?  

Citra tentara

Kemarin, ajakan Nobar film “Pengkhianatan G30S/PKI” kembali mewarnai timeline media sosial. Di sekolah, OSIS bersama guru pembina, tak ketinggalan menonton adegan-adegan sadis, demi menanamkan dalam jiwa, semangat nasionalisme? Apakah nasionalisme kita benar-benar sudah berada di titik terendah, sehingga harus dipantik dengan film penyiksaan?

Seperti tahun lalu, jenderal Gatot Nurmantyo mengajak anak buahnya untuk menonton film garapan Arifin C Noer itu. Di acara resmi sebuah stasiun televisi nasional, Gatot terang menunjuk adanya gerakan sistematis pihak-pihak yang ingin kembali menghidupkan PKI.

Tapi, semua argumen jenderal purnawirawan Gatot terbantahkan. Yang menyarankan penghapusan TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 adalah Gus Dur, bukan PKI, sebagaimana yang disangkanya. Setelah reformasi 98, Presiden Habibie memerintahkan untuk menghentikan penayangan wajib film berdurasi lebih tiga jam itu. Lagi-lagi, Gatot salah.

Menodai Pancasila

Pancasila Sakti adalah sebuah monument yang dibangun oleh Presiden Soeharto, demi mengenang jasa pahlawan revolusi. Para pahlawan itu telah menunaikan tugasnya menjaga ideologi negara, Pancasila dari ancaman komunisme.

Di dalam monument yang dibangun di atas lahan 14,6 hektare, masih dapat ditemui manekin-manekin, menggambarkan penyiksaan dan pembunuhan. Sayangnya, di dalam monument itu, sama sekali tidak disebut ada jutaan orang Indonesia mati karena cap PKI.

Hari ini saya berpikir, atas nama Pancasila, 1 Oktober seharusnya tidak lagi diperingati sebagai hari kesaktian. Karena, jika kita berani membuka lembaran sejarah kelam, bahkan kita akan membaca, bagaimana orang-orang bisa dengan mudahnya dibunuh oleh massa dengan dalih PKI, atau atas nama Pancasila. Jangan-jangan, hanya karena ingin membunuh ‘hantu’ PKI, tindakan kita sudah jauh melenceng, bahkan menodai nilai-nilai Pancasila.

Beri tanggapan