fbpx
Pasang iklan

Google ‘Menjual Manusia’ Di Era Industri 4.0

Gema – Indonesia menjadi salah negara yang sedang hipi dengan perkembangan dan kecanggihan Industri 4.0. era industri dimana ruang dan waktu dapat dihilangkan peran penghalang-nya dengan jaringan dan sistem komunikasi yang serba cepat.

Era jaringan Long Term Evolution atau LTE yang diklaim mampu memberikan koneksi sampai 185 Mbit/s untuk unduh dan sampai dengan 45 Mbit/s untuk unggah membuat jarak tidak lagi menjadi halangan untuk melakukan komunikasi. Kecepatan ini sangat rendah dibandingkan dengan kecepatan layanan internet service Provider, namun paling tidak layanan ini bisa dinikmati secara individu.

Kecepatan internet individu ini menjadi salah satu hal mendukung Industri 4.0 dimana Big Data adalah ide utama dari era ini. Era dimana sebuah sistem dibangun dimana seluruh data aktivitas kehidupan manusia baik yang bersifat fisik seperti lokasi, kegiatan, tempat yang dikunjungi, disinggahi secara temporari, tempat kerja, tempat tinggal.

Tidak hanya kegiatan fisik yang dapat terukur dengan jelas, data yang bersifat psikologi dan sulit terukur oleh kasat mata, seperti kesukaan, hobi, hal yang dibenci, topik yang sering dicari, ketertarikan, dan beberapa indikator psikologi yang sangat sulit untuk mengukurnya dengan pengambilan data manual oleh pengamatan orang, karena beberapa orang ingin menyembunyikan hal tersebut kepada orang lain.

Untuk mendapatkan data tersebut tentu saja bisa dilakukan dengan pengamatan yang menyeluruh untuk setiap orang mulai dari bangun tidur, melakukan aktivitas harian, sampai tidur atau bahkan sampai lama seseorang tersebut tidur. Tentu saja pengamatan tersebut menjadi hal yang sulit dilakukan oleh manusia kalaupun bisa butuh latihan yang lama dan memakan banyak dana untuk menggaji setiap pengamat.

Namun dalam era Industri 4.0 yang membutuhkan Big Data mengumpulkan data manusia adalah sebuah keharusan, untuk meningkatkan efisiensi kerja, memang manusia tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan ciptaannya yakni teknologi, namun dalam hal kecepatan mengelola data dan ketelitian dalam menafsrikan data, sepertinya otak biologis manusia sepertinya terlalu rentang dengan keliru dan cepat dalam mengelola data.

Google-Facebook : Oksigen – Smartphone – Air

Hal ini tentu saja bukan perkara sulit dengan jaringan 4 G saat ini, dimana hal tersebut bisa dilakukan selama seseorang terkoneksi dengan internet sisanya adalah membuat individu-individu tersebut memberikan izin untuk diamati dan diambil datanya.

Tentu saja pepatah ‘There is no free lunch‘ dalam kasus ini juga juga berlaku, tidak akan ada orang yang dengan rela meminum obat yang pahit jika tidak sakit, bekerja jika tidak butuh uang, atau membayar pajak jika tidak butuh perlindungan. Semuanya butuh pengorbanan, jika tidak ada, saya tidak punya alasan untuk meberikan mereka akses mengamati saya.

Kalau begitu buat manusia butuh agar mereka dengan sukarela memberikan izin untuk diamati secara digitial. da mencari teknologi yang membuat manusia terikat yang akan dibawa kemana saja dan kapan saja, muali dari bangun pagi, belajar, ke sekolah, masuk WC sampai tidur kembali.

Masalah pertama selesai, barang tersebut bisa dengan mudah disebutkan yakni Smartphone. Smartphone mulai menjadi kebutuhan primer tidak begitu saja, namun dengan pembiasaan mulai dar era Smartphone Symbian Versi Nokia yang sangat berjaya di awal tahun 2000-an sampai akhir tahun 2010-an.

Fasilitas yang ditawarkan Simbiyan cukup sederhana namun cukup modern dizamannya, yakni Sistem Operasi yang dilengkapi dengan layanan aplikasi pembantu lainnya seperti Pemutar MP3, Kamera, beberapa game yang bisa diunduh setelah melakukan pembayaran terlebih dahulu ke developer game-nya.

Nyaris aplikasi-aplikasi ini membuat handphone ini cukup nyaman digemgam, hanya saja layanan yang menghubungkan orang lain satu sama lain hampir tidak ada, kalaupun ada waktunya koneksi sangat lambat, sehingga bukannya senang justru membuat orang mendongkol. Sisanya hanya bisa dihubungkan dengan fasilitas SMS dan telfon yang cukup mahal bayarannya.

Layanan ini tentu saja membuat Operator selular mendapatkan tambang emas baru dengan memanfaatkan kebutuhan konekfitas dengan memasang tarif yang cukup tinggi, sampai akhirnya semuanya muali bergeser setelah layanan Balckberry Massanger atau BBM meledak dan menjadi ‘raja’ singkat dalam era Smartphone.

Bisa dibayangkan jika layanan BBM memberikan kemudahan yang diberikan BBM yang kala itu untuk mengirim pesan singkat akan dikenakan tarif normal sebesar 350 rupiah, namun dengan menggunakan BBM semuanya menjadi gratis, hanya membutuhkan paket data. Era ini menjadi era pertama dimana manusia sudah semakin dekat dengan Smartphone.

Namun langkah yang dilakukan Blackberry bisa dibilang masih kurang cakap, pasalnya Aplikasi BBM hanya bisa dirasakan oleh pengguna Smartphone dengan OS Blackberry yang tidak dijual bebas atau dengan bahasa lain harus menggunakan Smartphone Blackberry yang sangat terbatas dengan program dan Aplikasi lain.

Smart Phone peran Smart Phone di Industri 4
Smartphone

Selain Blackberry ada Smarphone layanan yang lebih ramah kanton dengan flatfrom yang lebih murah dan ditawarkan bagi seluruh penyedia Smartphone, yakni Android hanya saja pertama kali digunakan secara komresial-terbatas di Smartphone milik HTC dengan harga selangit kala itu, selain itu Applikasi yang ditawarkan BlackBerry tidak diberikan secara gratis

Android dirasa kurang greget karena tidak memiliki aplikasi yang mumpuni dalam bidang komunikasi, hanya sebatas game dengan developer terbatas. Tahun 2007, Google membeli Android dari Andy Rubin dengan harga setengah milliar dan siapa sangka, jika produk seharga mobil Fortuner ini bisa membuat google menjadi raksasa dunia internet dan secara tidak sengaja menjadi pencetus lahirnya Industri 4.0 secara tidak langsung.

Android yang ditawarkan Google lebih ramah terhadap kantong penggunanya, sama seperti layanan Google lain seperti Search Enggine, Youtube, Gmail, Gmaps, dan layanan Google lainnya, Android terus saja dikembangkan oleh google namun dibagikan secara gratis hanya untuk meningkatkan kenyamanan dari penggunaan Smartphone.

Google pun sampai rela melakukan pengembangan app di awal Android muncul dan dibagikan secara gratis di APP Store, yah sebut saja Gmaps yang membuat pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan‘ menjadi tidak relevan lagi untuk dunia saat ini. Selain itu Admob juga berhasil membuat banyak developer Aplikasi rama-ramai nangkring di Google Paly Store mulai dari berbayar sampai yang ikut-ikutan memberikan aplikasi secara ‘gratis’

Aplikasi yang ada di Google play Store
Paly Store Goolge

Penggunaan Android pun semakin meluas sejak era Facebook berhasil membeli Whatsapp dan memberikan layanan ini secara gratis bagi pengguna Android dan Iphone, ditambah dengan koneksi internet yang semakin canggih saat ini, Google-Facebook berhasil membuat semua orang merasa butuh dengan Smartphone.

Bisa jadi anda tidak akan pernah merasa khawatir ketika keluar rumah tanpa membawa air, padahal air adalah kebutuhan utama manusia setelah oksigen, namun anda tentu saja sangat khawatir jika tidak mengantongi Smartphone saat meninggalkan rumah.

Jadi wajar saja jika saat ini urutan kebutuhan primer manusia sudah berubah, yakni Oksigen – Smartphone – Air. Dengan alasan tanpa oksigen 30 menit saja sudah cukup membuat jantung manusia berhenti berdetak.

Google ‘Menjual’ Manusia

Lantas bagaimana cara google mendapatkan keuntungan jika semuanya diberikan secara gratis, Google memiliki pangsa pasar yang lebih baru, jika dulunya manusia tidak suka menjadi costumer karena harus membayar setiap kali ingin menggunakan Applikasi, Google merubah paradigma tersebut.

Google merubah manusia yang tadinya pembeli, kini berubah menjadi ‘barang yang dibeli’ dengan kata lain Google tidak menjual produk kepada manusia, namun Google melainkan kepada perusahaan yang membutuhkan data manusia.

Android yang dikembangkan oleh Google tentu saja mewajibkan setiap penggunanya untuk memiliki akun yang durabel, nyaman, dan aman. Ujungnya tentu saja tidak ada pilihan selain Gmail yang meminta persetujuan untuk menyimpan cookies dan Cache file penggunanya.

Applikasi ini bisa merekam setiap tulisan yang kita ketikkan di Google yang digunakan google untuk menemukan informasi yang anda butuhkan. Setelah mendapatkan informasi tersebut, google akan menawarkan kita informasi di Search Enggine namun dengan beberapa keistimewaan. Yakni Iklan pada hasil pencarian yang paling di atas. Iklan ini dikenal dengan nama Google Adword.

Penampakan Googel Adsense yang Matching dengan Keyword di Searh Enggine Result
Iklan Layanan Samsung pada Goolge Search Enggine dengan Keyword yang Relevan

Tidak berhenti sampai disana, Google masih memiliki peluang dengan memasukkan situs-situs yang ramah dengan search Enggine Goole di urutan pertama, karena tentu saja situs tidak akan muncul di laman google jika pemilik situs mengizinkan google men-crawl situs mereka.

Para pemilik situs yang memenuhi keinginan google dalam bentuk Standar Google belakangan ini dikenal aspek Search Enggine Optimation (SEO) tentu saja tidak memberikan anda informasi dengan percuma, karena mereka juga membutuhkan uang untuk keuntungan pribadi sedikit biaya operasional situs.

Lagi-lagi dalam kesempatan ini Google sebagai Search Engine nomor satu di Dunia mendapatkan kesempatan untuk menjual manusia melalui Google Adsense Publisher, dari sini hampir serupa dengan Google Adword, Google akan memberikan informasi mengenai data pengakses terkait dengan lokasi, keyword yang digunakan dan juga segala sesuatu yang mungkin saja mempengaruhi iklan yang akan tayang.

Tentu saja ini adalah strategi marketing yang keren bagi perusahaan dimana mereka hanya akan membayar google dari iklan yang tayang ke orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan iklan yang muncul. Dibandingkan harus membayar mahal iklan di Televisi swasta yang mungkin saja di pindahkan ke Channel lain ketika iklan muncul.

Misalnya seseorang yang sedang mencari tiket perjalanan, maka yang akan muncul tentu saja iklan-iklan yang berkaitan dengan tiket pesawat, hotel, reservasi, asuransi perjalanan, tempat wisata, dan pembayaran. Iklan-iklan jenis ini memiliki peluang dibutuhkan oleh orang yang ingin bepergian dengan tiket pesawat.

Iklan Bitcoin dan Saham investasi Google
Penampakan Iklan yang Relevan Dengan Minat Pembaca Saat Mengakses Situs Finasialku.com

Tentu saja strategi marketing ini hanya bisa dilakukan dengan data yang besar mengenai calon costumer, yang tidak lain dikumpulkan oleh google dengan melalui akun-akun gmail yang diaktifkan di Handphone-handphone android yang nyala 24 jam. Jadi sangat wajar rasanya pendapat mengatakan Google ‘menjual’ manusia.

Manusia dengan senang hati menyalakan androidnya, mengetikkan setiap yang dilakukan seperti ‘cara membuat nasi goreng’ yang enak di google sehingga google tahu jika orang yang menggunakan Gmail tersebut senang dengan nasi Goreng.

Google kemudian ‘menjual’ data ini ke restoran penjual nasi goreng dan akan memunculkan iklan mereka kelak ketika si orang tersebut lewat dekat dengan restoran mereka, melalui GPS di Google Map hal tersebut bukanlah hal yang sulit dilakukan. Terlebih lagi keuntungan yang dibayarkan oleh Restoran tersebut yang tidak perlu membayar jika orang yang lewat tersebut bukan anda sang ‘pecinta nasi goreng’.

Hal yang mudah bukan, karena data anda telah dikumpulkan dengan seksama dengan algoritma google yakin konon pamungkas dari semuanya adalah Google AI, kendati baru prototipe dari Google AI versi Dupleks yang dimunculkan secara gratis namun tentu saja ‘tidak ada makan siang gratis‘ terlebih dari Google.

Menyikapi Big Data Milik Google

Tentu saja Google tidak pernah datang bertamu ke rumah-rumah anda dan memberikan kewajiban membeli Handphone-handphone yang telah mereka susupi dengan Android.

Data yang didapatkan google sudah barang tentu melalui persetujuan anda ketika menggunakan Handphone Android, kecuali jika anda mau merogoh kocek yang lebih dalam untuk membeli produk dari Iphone yang ‘dikenal’ lebih menjaga privacy penggunanya. Yah meskipun kita semua bisa mendapatkan foto Jennifer Lawrance yang disimpan pemeran Hungger Games ini di Icloud.

Meskipun ada aturan perlindungan pengguna gmail yang baru-baru ini diperkenalkan yakni General Data Protection Regulation (GDPR) namun sepertinya aturan ini tidak menutup celah sepenuhnya bagi Google untuk mengoleksi data pribadi anda, karena sejatinya data tersebut memang digunakan Google untuk meningkatkan kenyamanan penggunanya.

Satu-satunya cara paling ampuh untuk ‘tidak dijual’ oleh Google tentu saja hindari produk Google, seperti berhenti menggunakan Smartphone, Gmail, Gmaps, Youtube, Google Search Enggine yang juga dapat berarti berhenti menggunakan aplikasi yang run pada platform tersebut seperti Line, Whats Up, Facebook, dan sejenisnya yang juga dapat disimpulkan kembali ke hutan mengumpulkan kayu bakar, berburu babi rusa dengan panah, membuat api unggun dan hidup dengan alam dengan harmoni, itupun sampai petugas kehutanan menangkap anda dengan tuduhan melakukan pengrusakan alam di kawasan hutan.

Terlalu Primitif Bukan? Sama primitifnya dengan Protes tanpa memberi solusi malah tetap menggunakan produk Google.

Ria Ricis Hijaber cantik dengan Subscriber 10 juta
Ria Ricis – Instagram.com

Cara menyikapi agar kita tidak sepenuhnya dijual oleh Google adalah membantu google menjual orang lain kepada perusahaan pengguna jasa Adsense google. Misalnya ikut menjadi publisher Google Adsense melalui situs profesional atapun Blogspot milik Blogger, mengikuti jejak Ria Ricis, dan Atta Halilintar yang jadi kaya raya setelah memiliki 10 juta subscriber.

Bahkan Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang secara tidak langsung menikmati era Industri 4.0 dengan tembusnya 4 Start Up lokal mencapai level Unicorn, atau ikut mengembangkan applikasi yang bermanfaat lalu turut serta run Admob.

Selain itu bukan hanya Google yang ‘menjual’ manusia, banyak perusahaan yang melakukan hal sama dengan posisi yang sama pentingnya bagi manusia era industri 4.0 seperti Instagram dan Facebook.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)