fbpx
Pasang iklan

Habibie Ditolak, Habibie Menolak

Habibie berpulang, duka menyelimuti negeri. Presiden ke-3 Indonesia, sang teknokrat itu telah pergi untuk selamanya. Seorang yang langka, tokoh populer namun bersahaja, sederhana, murah senyum, seorang elit yang tak pernah elitis.

Baca juga: B.J. Habibie, Presiden RI ke-3 Meninggal Dunia

Habibie menyudahi pengabdian untuk negara dan bangsa di usianya yang ke-83.  

Bapak teknologi

Habibie adalah salah satu mimpi Indonesia yang berhasil diwujudkan. Indonesia dilirik dunia berkat bakat dan kemampuannya dalam teknologi canggih pesawat. Namanya diasosiasikan dengan pesawat terbang. Habibie adalah cita-cita.

“Saya ingin jadi Habibie”, demikian jawaban banyak anak-anak era 80-an saat ditanya soal mimpi ‘mau jadi apa’. Untuk menggambarkan sosoknya yang cerdas, bahkan ada nyanyian yang populer kala itu, ‘Habibie bota’ ulunna nataro kappala luttu’ (Habibie berkepala botak karena pesawat terbang).

Habibie adalah ikon teknologi. Ia digelar Bapak Teknologi Indonesia. Ia tidak hanya merancang pesawat, ia memimpin perusahaan pesawat pertama Indonesia, IPTN. Sukses meluncurkan pesawat N250 pada 10 Agustus 1995, dan tentu saja membuka mata dunia.   

Mengawal transisi

Entah atas dasar apa, Soeharto memilihnya sebagai wakil presiden di penghujung rezim pemerintahannya, Kabinet Pembangunan VII. Padahal, Soeharto pernah ditolaknya, kala diminta membangun industri strategis pesawat. Habibie menolak pesawat perang, ia memilih pesawat komersial. Ia seorang cerdas juga berani. Ia menantang Soeharto, mempertanyakan mengapa Soekarno diperlakukan tidak adil. Ia juga menyinggung soal Timor-Timur yang seharusnya tak dicaplok Indonesia.

Mungkin Soeharto menyadari saat itu, Indonesia dirundung masalah. Ia butuh seorang teknokrat, yang mampu memahami persoalan negara sekaligus memiliki solusi. Ia memilih Habibie, sosok yang berani, namun punya integritas dan visi membangun Indonesia.

Dan yang terjadi, Habibie berhasil mengawal masa transisi runtuhnya rezim Orde Baru berganti Reformasi. Setelah Soeharto tak mampu lagi mengelak tuntutan untuk lengser ke prabon. Proses suksesi berjalan lancar. Soeharto didampingi Habibie membacakan pidato pengunduran dirinya dengan hikmat.

Habibie menggantikan Soeharto di bawah bayang-bayang rezim militer. Konflik horizontal berhasil diredam. Habibie berhasil meyakinkan public, meski ia bagian dari Orde Baru, yang terjadi reformasi  hanya membidik Soeharto.

Melepas Timor-Timur

Di masa pemerintahannya yang singkat, Habibie berhasil meletakkan dasar demokrasi sebagai platform bernegara dengan menyetujui penyelenggaraan referendum Timor-Timur yang menuntut lepas dari NKRI. Sebuah keputusan yang radikal.  

Jejak pendapat yang berlangsung pada 30 Agustus 1999 berlangsung di bawah pengawasan UNAMET (United Nations Mission for East Timor) menghasilkan 78,5 persen suara penduduk Timor-Timur menolak otonomi khusus yang ditawarkan pemerinta. Mereka memilih merdeka, lepas dari Indonesia. Sesuatu yang tak mungkin bisa terjadi, andai Soeharto masih berkuasa.

Habibie berani mengambil keputusan penting itu. Melepas provinsi muda, bukan perkara mudah. Ia tahu Timor-Timur adalah jajahan Indonesia, dan seharusnya mereka bebas menentukan nasib sendiri. Ia harus berhadapan dengan dua kubu di internal, sekaligus menjadi sorotan luar negeri. Dan Habibie berhasil melakukannya. Ia tahu takdir Timor-Timur bukan bersama NKRI.

Bapak demokrasi

Di masa pemerintahannya, sebagai periode transisi, ia mengeluarkan regulasi penting, di antaranya mengesahkan Undang-Undang Anti Monopoli, merevisi Undang-Undang Partai Politik, Undang-Undang Pers, serta Otonomi Daerah.

Otonomi Daerah adalah catatan khusus, yang menjadi instrument penting meredam gejolak disintegrasi pasca Orde Baru.     

Bapak Demokrasi. Di bawah kepemimpinannya, demokrasi dibuka lebar, mengakomodir kelompok-kelompok yang ada di luar PDI, PPP dan Golkar. Kurang lebih setahun menjabat, ia benar-benar larut dalam misi menyelamatkan Indonesia lepas dari masa kelam, transisi dari rezim otoriter ke era terbuka.

Habibie ditolak

Tapi, perjalanan Habibie tak mulus. Bahkan di jajaran elit, terutama di parlemen kala itu, ia sama sekali tak diacuhkan. Ia diteriaki saat ingin membacakan pidato kenegaraan oleh anggpta parlemen. Pidato yang dibacakannya, mengurai keberhasilan Indonesia bangkit dari keterpurukan pasca-Soeharto, dijawab dengan suara bulat penolakan anggota parlemen yang kala itu dipimpin oleh Amien Rais.

Mereka yang menolak, tak mungkin tidak tahu, oleh Habibie, nilai tukar rupiah terhadap dollar yang ambruk di angka Rp.15.000 berhasil dikatrol ke angka Rp.6.000. Mereka juga tahu, Habibie benar-benar membuka kran demokrasi melalui Undang-Undang Pers dan Partai Politik.

Habibie ‘menolak’

Setelah resmi meletakkan jabatan presiden, Habibie memilih jalan sepi. Ia tak lagi tertarik dengan politik. Baginya, misi mengawal pondasi demokrasi sudah selesai. Selanjutnya, adalah tugas para suksesor. Meski tidak lebih mudah, faktanya, terutama karena pintu demokrasi yang terbuka lebar, telah menghadirkan euphoria demokrasi. Para elit sibuk berebut kuasa.

Habibie tak pernah lagi melirik kursi kekuasaan. Ia tak seperti penguasa umumnya yang tak pernah benar-benar bisa lepas dari penyakit post power syndrome. Ia menolak untuk kembali ke dunia politik, ia tak tertarik lagi dengan jabatan, fasilitas yang sebelumnya digunakan untuk menyelamatkan Idonesia dari keterpurukan.  

Meski menolak berpolitik, ia tak mundur dan bersembunyi di gua. Ia tetap memosisikan diri sebagai bapak bangsa, menjadi teladan, menengahi konflik. Sebagai seorang professor, ia tetap konsisten berkontribusi di dunia ilmu dan pengembangan teknologi. Ia menggagas pesawat R80, impiannya. Sebuah prototype pesawat domestik yang mulai dirakit tahun ini.   

Habibie adalah rahmat untuk Indonesia

Habibie adalah rahmat Tuhan bagi Indonesia. Ia mengambil langkah taktis namun visioner membawa Indonesia lepas dari masa kelam otoriter menuju era pencerahan demokrasi. Ia adalah pahlawan.

Di tengah balutan kesedihan, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul, “entah bagaimana Indonesia tanpa Habibie?”

Selamat jalan guru terbaik. Selamat jalan Bapak Bangsa. Selamat jalan Bapak Pesawat Indonesia. Selamat lelaki terhormat. Kepergianmu melahirkan duka mendalam dan kehilangan yang tak ternilai. Tenanglah di alam sana bersama ibunda Ainun tercinta, amiiin…

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)