fbpx
Pasang iklan

Ganti Nama

...

A Kieng dicurigai turut membiayai PKI di Bone. Ia disekap, meski akhirnya dilepas. Tapi ia tetap orang asing, makanya harus diusir, terutama karena ia PKI. Menyusul keluarga yang lebih dahulu diserang teror. Hidup mencekam.

Dalam sehari mereka selalu saja mendengar ada China dibunuh. Meskipun, lebih banyak diantara mereka yang memilih bertahan, bertahan didera was-was. Berharap musim segera berganti, tapi yang terdengar adalah suara-suara makian, dan ancaman pengusiran.

Itu terjadi di musim kelam dalam kurun 65-66. Tahun-tahun suram yang digambarkan oleh Geoffrey Robinson sebagai “Musim  Menjagal”. “Salah satu kejadian paling brutal dalam sejarah dunia abad ke-20,” kata Greg Grandin. Tapi, bagi Joshua Oppenheimer, sutradara The Act of Killing dan The Look of Silence, Peristiwa naas itu adalah “dosa besar Amerika.”  

Lana Lang juga mengisahkan cerita neneknya. Oleh pemerintah ia diusir untuk meninggalkan Kota Watampone.Tapi, hari keberangkatan yang ditunggu itu, didapatinya hanya satu kapal pengangkut, dan sudah penuh dengan muatan, oleh para pengungsi. Lana dipaksa pasrah. Nasib memaksanya hidup bersama ketakutan, demi menanggung kesalahan yang tak pernah dimengertinya.

Di hari lain, ada Hakim Lewa, bernama asli Cieng Cieng. Lelaki yang telah berganti nama ini bertutur dengan logat Bahasa Bugis saat diwawancarai. Tega ka melo jokka, meloka lisu kampokku dee to wissengi tega monro (Kami mau ke mana, mau pulang kampung tapi tidak tahu juga di mana tempatnya).  

Kesaksian-kesaksian itu adalah temuan hasil riset Sunarti untuk keperluan tesisnya di Universitas Negeri Makassar.

Tahun berganti. Periode genting pun usai. Namun tak berarti dinding tebal segregasi pun cair. Yang terjadi justru makin menebal seiring upaya kontrol sistematis pemerintah Orde Baru. Pemerintah Orde Baru berusaha mengontrol situasi. Akan tetapi pengertian mengontrol situasi adalah tekanan, bagi warga keturunan China, orang-orang yang tetap dianggap asing. 

Karena China tetap orang lain, maka mereka harus berubah. Sesuatu yang mungkin di hari-hari mendatang akan mengaburkan identitasnya. Setidaknya, begitulah tujuan dari proyek asimilasi itu.

Perubahan nama di KTP, akta kelahiran, juga ijazah, adalah bentuk ketundukan formal. Mereka diharuskan menemukan nama yang lebih terdengar ‘Indonesia’. Perubahan nama itu dikukuhkan dalam sebuah dokumen bertitel Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI), sesuai petunjuk Undang-Undang no. 62 tahun 1958 tentang “Kewarganegaraan Republik Indonesia”.

Keluarnya SKBRI mulai diikuti dengan menguatnya istilah peranakan. Perintah ganti nama adalah kekerasan Bahasa. Tapi, dalam prakteknya, implikasinya jauh lebih pahit. Memang nama lebih sering hanya tertera di atas dokumen, tak selalu ikut dalam setiap interaksi sosial. Sayangnya, itu tak cukup menyelamatkan mereka dari cap ‘duri dalam daging.’

Sunarti mencatat beberapa nama yang telah berganti; Cou Ceng Wi mengganti namanya menjadi Alwi. Cieng Cieng mengganti namanya secara administrasi menjadi Hakim Lewa, Wen Lai jadi Budiman. Sementara Hadijah tak ingin menyebut nama aslinya. Mungkin ia ingin mengubur nama itu bersama kisah kelam yang menghantuinya.     

Tapi, di dalam rumah siapa yang tahu. Mungkin mereka tetap menggunakan bahasa ibu, juga tetap saling menyebut nama asli. Mungkin yang lebih rumit adalah perubahan agama. Sesuatu yang sifatnya sangat pribadi. Mereka beralih agama demi untuk tetap hidup. Yang pasti di hadapan Tuhan, mungkin mereka tak benar-benar berpaling. Karena, siapa yang mampu menghalangi doa hamba kepada Tuhannya?

Perubahan agama, perubahan nama, dan perubahan bahasa, adalah kekejaman sistemik yang memiliki dampak kultural yang mungkin takkan terlupakan. Serupa monumen, yang akan selalu menggiring ingatan ke hari-hari kelam; penjagalan-pengusiran itu.

Hasil riset Sunarti yang berlatar antropologi itu memang tak masuk lebih jauh bagaimana kekerasan menimpa mereka yang keturunan Tionghoa di Bone. Tapi, cerita pembantaian itu masih lekat dalam ingatan Daeng Sewang, seorang veteran tentara divisi Hasanuddin. Ia menunjuk lokasi pembantaian itu, sebuah gedung dekat komplek pasar sentral, yang kini digunakan sebagai sekretariat oleh Golkar.

Pembantaian itu benar-benar ada, pernah terjadi sini, di atas tanah yang konon disakralkan leluhur karena warisan pekerti yang kuat mentradisi, pangadereng. Kekejaman oleh orang-orang yang tak asing.    

Daeng Sewang tak tahu berapa tepatnya jumlah orang yang dibunuh di hari-hari itu. Yang ia tahu, mereka dicap komunis, sebuah predikat yang buruk, antisosial, juga anti-Tuhan. Tapi siapa yang memberi cap buruk itu pun tak jelas. Orang-orang hanya mendengar desas-desus.

Mereka jelas tak paham komunis. Tapi hanya dengan indra mata, mereka bisa segera mengetahui, orang-orang yang dicap komunis itu adalah mereka yang bermata sipit dan berkulit bening, mereka adalah China yang asing karena terlanjur komunis.

Mereka asing yang China tak hanya bermakna lyan. Lebih jauh ia telah menghadirkan sekat berbuah kebencian yang entah dari mana akarnya. Padahal, mereka sudah lama bertetangga, lebih lama dari hidup yang telah mereka jalani. Mereka sudah di sini sebelum kedatangan Belanda.

Kita mendengar nama-nama yang berganti, juga menyaksikan pernikahan silang. Tapi, kadang pula kita masih mendengar guyonan “waja China” (bayar cepat, harfiahnya berarti bayar dengan cara China), “Naleppa’ China” (ditampar China) hingga yang lebih sarkas “Tennia Tau, China (bukan orang, tapi China).”  

Beruntung kita (pernah) punya Gus Dur, menetapkan hari Raya Imlek melalui Kepres Nomor 6 Tahun 2000. Sosok pluralis yang menuai kontroversi karena menggagas rekonsiliasi, mengajak bangsa ini meminta maaf atas periode kelam itu. Yang tak sepakat Gus Dur mungkin sedang mabuk.

Gus Dur mengajak bangsa ini keluar dari kebencian dipicu segregasi, dengan tanpa beban berkata “Oke, silahkan kalian merayakan imlek.”

Dan hari ini kita tahu, dampak penetapan hari Raya Imlek ini cukup luas, tidak hanya dirasakan oleh warga Tionghoa. Industri pariwisata dan ritel dapat menggalang promosi bertema imlek. Yang terpenting adalah luruhnya sekat segregasi. Sebab seharusnya kita tahu, nama hanya penanda. Sikap dan perilaku tetap yang utama.

Akhirnya, selamat merayakan tahun baru Imlek. Gong Xi Fatcahi… Semoga damai senantiasa menyelimuti perjalanan bangsa ini, amiiin…

Gambar: akamaized.net

Beri tanggapan