fbpx
Pasang iklan

Habibie, Sains dan Agama

Defenisi Sains dan Agama adalah B. J. Habibie. Pernyataan ini saya buat juga sebagai status di FB. Pernyataan yang sekaligus menjawab perdebatan klasik soal Dikotomi Sains dan Agama. Hal yang selama ini menjadi tema penting dan dianggap kontradiktif dalam transformasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Habibie adalah sosok yang menyatukan keduanya (sains dan agama). Ia menemukan kemerdekaan berpikir dan kenikmatan bernalar dalam upayanya mencari kebenaran saintifik. Tapi tidak terganggu dengan normatifitas agama yang di pahaminya. Perkembangan kecerdasan intelektual seorang Habibie tumbuh seirama dengan pendalaman kecerdasan spiritualnya.

“Andaikan Allah memberi saya pilihan antara kecerdasan intelektual dan spiritual, saya akan memilih kecerdasan spiritual. Tapi bila Allah berkenan memberikan keduanya, saya minta kedua-duanya. Dan Alhamdulillah, Allah mengaruniakan keduanya kepada saya”.

ungkap pria berjulukan Mr. Crack itu dalam suatu kesempatan di Mesir

Pada dasarnya, kebenaran saintifik tidak mungkin bertentangan dengan ajaran agama yang sempurna. Karena Tuhan tidak menciptakan dua realitas kebenaran yang berbeda. Dalam hal ini Realitas Kitab Suci dan Realitas Alam Semesta serta hukum-hukumnya.

Dua realitas tersebut sumbernya sama yakni cahaya Ilahi. Dipancarkan (baca:diciptakan) dalam wujud yang berbeda yaitu materi dan immateri. Yang pada prinsipnya adalah satu kesatuan yang sinergis dan saling menjelaskan untuk mengungkap rahasia kebenaran yg terkandung didalamnya.

Jika ditemukan perbedaan dan kontradiksi, maka salah satunya pasti ada yang keliru. Bisa keliru pada metodologi dan kaidah-kaidah dalam penalaran sains. Atau keliru pada penafsiran Kitab suci. Dan bisa keliru pada dua-duanya. Karena bagaimanapun juga yang melakukan riset dan yang menafsirkan ayat suci adalah manusia yang bersifat relatif.

Perdebatan klasik soal teori evolusi Darwin dan kisah penciptaan Adam dalam Surat Al-Baqarah Ayat 30, jika di tela’ah dengan benar pada dasarnya tidak bertentangan. Darwin menjelaskan bahwa nenek moyang manusia berasal dari mahluk yang strukturnya menyerupai kera.

Darwin tidak memastikan tapi menganggap mirip. Sementara sebagian Ulama berpendapat bahwa memang ada mahluk yang hidup pada pase sebelum Adam diturunkan ke Bumi sekitar 5000 Tahun SM. bentuknya mirip manusia tapi tidak memiliki akal yang sempurna seperti turunan Adam. Sementara Adam diciptakan sebagai manusia sempurna (Akal) untuk menjadi Khalifah di muka bumi.

Ilmu Pengetahuan bekerja untuk mengungkap kebenaran yang tersirat di Alam Semesta agar dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia dan alam semesta itu sendiri. Iya kemudian dibedakan menjadi 2 kategori yakni exact dan non exact.

Keduanya bekerja untuk menyempurnakan dimensi-dimensi kehidupan manusia. Riset dilakukan untuk semakin menyempurnakan kebenaran saintifik dan mengurangi kesalahan atau memperkecil probability pada tiap dimensi kehidupan.

Sebagaimana yang telah di temukan oleh B. J. Habibie dalam ilmu aerodinamika. Ia mempersembahkan satu kebenaran fundamental yaitu teori keretakan pesawat yang dikenal dengan nama crackProgression. Atas jasanya tersebut, penemuan ini kemudian ditetapkan menjadi Teori Habibie atau Konstanta Habibie.

Dengan penemuan ini, tingkat probability kecelakaan pesawat semakin kecil. Sehingga keselamatan penerbangan semakin baik. Bukan itu saja, sangat banyak jasa-jasa beliau yang telah Ia dedikasikan dalam Ilmu dan Teknologi Kedirgantaraan. 

***

Kitab Suci di turunkan sebagai pedoman hidup, Sebagai Rahmat bagi semesta Alam. Didalamnya terkandung tentang dunia dan akhirat. Aspek dimensional dan transendental. Dunia membahas tentang sejarah (lampau,sekarang dan masa depan), aturan-aturan, dan pembahasan tentang Manusia dan alam semesta itu sendiri.

Dan tiadalah Kami mengutus Kamu, Melainkan untuk (menjadi) Rahmat bagi semesta Alam”,

QS: Al-Anbiya, 107

Sebagai pedoman hidup, maka sudah pasti didalamnya mengandung ketetapan dan kode etik terhadap manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Termasuk kode etik bagi manusia dalam proses pencarian kebenaran saintifik.

Dalam Pilsafat dikatakan bahwa secara ontologis dan epiestimologis ilmu itu bebas nilai. Manusia punya kebebasan untuk melakukan penalaran ilmiah sesuai kapasitasnya masing-masing. Tapi secara aksiologis tidak bebas nilai, artinya penerapan sains (Aksiologis) harus ada pembatasan. Dalam hal ini berlaku kode etik yang diajarkan dalam agama. Penerapan teknologi harus mengedepankan kemaslahatan umat manusia dan mempertimbangkan keberlangsungan alam semesta.

Inilah rahasianya kenapa Habibie bisa mendamaikan Normatifitas Agama dan kebebasan penalaran sains. Ia Menikmati kebebasannya dalam penalaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tapi patuh terhadap ketetapan dan kode etik dalam ajaran Agamanya. Ia begitu mencintai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tapi taat menjalankan perintah Agama dan terus memperdalam kecerdasan Spiritualnya.

Habibie begitu bersemangat merancang dan menciptakan pesawat terbang N250 Gatotkaca dan R80. Tapi juga Sangat setia melakukan aktifitas organisasi keagamaan lewat JCMI. Iya setiap harinya menghabiskan waktu untuk membaca buku Sains tapi tidak pernah lupa membaca dan menghapal Al-Qur’an.

Seorang ustadz dari Sidrap pada pertemuan ICMI dimakassar pernah bertanya pada beliau tentang amalan beliau sehingga bisa sangat sukses dalam pendidikan sains dan religiusitasnya tetap terjaga. Pak Habibie menjawab bahwa sudah menjadi kebiasaanya sejak kecil untuk tidak keluar rumah, sebelum membaca satu Juz Al-Qur’an.

Alfatihah, Semoga Beliau Khusnul Khotimah. Aamiin

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)