fbpx
Pasang iklan

Hapus Pelajaran Agama: Konspirasi Illuminati atau Hanya Provokasi?

Isu penghapusan pelajaran agama di sekolah menjadi bola liar. Padahal, itu hanya usulan dari seseorang. Kenyataannya, tetap yang disalahkan pemerintah, dan Jokowi tentu saja. Bahkan, Menteri Agama juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa kali memberikan keterangan, demi klarifikasi, bahwa pemerintah sama sekali tak pernah atau tidak sedang menyusun rencana menghapus pelajaran agama di sekolah.

Soal isu agama di masa pemerintahan Jokowi memang tak pernah sepi. Bahkan menjadi materi kampanye hitam jelang Pilpres lalu. Ada PKI di Istana bahkan disebut dengan lantang oleh seorang yang mengaku ustad dalam ceramahnya. Ada yang benar-benar percaya kalau Jokowi adalah anak komunis dan ingin uji DNA.

Bahkan, dua orang ibu-ibu seperti tak merasa bersalah saat melakukan DTDC (door to door campaign) dengan mengarang cerita, “Jika Jokowi Presiden, azan dilarang.” Ibu-ibu itu mungkin baru saja terbangun dari tidur lima tahun di goa tengah hutan.

Semua seperti terakumulasi untuk mengarahkan telunjuk ke Jokowi yang benci agama, tepatnya agama Islam. Alfian yang ditangkap karena menyebar fitnah, atau Bahar Smith dicokok karena memukuli seorang anak, tapi dibela dengan narasi, pemerintah memenjarakan ulama.

Memangnya ulama bisa begitu saja menebar fitnah? Lalu, karena dia dikira ulama, ia didiamkan saat melakukan kekerasan, bahkan terhadap anak-anak? Dan semua tuduhan dialamatkan ke Jokowi.  

Agama untuk misi politik

Kembali ke soal wacana menghapus pelajaran agama di sekolah. Apakah ini masih terkait Pilpres? Atau ini gejala islamophobia? Atau orang-orang Indonesia sudah mulai disusupi dan percaya dengan gerakan bawah tanah illuminati?

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu kelihatan tidak relevan dengan polemik meniadakan pelajaran agama di sekolah. Soal illuminati juga sempat menimpa rancangan Mesjid Ridwan Kamil. Tapi, tak ada yang bisa membuktikan apakah arsitek masjid itu terpengaruh atau malah sudah masuk jaringan freemason, organisasi rahasia anti-agama itu? Ya tentu tidak bisa dibuktikan, namanya saja rahasia.

Tapi, seberapa sering kita mendengar atau menyaksikan, agama dikaitkan dengan politik, baik di ruang belajar bahkan di ruang-ruang publik?

Memang tidak salah membawa nilai agama ke dalam politik -yang selalu diasumsikan kotor- membawa tangan Tuhan untuk misi suci. Tapi, yang terjadi, bukannya agama menghadirkan kesejukan. Ia justru digiring ke dalam sebuah ruang eksklusif untuk menguatkan narasi identitas, yang sebenarnya pun tidak jelas.

Bisa dibayangkan jika ayat-ayat perang suci dinarasikan untuk mendukung atau menolak kelompok dalam perhelatan Pemilu maupun Pilpres. Propaganda kafir dan klaim surga dan tuduhan neraka diteriakkan di mimbar-mimbar masjid, juga ruang-ruang kelas belajar.

Pertunjukan politisasi agama nyata terlihat dalam setiap perhelatan politik. Tidak butuh waktu lama, dampak buruknya segera merusak tatanan. Citra agama yang seharusnya menuntun ke arah kebaikan, justru diberi label oleh orang-orang yang punya ambisi politik.

Mungkin tak sedikit orang yang mencibir dagelan para politisi yang mengklaim diri sebagai tokoh religious menggelar ijtihad ulama demi mendudukkan calon presidennya. Mereka sama sekali tak merasa keliru ketika memilih Sandi mendampingi Prabowo sebagai wajah pemimpin umat, hasil rumusan para ulama.  

Serial ijtihad ulama menggunakan pola yang sama dengan gerakan 212 berupa aksi berjilid-jilid, demi membangun citra Islam. Tentu saja Islam yang tercitra adalah versi mereka, kelompok yang memiliki  agenda politik. Begitulah para demagog menunggangi agama untuk misi-misi politiknya.

Isu menghapus pelajaran agama adalah provokasi    

Tentu saja, ayat-ayat yang dijual untuk politik ini tak memiliki korelasi dengan pelajaran agama di sekolah. Tapi, mengapa isu ini menguat? Boleh jadi, masih menjadi bagian dari kerja para penjual agama untuk menguatkan citra buruk pemerintah, sebagai anti-islam.

Tak perlu menghapus pelajaran agama. Bahkan narasi agama sangat dibutuhkan untuk menguatkan kohesi sosial. Tentu tidak dengan cara membiarkan  para pengkhotbah rasis merebut mimbar masjid. Guru-guru agama harus menahan diri untuk tidak ikut menebar hoax dan apalagi ikut membangun mimpi mendirikan Negara khilafah.

Sementara itu, kita seharusnya menyaksikan tokoh -tokoh agama dan kaum intelektual harus berdiri di barisan terdepan untuk mengurai sekat-sekat psikologis yang saling mengancam baik antar aliran maupun antar umat beragama. Mereka harus menyelipkan narasi ceramah dengan materi kampanye toleransi.

Lebih dini mendorong citra agama yang inklusif dan toleransi

Pelajaran agama tidak boleh sekadar tekstual lalu ditafsir demi kepentingan tertentu. Kita membutuhkan narasi agama sebagai pemberi pesan-pesan damai. Perlu ada reorientasi dalam praktek pembelajaran agama di sekolah maupun di kampus.

Sejak dini, anak-anak sekolah harus diberi pemahaman bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Sudah bukan jamannya menuyulut pertentangan apalagi mengobarkan perang hanya karena berbeda mazhab juga agama.

Bahkan, perbedaan seharusnya dipahami sebagai sunnatullah, sudah menjadi hukum alam, sebagaimana umat manusia yang tersebar dalam ras dan budaya. Bagaimana seharusnya memaknai perbedaan antar agama, bahkan dalam agama? Tak perlu mencari siapa yang benar atau paling benar, kuncinya, jalankan apa yang telah diyakini sebagai sebuah kebenaran, tanpa harus menghakimi pihak lain sebagai sesat bahkan kafir.    

Karenanya, hanya dengan reorientasi pelajaran agama demikian: inklusivitas dan toleransi, kita akan perlahan-lahan lepas dari bahaya politik identitas.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)