fbpx
Pasang iklan

Fenomena Petrus (Penembak Misterius) yang Ciptakan Keamanan tapi dibenci HAM

...

Gema.ID – Dekade 80-an menjadi salah satu tahun-tahun yang sangat rawan bagi kehidupan para kriminal kelas teri di Indonesia. Para preman dan pria bertampang preman akan menjadi sasaran dari pasukan bayangan yang dikenal dengan nama jalan Petrus atau Penembak misterius.

Hal ini merujuk pada banyaknya mayat-mayat preman dan bandit kelas teri yang ditembak secara misterius pada malam hari. Mayat-mayat mereka yang merupakan preman, bandit dan dan didugan bandit banyak berserakan di pinggir jalan dan kebun warga dalam kondisi mengenaskan.

Kebanyakan setelah mereka ditembak mati, mayatnya dibiarkan terlantar begitu saja. Kematian hampir sama yakni memiliki luka temabk ditubuh dan tubuh terikat tali. Karena tidak ada pihak yang mengklaim tanggung jawab atas kematian ribuan preman di sekitar tahyn 1983 sampai dengan 1985, masyarakat luas menyebuts sebagai Petrus atau Penembak Misterius.

Peran Tentara Nasional Indonesia di Belakang Petrus

Sunyi, Cepat, Tepat, adalah tiga kata yang tepat menggambarkan sistem operasion para pterus ini, tentu saja hampir tidak ada lembaga yang kala itu mampu pemlatih personel dengan tingkat akurasi operasional yang tinggi. Tidak heran jika banyak pihak yang mengklaim bahwa TNI-lah yang ada dibalik operasi tersebut, meskipun sampai hari ini operasi tersebut tidak pernah diakui secara resmi TNI.

Proyek pembersihakan sampah masyarakat kelas teri ini konon adalah perintah langsung dari Presiden Republik Indonesia kala itu, yakni Jenderal Soeharto, pemimpin besar orde baru di Indonesia. Kendati tidak ada pengakuan resmi dari pihak TNI, beberapa pensiunan TNI pernah mengaku menjadi salah satu pasukan yang melaksanakan operasi tersebut.

Salah satu pensiunan TNI tersebut adalah Suhadi bin Soeleman (87) alias Cincew. Pria tua beretnies tionghoa ini merupakan mantan sukarelawan yang melakukan operasi Trikora untuk pembebasan Irian mengaku sebagai salah satu mantan anggota petrus.

“saya penah jadi pasukan (Petrus), saat jadi pasukan sayang jaga keamanan di Tanjung Burung, banyak Garong. Nah ini (saya) jadi penembak misterius. Tugasnya menembak (Garong dan Preman) langsung itu perintahnya presiden Soeharto kala itu, ama teman-teman ikut sama pasukan sini (Anggota TNI)” jelas Suhadi di salah satu reportase dari Merdeka.com berjudul Tahun Baru China Mantan Anggota Petrus.

Menurut penuturan Suhadi, proses perekrutan anggota dan Sukarelawan (Petrus) kala itu hanya memiliki dua syarat saja yakni pribumi dan berani.

“jadi aja, asal berani dulu mah,” jelas Suhadi berapi-api mengingat kejadian tersebut.

Setelah menyatakan diri berani, Suhadi langsung mendapatkan seragam dan senjata. Suhadi bahkan mengaku diberikan senjata otomatis yakni Steyr Micro Otomatis atau AUG.

Sejarah Cikal Bakal Operasi Petrus

Petrus diduga berawal dari operasi penanggulangan kejahatan yang terjadi di Jakarta pada tahun 1982. Kondisi ibu kota kala itu yang sangat rawan dengan tingkat kriminalitas dan kekerasan jalanan sangat tinggi. Soeharto pun memberikan penghargaan kepada Mayjen Anton Soedjarwo yang berhasil membongkar gembong perampokan di Ibu kota kala itu.

Pada Rapim ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Maret 1982, Soeharto memberikan mandat kepada ABRI yang dulu masih terdiri dari Polisi dan TNI untuk mengambil langkah efektif dalam menekan angka kriminalitas di masing-masing provinsi. Hal ini kemudian disampaikan ulang dalam pidato kenegaraan Soeharti pada tahun 16 Agustus 1982.

“Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak,” jelas Soeharto seperti yang ditulis di Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H

Perintah itupun ditanggap oleh Panglima Operasiona Keamanan dan Ketertiban (Pangopkamtib) Laksamana Soedomo dengan berkoordinasi dengan Pangdam Jaya, Kaporli, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Marka Kodan Metro Jaya pada tanggal 19 Januari 1983. Hasil rapat tersebut memutuskan pelaksanaan Operasi Clurit di Jakarta. Langkah ini kemudian diikuti oleh seluruh pimpinan tinggi Kepolisian dan ABRI di masing-masing Provinsi di seluruh Indonesia.

Meskipun dalam pernyataan Operasi Clurit ini tidak melegalkan pembunuhan secara langsung namun faktanya dilapangan, pasca pencanangan Operasi Clurit, Ratusan mayat-mayat berserakan di jalan dan kebun sepanjang tahun 1983 sampai dengan 1985. Tidak ada yang menklaim tanggung jawab atas mayat-mayat tersebut namun pernyataan kontroversi dikeluarkan oleh Mayjen TNI Yoga Sugomo yang menjabat Kepala Bakin.

“merupakan kepentingan yang lebih besar daripada mempersoalkan penjahat yang mati misterius, dan persoalan-persoalan asas yang dipermasalahkan.” jelas Mayje TNI Yoga Sugomo.

Operasi Petrus

Operasi Petrus memiliki tujuan untuk menciptakan keamaan bagi warga sipil dengan cara meneror pada penjahat kecil seperti Preman, Garong, Maling dan Bandar Judi kelas kelas teri yang kala itu sangat meresahkan. Mereka yang dicurigai sebagai penjahat akan dijemput secara paksa oleh sekelompok orang lalu dibawa ke tempat sepi.

Para penjahat ini kemudian diikat dengan simpul Clove hitch salah satu simpul yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terlatih. Setelah mengalami penyiksaan mereka kemudian ditembak di bagian dada atau kepala sampai mati. Mayat mereka kemudian ditelantarkan begitu saja di emperan toko, dibantaran kali, parit atau di kebun-kebun milik warga.

Kisah Soeharto Penembakan Petrus Mayat
Bandeng Petrus

Kebanyakan warga banyak menemukan mayat yang mati dengan lukan tembakan yang diselipi amplop berisi uang 20 ribu rupiah. Tujuan uang ini sebagai biaya penguburan mayat yang diberi julukan sebagai mayat “Bandeng”. Mereka meregang nyawa tanpa diketahui siapa pelakunya.

Kematian para preman bertato atau penjahat dengan catatan hitam ini mencapai 532 orang tewas dengan 367 orang tewas dengan luka tembak pada tahun 1983 namun menurut Kontras angkanya lebih besar yakni sekitar 781 orang. 107 Tewas di jalan pada tahun 1984 dan tahun 1985 sebanyak 74 orang yang tewas.

Pengadilan jalanan ini menjadi cara paling mudah menumpas kejahatan jalanan dimana proses persidangan yang panjang dianggap kala itu terlalu mahal untuk mengadili para penjahat kelas teri yang ketika keluar dari penjara akan mengulang kembali perbuatan mereka.

Menguap Seperti Air

Pada era Orde Baru terumata pada tahun 1983 sampai dengan 1985, Pemerintah Orde baru kala itu memang benar-benar menguasai media. Semua berita dan media dibungkam untuk menyampikan informasi menganai Petrus ini.

Presiden Soeharto ingin agar masyarakat segera lupa dengan kejadian ini, bahkan ribuan orang yang mati tersebut tidak berhasil masuk dalam buku-buku sejarah. Bahkan surat dari Amnesti Internasional juga terkesan diabaikan oleh rezim orde baru.

Hanya saja dibalik kejamnya proses peradilan jalanan ini, Masyarakat justru merasakan dampak positif dari operasi ini. Angka kejahatan jalanan turun secara drastis, mereka yang memiliki catatan kejatahan bersembunyi jauh-jauh agar tidak menjadi salah satu dari “Bandeng” yang ditemukan dijalanan.

Para preman dan mereka yang memiliki Tatto berbondong-bondong menyeterika Tatto mereka karena kala itu Tatto memiliki asosiasi yang kuat dengan preman paling tidak ini adalah niali yang ada di Masyarakat. Mereka yang menjadi Bandeng yang dibungkus dengan karung lalu dibuang ke tempat sampah, dibiarkan busuk di depan emperan toko mayoritas memiliki Tatto.

Keadaan pasar dan jalan nyaris sunyi oleh begal, rampok dan garong, namun gerakan ini tentu saja dianggap melawan HAM dimana mereka yang memiliki catatan kejahatan juga manusia menurut Adnan Buyung Nasution, Ketua Yayasan LBH Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) 14 Maret 1983.

Beri tanggapan