fbpx
Pasang iklan

Jokowi Harusnya Belajar Konsisten dari Patrick Star

Gema.id – Siapa yang tak kenal dengan karakter bintang laut dalam serial kartun Spongebob Squarepants satu ini. Karakter yang hidupnya tinggal dibalik batu dan dijuluki makhluk laut terbodoh di sebuah Kota bernama Bikini Bottom. Karakter dalam tiap episode Spongebob kerapkali mengundang canda tawa penonton karena tingkahnya yang konyol.

Patrick Star ialah nama yang diberikan oleh Stephen Hillenburg dalam serial kartun garapannya yang diidentikkan dengan karakter bodoh. Kendati kebodohannya itu ialah bentuk konsistensi dirinya sehingga hal itulah yang membedakannya dengan karakter-karakter lain dalam serial kartun tersebut.

Pertanyaan yang muncul ialah apa yang mesti dipelajari dari karakter kartun itu? Ya, konstistensi. Karena seringkali kita mengabaikan yang namanya konsistensi menjalani roda kehidupan dunia. Sebagai contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari ialah: hari ini kita mengatakan A kemudian akan berubah menjadi B dilain hari. Konsistensi tidak berjalan sebagaimana ucapan dari seorang pengucap.

Padahal jika kita cermati, bentuk konsistensi akan menjadi tolak ukur seseorang untuk percaya kepada kita. Konsistensi adalah bekal dalam perjalan hidup untuk menegasikan insinuasi publik kepada kita.

Lantas apa kaitannya dengan para politisi? Banyak khalayak mengindentikkan politisi dengan hal negatif yang dilekatkan kepada mereka, secara sederhana kita menyebut “anda politisi, anda jahat”. Hal itu terkontruksi dalam paradigma publik tentang para politisi kita hari-hari ini. Salah satu yang menjadi penyebab utama ialah para politisi kita terutama yang menjadi pejabat publik ialah tidak adanya sikap konsistensi yang digambarkan ke hadapan khalayak. Misalnya membuat janji kemudian mengingkarinya dilain hari.

Menjadi kegelisahan penulis ketika menyaksikan beberapa tayangan dan berita di media cetak maupun daring. Pejabat publik tak lagi konsisten dengan janji ketika mereka berkampanye.

Benar bahwa kampanye merupakan bentuk tawar menawar antara peserta Pemilu dan pemilih dalam kontestasi demokrasi agar tersalurkan suara publik dibalik bilik kotak suara. Tapi apakah hanya sebatas itu ukurannya? Tentu bukan, karena diperlukan realisasi terkait apa yang dijanjikan dalam kehidupan bernegara.

Bicara soal janji politik pejabat publik, hari-hari ini khalayak sibuk membincangkan soal kepongahan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa, salah satu contohnya ialah Presiden Jokowi yang mengingkari janji politiknya terkait penguatan lembaga ekstrayudisial Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan mengamini Revisi Undang-Undang KPK yang isinya justru melemahkan KPK menurut pengamatan publik.

Dan jika kita cermati bersama, ketika sidang paripurna DPR saat pengesahan revisi UU KPK, banyak kalangan menolak agar hal itu tidak dilakukan oleh mereka yang mengatakan wakil kita di Parlemen, karena muatan dalam revisi UU itu justru melemahkan bukan memperkuat lembaga antirasuah tersebut.

Beberapa pengamat yang tampil dalam tayangan televisi juga mengamini hal itu karena tak lepas dari analisa mereka terkait upaya pelemahan KPK melalui revisi UU yang dilakukan oleh DPR.

Publik yang dulunya percaya dengan janji kampanye Jokowi terkait penguatan KPK dalam pemberantasan korupsi justru berbalik arah melayangkan protes terhadap Kepala Negara mereka. Padahal jika Jokowi menjaga yang namanya konsistensi antara pengutaraan janji dan realisasi niscaya akan meningkatkan tingkat kepercayaan publik kepadanya dalam mengelola negara, sehingga tak menimbulkan kecemasan dalam kehidupan berbangsa.

KPK kita ketahui merupakan salah satu produk yang dihasilkan reformasi untuk memberantas praktik koruptif yang cenderung dilakukan oleh pejabat publik, dan jika lembaga itu dilemahkan dengan revisi UU KPK yang telah disahkan oleh Dewan di Parlemen, maka menurut imajinasi penulis pekerjaan negara di rezim sekarang ialah beternak koruptor.

Hal yang dikemukakan diatas bukanlah merupakan bentuk insinuatif warga negara kepada pelayan warga negara, kendati merupakan sebuah refleksi agar pejabat publik terutama kepala Negara mampu menjaga konsistensi mereka sebagaimana ungkapan janji kampanye yang digelorakan tiap pesta demokrasi berlangsung. Karakter Patrick Star seharusnya mampu menjadi bahan refleksi rezim dalam menjaga hal sublim bernama konsistensi.

Perlu kiranya pejabat publik kita belajar banyak dari karakter Patrick Star yang mempertontonkan bahwa kebodohan yang diiringi konsitensi bukanlah merupakan hal yang seharusnya ditertawakan tetapi menjadi pembelajaran dan bekal dalam kehidupan. Karena kecerdasan maupun kebodohan harus diiringi dengan hal paling mendasar yakni konsisten.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)