fbpx
Pasang iklan

Keramat Asyura

Gema – Saya termasuk terlambat memahami apa itu Asyura dan makna yang dikandungnya. Memang, sejak kecil, orangtua di kampung, rutin melakukan ritual seperti masak bubur dan dimakan bersama sanak keluarga, tapi kami tidak diberitahu apa tujuan dari ritual itu.

Kami sering mendengar tentang Muharram, sebagai bulan keramat, tapi penjelasan tentang itu, tidak pernah memuaskan. Orangtua menyarankan agar di awal-awal bulan ini, sebaiknya jangan melakukan kegiatan-kegiatan besar, sedapat-mungkin hindari keluar kampung. Memilih waktu pernikahan pun tidak pernah disarankan di bulan ini.

Tapi, mengapa Muharram disebut keramat, tetap menjadi misteri. Orang-orang hanya mematuhinya, karena orangtua mereka. Muharram keramat adalah bagian dari ritual.

Di sekolah pun, kita tidak pernah membaca tentang Asyura, juga Muharram yang keramat. Garis besar sejarah Islam hanya menyebut pergantian khilafah dengan segala keberhasilannya. Tak ada kisah Asyura dalam sejarah Islam di Indonesia di bangku sekolah. Kenyataan ini seperti menyodorkan sebuah keanehan. ada sejarah yang tertutupi.

Asyura yang selama ini ditutupi

Peristiwa penting terkait perjalanan sejarah keluarga nabi, yang meninggal tidak lazim. Husein meninggal oleh umat islam sendiri, kepalanya dipenggal dan di arak di sebuah kota kecil di Irak, Karbala. Tak mungkin peristiwa sebesar itu luput dari sejarah, kecuali ada konspirasi besar yang menghendaki penghapusan memori pembantaian itu, atau ini lagi-lagi soal kekuasaan?   

Bahkan mungkin sebagian besar dari kita, mengenal Asyura justru karena tradisi itu dipropagandakan sebagai sesat. Cobalah luangkan waktu mengetik ‘Asyura’ di google dan youtube, tak butuh waktu lama berbagai laman dan channel segera member bahan bacaan dan tontonan yang isinya, adalah propaganda.

Mengapa Asyura ditutupi? Mengapa justru ia disebut sebagai ritual sesat?

Ada banyak informasi yang menyesatkan terkait Asyura. Padahal, kata Quraish Shihab, ritual Asyura itu bermacam-macam tergantung daerahnya. Secara universal yang diperingati adalah nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Jadi, tidak benar ketika seseorang mendasarkan tuduhan sesatnya hanya karena melihat contoh di suatu tempat.

Yang paling umum kita baca dan dengar bahwa ritual sesat itu adalah bukti bahwa mazhab Syiah adalah sesat. Bahkan, kalangan tertentu membuat generalisasi dan menyebut Ahlulbait Nabi Saw sebagai sesat.

Tuduhan sesat boleh jadi timbul karena informasi yang diperoleh. Tapi, tentu saja tidak boleh ikut meragukan kemuliaan Nabi Saw dan keluarganya.

Pembebasan

Hari Asyura hari keramat. Hari ke sepuluh Muharram ini diperingati sebagai tragedi berdarah, yang bukan hanya ditemui dalam tradisi Syiah. Husein cucu Nabi Saw bersama 73 orang rombongan keluarga dibantai oleh orang Islam sendiri, oleh penguasa yang dikenal diktator, Yazid.

Momen untuk merefleksikan kerinduan yang mendalam terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw. Sebuah tragedi yang terkesan tertutupi, penggalan sejarah yang seakan hilang di dalam lembaran buku-buku pelajaran.

Hari yang seharusnya digunakan untuk membuat perenungan, bahwa pertarungan kekuasaan telah membawa tragedi kemanusiaan yang pilu, tak tanggung-tanggung korbannya adalah cucu Nabi Saw bersama keluarganya.

Maka, kematian Husein dimaknai sebagai tumbal, bukan hanya bagi umat Islam, tetapi menjadi tragedi kemanusiaan universal. Pada tragedi itu, sejarah mencatat bagaimana kekuasaan bisa saja melakukan hal paling mengerikan demi mempertahankan kekuasaan.    

Sebagai peringatan, perenungan, Asyura disebut sebagai momen untuk mengasah nurani dan kepekaan kemanusiaan. Berkhidmat kepada cucu nabi tidak hanya menandakan kutukan terhadap praktek genosida, bahwa kekuasaan seringkali hadir menjadi alat untuk membunuh kemanusiaan. Kekuasaan bisa memperalat dan menghancurkan apapun, termasuk agama.

Filosofi Karbala

Asyura adalah hari peringatan kemanusiaan tentang bagaimana seharusnya kebenaran dan keadilan ditegakkan. Bahkan pemimpin Budha Dalai Lama, menyebut Asyura sebagai sebuah peristiwa penting yang tidak hanya berpengaruh bagi Islam, tapi seluruh umat. Ia berandai. Jika Asyura ada dalam tradisi Budha, mungkin umat Budha akan bertambah banyak.

Tapi, Sebuah pertanyaan yang selalu mengemuka, mengapa dinegeri ini, peringatan Asyura selalu ditentang dan dilarang? Padahal, berdasarkan tradisi, di beberapa daerah ada kita mengenal Jenang Suro, Bubur Suro, Grebek Suro, kemudian tradisi Tabot di Bengkulu atau Tabuik di Padang Pariaman, kemudian ada Tari Saman di Aceh dan lain sebagainnya, susah untuk tidak mengaitkannya dengan tradisi Asyura.

Bagi Muchsin Labib, filosofi Karbala adalah perjalanan menuju kematian demi menunjukkan kehormatan. Bagi Husein, lebih baik mati terhormat daripada hidup hina, yang slogan terkenalnya adalah “haihat minadz dzillah” atau “pantang hina.” Dengan prinsip itulah Imam Husein menunjukkan kepada dunia hingga kini, bahwa kematian sekalipun bisa menjadi jawaban terhadap ketidakadilan. Imam Husein telah mati, namun pesan kemanusiaannya abadi sepanjang masa. Labbayka yaa Husein…

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)