fbpx
Pasang iklan

Jadi Pembicara di Forum Luar Negeri, Prabowo Bicara Radikalisme di Indonesia

GEMA – Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto meyakini bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia adalah muslim yang moderat. Dirinya mengaku prihatin saat banyak ulama belakangan ini digolongkan dalam kelompok radikal.

Menurut Prabowo, pemimpin memiliki peran vital dalam mendidik umat dan mengayomi ulama agar tidak tersesat mengambil jalan radikal. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menjadi pembicara utama di The World 2019 Gala Diner yang diselenggarakan The Economist di Singapura.

“Saya yakin bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia adalah moderat dan mereka lelah sekali dikategorikan dalam politik yang radikal. Tapi sekali lagi, merupakan tanggung jawab seorang pemimpin untuk memimpin, pemimpin harus mengajar,” kata Prabowo dalam keterangan tertulis, pada Rabu, 28 November 2018.

Kendati demikian, Ketua Umum Partai Gerindra itu mengaku optimis melihat mayoritas pemuka agama di Indonesia mengecam rasikalisme dan mengkampanyekan ajaran Islam yang damai. Dikatakannya, Islam jalan tengah yang membawa manfaat bagi seluruh alam.

“Dan saya sangat optimis karena saya melihat banyak pemuka agama di Indonesia yang mengecam radikalisme dalam bentuk apa pun, dan ajaran Islam menekankan ini,” kata Prabowo.

Oleh karena itu, menurut Prabowo, pemimpin punya andil besar dalam meredam radikalisme dalam bentuk apa pun di Indonesia. Pemimpin juga wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak muda agar optimisme mereka terus tumbuh.

“Maka saya yakin bahwa pemimpin yang baik akan bisa meredakan segala bentuk radikalisme. Namun sekali lagi, apabila ada rasa kehilangan harapan, frustasi, pesimisme. Jika tidak ada masa depan bagi anak muda, maka para demagog agama akan mempengaruhi mereka,” tegas Prabowo.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penelitian Politik, Adriana Elizabeth mengatakan radikalisme berkembang di Indonesia begitu pesat. Dan hal tersebutlah yang menjadi pekerjaan rumah bagi kelompok nasionalis agar ideologi radikal tidak semakin meluas.

“Proses seseorang menjadi radikal itu sangat rumit. Jika dia tidak merasa nyaman dengan situasi demokrasi saat ini, dia akan mencari ideologi lain, termasuk radikalisme,” ujar Adriana di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta, pada Senin 19 Februari 2018.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)