fbpx
Pasang iklan

Grace dan Simulacra PSI

Gema – PSI (Partai Solidaritas Indonesia) merusak citra diri sebagai generasi milenial. Mereka terpancing memainkan isu SARA. Padahal, PSI sejak awal menawarkan diri sebagai partai baru yang sama sekali berbeda daripartai lainnya. Mereka mengkalim diri sebagai tempat para anak muda menyalurkangagasan dan hasrat keberaniannya. Pakem politik yang selama ini digunakan oleh partai tua, misalnya mengandalkan tokoh, tak digunakan oleh PSI.

Mereka boleh masih muda dan ‘idealis’, tapi mereka harus melihat di sekeliling mereka. Karena, gagasan menentang Perda Syariat pun Perda Injil, adalah secara ide tidak hanya bermuara pada isu SARA, namun lebih sarat dengan muatan politis juga masih membutuhkan telaah konstitusionil. Apalagi dalam ranah hukum tertinggi, Undang-undang hanya memberi ruang untuk peraturan khusus itu kepada NAD (Nangroe Aceh Darussalam).

Tapi, kenyataannya, selain NAD, beberapa daerah lain,sebenarnya sudah mengesahkan dan memberlakukan Perda agama itu. Di Sumatera Barat, sebuah Perda berbunyi Mengimbau Bersikap dan Memakai Busana Muslimah Kepada Kepala Dinas/Badan/Kantor/Biro/Instansi/Wali Kota sumatera Barat.Sumatera Selatan, tahun 2002, juga sudah ditetapkan Perda tentang Pemberantasan maksiat. Sedangkan di Bengkulu, secara spesifik mengatur tentang larangan Pelacuran.

Sementara, di Banten dan Sukabumi, juga sudah diatur mengenai pelarangan penjualan dan pengedaran minuman beralkohol, 2005. Kota Malang dan Kabupaten Lamongan, mengatur pemberantasan pelacuran dan perbuatan cabul. Di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bone, menetapkan Perda selama Bulan Ramadhan yang isinya himbauan untuk pemilik rumah makan, restoran, café dan warung tidak beroperasi selama Bulan Ramadhan, serta himbauan untuk pemilik hotel dan tempat penginapan untuk tidak menerima tamu berpasangan yang bukan muhrim. (tempo.co,18/11/18)

Seharusnya Grace mengetahui data-data itu. Jika tidak, ini adalah bentuk kecerobohan yang seharusnya tidak dilakukan oleh petinggi partaipolitik. Sebab, apa yang mereka suarakan mewakili institusi, lembaga yang seharusnya hadir memberi jalan keluar, bukannya terjebak dalam narasi yang bisa menimbulkan kegaduhan.

Benar, bahwa perjuangan nyata sekarang ini adalah bagaimana menentang gerakan radikalisme. Infiltrasi faham radikalis sudah masuk ke ranah publik di berbagai kelompok. Namun, menentang radikalisme tidak semudah memberikan ceramah di media sosial. Hal lain yang sangat penting adalah, penerimaan warga terkait faham radikalis itu pun tidak dalam level yang sama.

Jika Grace dan kawan-kawan PSI yang terlanjur mencitrakandiri sebagai partai progresif, kelompok aktivis, harusnya punya instrument yang lebih terhormat untuk menunjukkan komitmen mereka sebagai partai anak muda.

PSI butuh tenar?

Memang, sejak resmi bergabung di dalam barisan pendukung Jokowi-Amin, PSI sejak awal menunjukkan dukungan kepada Jokowi untuk dua periode,dengan pertimbangan visi, kerja dan semangat milenial. PSI berdiri bersama partai besar lainnya, dalam skuad yang mendukung Jokowi 2019 nanti.

Tapi, pilihan keberpihakan itu tidak serta merta membawa PSI menjadi partai yang diperhitungkan. Ukuran kehebatan PSI sama sekali belum bisa ditakar. Karena, retorika dan narasi besar tak selalu identik dengan kerja yang besar pula.

Jadi, mungkin PSI baiknya fokus ke konsolidasi internal dulu. Mereka perlu mempelajari lebih banyak hal, terutama terkait segmen mereka menyasar anak muda. Apa yang mereka tawarkan untuk generasi muda menyambut revolusi industri 4.0? Bagaimana anak muda kini hidup dalam iklim globalisasi yang saling berinteraksi melebur sekat geografis, sekaligus punya daya saing tinggi, menjadi isu yang jauh lebih penting untuk dieksplorasi oleh Grace dan PSI.

Jika tidak, PSI seperti partai tua lainnya, mereka hanya sibuk memburu popularitas, menggandeng elite, demi mengatrol elektabilitas partai, namun keropos di dalam. Bak simulacra, PSI gagal memahami realitas, bahkan mengaburkan posisinya sebagai partai anak muda yang aktivis namun tak tahan menelan isu rasis.

Apakah Grace Natalie menista agama?

Asyik bermain narasi, ketua PSI, Grace Natalie dilaporkan lagi-lagi soal penistaan agama. Kasus yang pernah sukses menjugkalkan Ahok dari panggung Pilgub DKI. Grace diserang sebagai liberal, sekuler, anti-agama. Lalu,Grace membuat klarifikasi, bahwa ia sebenarnya tidak anti agama. Dan ujung dari polemik ini sudah bisa ditebak: berakhir di meja sidang dan atau ditutup dengan kata maaf. Keduanya sama sekali tidak menjawab esensi.

Pertanyaan apakah Grace menista agama, tidak lebih penting untuk dijawab ketimbang segera menyadari bahwa para politisi kita harus segera keluar dari jebakan skenario pencitraan dan narasi-narasi besar. Mungkin, jika tekanan membesar, bisa saja Grace diproses dan lalu divonis bersalah. Meski sesungguhnya, Grace mencoba menyuarakan haknya sebagai pimpinan partai juga sebagai warga. Dan ironi PSI. Partai idealis yang mungkin mencoba membaca realitas, justru terdengar hyperrealist.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)