fbpx
Pasang iklan

Isu Polemik Ruang Guru dan Program Kartu Pra Kerja Jadi Penyebab Belva Mundur dari Stafsus Melienial Presiden Jokowi

...

Gema.Id – Belva Devara, Pendiri sekaligus CEO Ruang guru, menyatakan mengundurkan diri sebagai Staf Khusus Milenial Kepresidenan menuai banyak repson dari berbagai pihak. Salah satunya dari Aktivis Haris Rusly Moty.

Rusly Moty berpendapat bahwa Belva merupakan korban pencitraan dari Jokowi untuk memenangkan Pemilu 2019 yang lalu, padahal para Staf Mileneal begitu saja ditarik langsung ke Istana tanpa ada penempaan terlebih dahulu.

“Jokowi telah mengorbankan generasi Muda milenial yang baik, mereka semestinya masih dalam tahap penempaan, langsung saja ditarik ke Istana, Akibatnya Generasi milenial yang Trauma,” jelas Haris Rusly Moty seperti yang dikutip dari RMOL, Selasa (21/4/2020).

Pengunduran diri Belva ini diisukan terkait dengan keterlibatan Ruang Guru sebagai penyedia jasa kursus berbayar dari program Pra Kerja Jokowi. Tidak ingin menjadi Polemik yang berkepanjangan, Belva menyatakan mengundurkan diri dari Stafsus Milenal Presiden.

“Saya mengambil keputusan yang berat ini karena saya tidak ingin membuat polemik mengenai asumsi atau persepsi publik yang bervariasi tentang posisi saya sebagai Staf Khusus Presiden menjadi berkepanjangan,” tulis CEO Ruang Guru ini di akun Instagramnya, Selasa (15/4/2020)

Surat Pengunduran resmi dari Belva ini kemudian ia sampaikan secara resmi ke instana pada Jum’at (17/4/2020), lalu status Belva secara resmi berhenti pada Selasa (21/4/2020).

Sebelumnya salah satu staf Khusus Mileneal Jokowi, Andi Taufan Garuda Putra juga membuat Polemik setelah membuat surat edara ke Camat agar perusahaan yang dipimpinya, PT Amartha Mikro Fintek dilibatkan dalam penanganan Covid-19.

Melalui surat resmi bernomor  003/S-SKP-ATGP/IV/2020  yang diedarkan pada 30 Maret 2020 lalu, Andi Taufan meminta camat-camat seluruh Indonesia untuk melibatkan perusahaanya ikutdilibatkan dalam penanganan Covid untuk area Sumatera, Jawa dan Sulawei Selatan.

Surat Tersebut menjadi polemik dan banyak dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan jabatan terutama dari Aktivis dari Pro Demokrasi (ProDEM) Adamsyah Wahab, namun bedanya, Alumni SMP Negeri 6 Makassar ini tidak mengundurkan diri dan lebih memilih menklarifikasi maksud dan tujuan dari Surat tersebut.

Beri tanggapan