fbpx
Pasang iklan

Irelevansi

Gema – Perubahan adalah kemestian, begitu kata filsuf. Tapi perubahan yang tak terkendali, yang berlangsung terlalu cepat, mungkin telah membawa manusia berada dalam kesenjangan, lalu bingung, dan akhirnya panik. Masih mending bingung kata Yuval, mereka yang panik sebenarnya menunjukkan kesombongan: sok tahu, merasa memahami situasi secara mendetail.

Coba cek kembali grup-grup WA, berapa kali dalam seminggu, kampanye ‘kiamat sudah dekat’ dishare berulang-ulang? Baiklah, jika kiamat memang terjadi besok di siang yang terik, tentu sama sekali tak ada hubungannya dengan rumah bordir dan berapa jumlah botol bir yang habis di setiap perayaan malam tahun baru. Kenyataannya, kita setiap hari melihat praktek dosa, sejak seribu tahun lalu, atau lebih lama lagi. Saat itu, terjadi banjir besar, gempa bumi, gunung meletus, orang-orang mati, tak peduli ia pendosa atau seorang alim. Sudah berkali-kali dalam sejarah orang-orang meneriakkan ‘kiamat sudah dekat’, tapi bumi masih berputar, kecuali logika-logika yang membeku dan fakta-opini yang kian tak lagi relevan.

Bukan kiamat yang harusnya meresahkan. Bagaimana menghadapi era disrupsi ini, seharusnya menjadi agenda bersama, untuk dibicarakan secara serius.   

Trump

Di 2016, Donald Trump terpilih sebagai presiden AS. Orang-orang di belahan dunia lain mencibir Amerika yang mengambil resiko dipimpin oleh seorang rasis. Trump terlalu kuatir dengan virus miskin dan ganasnya terorisme, lalu berpikir untuk mendirikan tembok demi menghadang imigran papa dari Mexico. Dan demi meredam ‘terorisme muslim’, Trump memblokir warga dari tujuh negara muslim agar tak masuk ke Amerika. Trump terlalu berlebihan membenci muslim, tapi, tetap tak mampu melepaskan ‘pelukan hangat’ Raja Arab.  

Trump adalah anomali global. Di saat warga dunia mulai mengecap indahnya hidup bergandengan tangan, Trump justru menutup rapat-rapat pintu Amerika. Ia mengejutkan dunia, bahkan ketika warga dunia berharap melangkah ke situasi lebih baik lagi untuk upaya penegakan HAM dan kesetaraan. Dengan kampanye rasisnya, seharusnya Amerika menyadari, ‘anak haram rasis’ telah lahir justru dari rahim liberalisme.

Di tahun yang sama, para pemimpin di negara persemakmuran Inggris (Irlandia Utara, Wales, dan Skotandia), mendeklarasikan Brexit, keluar dari Uni Eropa. Sebuah visi untuk menyelamatkan diri dari dampak globalisasi. Tapi yang mereka lakukan bukan hanya tak relevan, mereka justru menyuburkan sentiment di negara-negara Eropa. Meski memang masih butuh waktu, apakah Brexit segera menyusul keterpurukan Yunani, ataukah para anggota Britania bisa membalik prediksi?  

Bingung

Amerika dan Brexit memang terlihat menjadi batu sandungan untuk terciptanya tatanan dunia yang setara. Dan itu sudah cukup memberi kita peringatan, bahwa mimpi dunia yang tak lagi dipusingi dengan perbedaan ras juga eksklusivitas agama, masih harus diperjuangkan dengan gigih. Padahal pada periode ini, kita seharusnya sudah menyadari bahwa revolusi peradaban tak lagi soal pertentangan ideologi.  

Teroris memang selalu menjadi acaman peradaban manusia. Tapi, mendefinisikan teroris kini tak harus tentang senjata dan bom. Ketersediaan makanan, ketahanan pangan, bahkan gaji pejabat, dihubung-hubungkan dengan terorisme. Anda mungkin bingung dengan konsep Prabowo saat debat Capres kemarin? Saya pun kesusahan untuk menemukan relevansinya. Saya percaya globalisasi adalah konsep kemanusiaan universal, tapi, tidak justru mengaburkan pengertiannya.

Irelevan

Awal tahun ini, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan mengeluarkan kebijakan, demi mewujudkan pendataan ASN, guru-guru diminta menyetor berkas setebal hingga 30 lembar dikali dua rangkap. Berat berkas-berkas guru itu diperkirakan mencapai 54 ton. Lalu, berapa pegawai yang dibutuhkan untuk melakukan verifikasi berkas yang menggunung itu? Bukan hanya tidak relevan di era digital, cara-cara kuno itu telah menghambat kinerja, sekaligus menunjukkan satu hal: pemberkasan yang berulang-ulang itu menunjukkan pegawai kurang kerjaan, kecuali untuk tumpukan sampah kertas.

Di facebook dan di grup Whatsapp (WA), kita menemukan dan berdebat dengan akun-akun, lebih dari jumlah orang-orang yang kita temani berinteraksi di dunia nyata. Tapi, informasi yang kita peroleh bukan lagi karena kita membutuhkannya, tapi justru membuat kita kesusahan untuk membedakan yang benar atau palsu, yang mana opini atau fakta. Makin membingungkan lagi saat menyadari, banjir informasi itu sama sekali tidak memiliki relevansi dengan persoalan kita.

Memang benar kata Yuval Harari, “jauh lebih sulit melawan irelevansi daripada melawan eksploitasi.” Daripada panik, mendingan bingung. Seperti celoteh seorang teman di dindingnya, “semasa hidup suka main facebook, jenazah susah diangkut ke kuburan.”

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)