fbpx
Pasang iklan

Identitas; Gairah yang Menyesatkan

...

Masih relevankah memuja identitas tunggal, saat di mana orang-orang telah membaur dengan masyarakat dunia? Bisakah kita membuat sekat yang menebal antara “kita” dan “mereka”, saat “semuanya” justru tidak sadar sudah terjerembab ke komunitas dunia.

Saya tidak keberatan dengan minat personal semacam itu, saat orang-orang menggaungkan identitas mereka jauh di atas hal-hal yang melekat dengan identitas lainnya. Namun pangkal persoalannya identitas tak selalu berdiri sendiri.

Zen RS dalam esainya “Kulit Bawang Identitas,” mengupas soal ‘identitas’ menurutnya, masing-masing di antara kita terdiri atas berlapis-lapis identitas. Identitas tak bisa dikatakan sepenuhnya berdiri sendiri, sebab identitas itu jamak, plural dan beraneka. Identitas bukan soal jati diri yang mengandaikan seakan-akan ada inti yang ajek di dalam diri masing-masing. Seperti sedang mengupas kulit bawang, ketika semakin dikupas kulitnya satu demi satu, pada akhirnya tak ada ditemukan biji.

Seseorang bisa saja menyebut dirinya adalah “Wija To Bone”, namun sekaligus menggemari musik-musik dangdut koplo, atau Wija To Bone tapi sekaligus menjadi penggemar fanatik Real Madrid, menjadi Hedonisme sekaligus pembaca novel-novel George Orwell. Dan di waktu senggang malah menikmati Drama Korea.

Dalam klasifikasinya Amin Maalaouf mencacah secara garis besar identitas terbagi dua: (warisan) vertikal dan horizontal. Menurutnya warisan vertikal adalah identitas yang tidak bisa dipilih, pendeknya primordial, alami, tak terampik (misalnya, jenis kelamin dan ras dan etnik). Namun identitas horizontal bisa dipilih secara sadar dan mana suka, tergantung selera. Misalnya lebih memilih mendukung Nurdin Abdullah di Pilgub Sulsel kemarin tinimbang Nurdin Halid atau lebih suka menonton PSM Makassar daripada mengikuti perkembangan Persibone yang juga punya akun Instagram loh.

Ketika salah satu identitas menguat dan menggugurkan identitas lain, saat itu pula politik identitas muncul kepermukaan, melejit, entah di ranah politik atau ekonomi dan sosial lalu masuk ke dalam ruang-ruang personal kita.

Semakin di mari, muncul pula stereotipe antara “kita” dan “mereka”, jelas berbeda. Memberikan labelling atau cap pada individu-individu yang sedang tergabung—sebutlah misalnya—komunitas atau organisasi daerah, hal ini tak tertampikkan, stereotipe begitu cair.

Masalahnya hampir semua etnik di Indonesia memilki stereotipe dirinya masing-masing. “Dasar Papua”, “dasar Ambon”, “dasar Jawa”, “dasar Bugis” atau “dasar Mangkasa” dll, punya penjelasannya sendiri-sendiri dan eksis di berbagai tempat. Dan saya, bahkan kita semua mungkin pernah mendapatinya diberi label, dihardik dengan sebuah cap.

Misalnya, “dasar bugis” tentu tidak laku dari di kos-kosan mahasiswa bugis itu sendiri, namun cap “dasar bugis” di tempat lain tentu akan sangat laku sekali, begitu seksis.     

Dalam politik identitas stereotipe  menyederhanakan yang kompleks, cenderung menggenaralisir. Ketika stereotipe bekerja ia memukul rata. Hal ini barangkali karena sebagian dari kita malas untuk berpikir atau memang kebencian yang sudah mendarah daging terus dirawat. Kebencian di pupuk, tumbuh subur dari generasi ke generasi.

Sebagai pilar politik identitas, stereotipe tidak hanya menjadi pilar saat konflik terjadi tapi juga menjadi bahan bakar, ia bisa menyulut kapan saja.

Namun ingat kawan, berbeda bukan menjadi penghalang untuk kita menolak bersama. Sebab dalam ranah apapun hal demikian niscaya.

Jean-Paul Sartre filsuf Prancis mengungkapkan segala sesuatunya akan merepotkan jika ada kontradiksi, namun hal itu tak bisa terhindarkan sebab akan selalu ada penolakan suara ketidaksepahaman.

Dalam kontradiksi apapun itu, Sartre menyebut “mereka” adalah lawan (opposite) bukan musuh (enemy). Kita mengenal lawan berdebat bukan musuh berdebat, lawan bertanding bukan musuh bertanding, sebab lawan memang harus eksis dalam sebuah persaingan, bukan (dianggap) musuh yang harus kita musnahkan dan lenyapkan.

Jika kita beranggapan “kita” dan “mereka” adalah musuh maka narasi kebencian tidak akan pernah selesai, tak ada putus-putusnya. Pada akhirnya yang hilang adalah kemanusiaan itu sendiri.

Mari kita mengambil jeda, menghela nafas dalam-dalam lalu mencari tahu lebih dalam lagi. Barangkali kita memiliki banyak persamaan. Dan, mungkin persamaan kita lebih banyak daripada perbedaan yang kita selalu duga-duga saja. Siapa tahu di antara kita, memilih jurusan yang sama namun kuliah di universitas berbeda. Siapa tahu, kita ini sama soal banyak selera band/klub sepak bola/pengarang favorit atau bahkan cara pandang kita sama, penuh optimis menyongsong Indonesia dengan ekosistem 4.O.

Beri tanggapan